21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Bayang-bayang Mafia di Balik Mahalnya Harga Beras

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

© Disediakan oleh Kumparan Beras impor dari Vietnam di Pelabuhan Tenau

Meski Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa Indonesia surplus beras 2,8 juta ton dan impor mencapai 1,7 juta ton pada 2018, harga beras tetap naik.

Pantauan kumparan, di awal Desember lalu harga beras medium di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) paling rendah dijual Rp 9.200 per kg, kemudian berangsur naik jadi Rp 9.500 per kg dalam kurun waktu satu bulan. Ada kenaikan sekitar Rp 300 per kg.

Sebagai pembanding, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium yang ditetapkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) adalah Rp 9.450 per kg. Namun, beras medium di PIBC paling murah Rp 9.500 per kg.

Produksi di dalam negeri sudah surplus, ditambah lagi ada impor, stok Bulog juga tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Lalu di mana masalahnya?

Sumber kumparan di pemerintahan menyebut bahwa ada mafia yang memainkan harga beras. Berdasarkan datanya, harga beras yang diimpor Bulog pada 2018 lebih mahal dari yang seharusnya, yakni mencapai USD 457 per ton ketika tiba di pelabuhan tujuan.

Ditambah bea masuk, PPh 2,5 persen, PPN, premi asuransi, biaya verifikasi, biaya karantina, ongkos bongkar muat dan sebagainya menjadi kurang lebih Rp 7.505 per kg. Belum lagi ada biaya sewa gudang dan biaya-biaya lainnya.

Padahal, harga beras Vietnam dan Thailand di pasaran dunia pada awal 2018 menurut data World Bank Commodities Price hanya USD 385 per ton. Artinya, beras impor yang dibeli Bulog lebih mahal sekitar USD 72 per ton atau sekitar Rp 1.044 per kg.

Sebagai pembanding lainnya, harga beras impor yang didatangkan Bulog pada awal 2016, masih menurut sumber kumparan, hanya USD 398 per ton. Ditambah berbagai biaya menjadi sekitar Rp 6.186 per kg.

© Disediakan oleh Kumparan Operasi Pasar Induk Beras Cipinang

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, mungkin saja Bulog membeli beras dari Vietnam dan Thailand dengan harga di atas rata-rata karena impor baru diputuskan pada pertengahan Januari 2018 dan Bulog diminta segera melaksanakannya. Waktu yang sempit membuat posisi tawar Bulog lemah dan tak punya banyak pilihan.

“Akhirnya Bulog dapat harga relatif lebih tinggi,” ujarnya kepada kumparan, Kamis (3/12).

Meski demikian, Dwi Andreas berpendapat bahwa harga beras masih tinggi bukan karena impor yang terlalu mahal. Menurutnya, kebijakan pemerintah mengganti sebagian besar bantuan beras sejahtera (rastra) dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang membuat harga naik.

Sebab, kurang lebih duapertiga beras yang tadinya disalurkan Bulog ke keluarga-keluarga miskin kini dialihkan ke pasar. Keluarga miskin sekarang juga membeli beras di pasar. Sementara Bulog masih melakukan penyesuaian, belum terbiasa dengan mekanisme penyaluran yang baru.

“Stok yang dilepas Bulog ke pasar masih rendah, sementara penyaluran rastra menurun drastis. Bulog mungkin perlu waktu untuk menyalurkan beras lewat mekanisme baru ke pasar. Sehingga (harga beras) ada tren kenaikan,” paparnya.

© Disediakan oleh Kumparan com-Stok Beras di Cipinang

Secara terpisah, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menjelaskan, pengadaan beras impor dilakukan dengan lelang terbuka. Ia menjamin bahwa lelang dilakukan dengan transparan dan akuntabel karena diawasi berbagai pihak, mulai dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga Satgas Pangan.

“Ya kita lelang di luar negeri sana. Dilelang terbuka yang ngawasin juga KPK, Satgas Pangan, ada juga dari Menko,” katanya.

Harga beras impor, menurutnya, sudah pasti lebih murah dibanding beras lokal. “Enggak mungkin lah harga impor lebih mahal,” ucapnya.

Namun Tri mengaku tak tahu persis berapa harga beras impor yang dibeli Bulog. “Kalau harga saya no comment karena saya bukan bidangnya yang impor Pak Bachtiar (Direktur Pengadaan Perum Bulog),” lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan bilang, pihaknya tak tahu menahu mengenai harga beras yang diimpor Bulog.

“Tanya Bulog sebagai lembaga yang ditugaskan impor. Kemendag hanya menerbitkan izinnya, Bulog eksekutornya,” kata dia.

Terkait harga beras yang naik hingga di atas HET walau stok aman dan impor mencapai 1,7 juta ton, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahya Widayanti yang dihubungi melalui pesan singkat dan telepon tak menjawab pertanyaan yang diajukan kumparan.(Michael Agustinus)

%d blogger menyukai ini: