21 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Lupa Pakai Pengaman? Jangan Panik, Ada Kontrasepsi Darurat

Berita ini diberdayakan untuk tirto.id 

Ilustrasi Postcoital. iStockphoto/Getty Images

Oleh: Aditya Widya Putri – 2 Januari 2019 Dibaca Normal 2 menit

Kontrasepsi darurat dapat mencegah risiko kehamilan antara 80-95 persen.

tirto.id – Ragam alat kontrasepsi pencegah kehamilan yang selama ini dikenal seperti pil atau injeksi KB, dan kondom umumnya digunakan sebelum aktivitas seksual berlangsung. Namun, ada juga jenis kontrasepsi yang bisa dipakai pasca-aktivitas seksual.

Menurut situs WebMD, kontrasepsi darurat (kondar) atau kontrasepsi post-coital bisa dipakai perempuan setelah melakukan hubungan seks tanpa kondom atau mengalami gangguan terkait alat pengaman, misalnya kondom yang sobek atau lepas saat aktivitas seks, Kondisi tersebut termasuk pada korban perkosaan, kondom putus atau lepas saat berhubungan seksual, atau tidak meminum pil KB dua kali atau lebih selama siklus bulanan. Kondar juga sangat berguna bagi korban perkosaan.

Ada dua jenis kondar, yakni yang berbentuk pil dan intrauterine device (IUD), atau yang lebih dikenal sebagai KB spiral. Kondar bukan metode pengendalian kelahiran teratur. Ia bekerja dengan cara menunda ovulasi. Kondar juga tidak melindungi perempuan dari penyakit menular seksual layaknya kondom.

Kondar jenis pil bekerja dengan cara memblokir sel telur agar tidak dilepaskan indung telur dan mengganggu kerja normal progesteron, hormon yang berperan mempersiapkan rahim sebagai tempat tumbuh janin.

“Efektivitas pil tergantung pada seberapa cepat ia diminum, setidaknya 72 jam setelah hubungan seksual,” tulis WebMD.

Konsumsi pil kondar 24 jam setelah hubungan seksual dapat mengurangi risiko kehamilan hingga 95 persen, sementara konsumsi dalam jangka waktu 72 jam mengurangi risiko hampir 90 persen. Semakin jauh jangka waktu konsumsi pil dari momen setelah pasca hubungan seksual, efekivitasnya juga semakin berkurang.

Kondar dalam bentuk IUD adalah kontrasepsi berbahan baku tembaga. Bentuknya seperti huruf ‘T’ yang dimasukkan di rahim. IUD berfungsi memblokir sperma agar tak masuk ke tuba falopi. Penanaman IUD dalam rahim harus dilakukan segera setelah hubungan seksual dilakukan, paling tidak 5-7 hari pasca-hubungan seks.

Efektivitas IUD lebih tinggi dibanding jenis pil dan bisa mencegah risiko kehamilan hingga 99 persen. Hanya kurang dari satu persen perempuan yang hamil ketika menggunakan metode kontrasepsi IUD. Jenis kontrasepsi darurat IUD juga direkomendasikan pada perempuan dengan masalah obesitas.

“Jenis pil tidak terlalu efektif pada kelompok perempuan dengan indeks massa tubuh lebih dari 30kg/m2,” terang WHO.

Plan B
Meski dapat mencegah risiko kehamilan, alat kontrasepsi darurat berupa pil tidak seefektif kontrasepsi umum yang digunakan pra-hubungan seksual. Kondar sebaiknya tidak digunakan secara rutin sebagai kontrasepsi utama, alih-alih cadangan saja. Karena faktor tidak rutin ini pula pil kondar sering disebut sebagai “Plan B”. Namun, kondar jenis IUD bisa digunakan seterusnya.

Menurut WebMD, kontrasepsi darurat memiliki efek samping yang cukup mengganggu, meliputi mual, muntah, sakit perut, kelelahan, sakit kepala, nyeri payudara, hingga menstruasi tak teratur. Pada dasarnya cara kerja kontrasepsi darurat adalah mengacaukan sistem hormon reproduksi. Walhasil, siklus menstruasi pun ikut kacau. Ada pula risiko pendarahan tak terduga.

“Jika dalam waktu tiga minggu periode normal siklus menstruasi tak kunjung datang, maka perlu dilakukan tes kehamilan,” demikian saran dari laman tersebut.

Menurut laman NHS, kontrasepsi darurat berupa pil aman dikonsumsi oleh perempuan menyusui. Meski sejumlah hormon yang terkandung dalam pil akan masuk pada ASI, namun kondisi tersebut dianggap tidak berbahaya bagi bayi. Hal yang sama berlaku pada IUD.

Namun sebagian produsen pil kondar seperti ellaOne menyarankan agar aktivitas menyusui dihentikan sementara selama seminggu pasca-konsumsi produk.

Beberapa hal harus diperhatikan ketika akan menggunakan kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan. Hal terpenting yang perlu digarisbawahi adalah penggunaan kontrasepsi darurat tidak menghentikan perkembangan janin ketika sel telur telah dibuahi dan tertanam dalam rahim. Artinya, penggunaan kontrasepsi darurat akan sia-sia ketika sudah terjadi pembuahan alias hamil.

“IUD juga tidak boleh ditanam ketika sudah terjadi kehamilan,” tulis NHS.

IUD juga memiliki risiko ketidakcocokan pada perempuan dengan kondisi infeksi menular seksual (IMS) yang tidak diobati, infeksi panggul, masalah rahim atau leher rahim, atau pendarahan vagina abnormal di sela masa menstruasi atau pasca-berhubungan seks.

Badan Obat-obatan dan Pangan AS (Food and Drug Administration/FDA) telah menyetujui penjualan kondar—terutama yang berbentuk pil—secara bebas. Namun, di Indonesia, konsumen harus menyertakan resep dokter saat membeli kondar. Situasi ini seringkali membuat produk kontrasepsi darurat sulit didapat, sampai-sampai perempuan berusaha mengakalinya dengan konsumsi pil KB berdosis ekstra.

“Dua kali dosis pil KB, dosis pertama diminum segera setelah aktivitas seksual, lalu dilanjutkan 12 jam kemudian pada dosis kedua,” tulis WebMd.

Baca juga artikel terkait ALAT KONTRASEPSI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri

(tirto.id – Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf

%d blogger menyukai ini: