3 Desember 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk viva.co.id

Perhelatan Pemilihan Presiden 2019 akan dilakukan kurang dari tiga bulan, 16 hari lagi. Dinamika politik dalam tahapan kampanye pun memanas. Kali ini, muncul usulan tes baca kitab suci Alquran untuk calon presiden dan calon wakil presiden.

Topeng bergambar Bakal Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Medan

© VIVA Topeng bergambar Bakal Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Medan

Usulan ini disuarakan Ikatan Dai Aceh. Tujuannya agar bisa mengetahui komitmen dalam syiar Islam dari pasangan capres dan cawapres yang bersaing memperebutkan kursi RI-1 serta RI-2.

Ketua Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishaq, mengatakan pihaknya menyampaikan usulan baca Alquran karena ingin mengambil peran dalam pesta demokrasi Pilpres 2019. Hal ini menyesuaikan Ikatan Dai Aceh yang mengkhususkan pada pengembangan dakwah dan syiar Islam.

Tes baca Alquran ini juga disebut untuk mengakhiri polemik siapa pasangan capres-cawapres yang menguasai dan memahami baca tulis Alquran. Rencananya, Ikatan Dai menggelar tes itu di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu, 15 Januari 2019.

Elite politik yang tergabung dalam tim sukses dua pasangan capres-cawapres merespons. Dua kubu saling beradu argumen. Dari pihak Tim Kampanye Nasional (TKN) yang merupakan timses pasangan nomor urut 01, Jokowi-Maruf Amin mendorong agar pesaing bisa memenuhi undangan tes tersebut.

Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto

© Disediakan oleh PT VIVA MEDIA Baru Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto

Sebaliknya, kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) yang notabene timses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mematahkan usulan tes baca Alquran. Alasannya, usulan ini tak urgent dan belum diakomodasi dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Begitupun, Peraturan KPU (PKPU) belum mengatur tes baca Alquran.

Juru Debat BPN, Sodik Mujahid menghormati usulan Ikatan Dai Aceh. Namun, tim BPN memberi sinyal Prabowo-Sandi tak akan memenuhi undangan tes membaca Alquran di Aceh. Sodik mengatakan membaca Alquran bukan syarat capres dan cawapres sehingga tak perlu dilakukan.

Bagi Sodik yang penting capres dan cawapres bisa mengamalkannya secara demokratis dan konstitusional di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Prinsip itu yang lebih penting bukan hanya mampu membacanya dalam Bahasa Arab. Tapi, kita hormati dan hargai atas ide dari Ikatan Dai Aceh,” kata Sodik, Senin, 31 Desember 2018.

Suara berbeda disampaikan kubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Juru Bicara TKN, Inas Nasrullah Zubir mengatakan usulan baca Alquran terkesan membuat pihak Prabowo tiba-tiba panik serta mulas. Bagi dia, berbagai argumen yang dilontarkan lawan malah menjadi tanda tanya.

Menurutnya, bila memang tak ada masalah, mestinya Prabowo-Sandi bisa memenuhi undangan tes baca Alquran.

“Kubu Prabowo tiba-tiba panik dan mulas begitu mendengar wacana yang digulirkan Ikatan Dai Aceh. Kenapa kubu Prabowo selalu panik ketika setiap acara ritual Islam dimunculkan dalam pilpres,” jelas Inas kepada VIVA, Senin, 31 Desember 2018.

Drama Elite Politik

Calon Presiden Joko Widodo (kanan) dan Prabowo Subianto (kiri) menunjukkan nomor urut Pemilu Presiden 2019 di Jakarta

© Disediakan oleh PT VIVA MEDIA Baru Calon Presiden Joko Widodo (kanan) dan Prabowo Subianto (kiri) menunjukkan nomor urut Pemilu Presiden 2019 di Jakarta

Munculnya wacana tes baca Alquran menjadi perhatian publik. Namun, isu ini dianggap tak penting karena tak menyentuh dengan kesulitan hidup masyarakat. Hal ini disampaikan pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio.

Merujuk penelitiannya bersama Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) masyarakat saat ini lebih memperhatikan isu ekonomi. Kata dia, contoh isu ini seperti harga kebutuhan sembako, ketersediaan lapangan pekerjaan, sampai masalah kepastian hukum.

“Itu saja yang dilihat masyarakat. Enggak sampai lah itu baca Alquran buat capres. Yang penting bagaimana itu masyarakat kenyang, bisa kerja. Program itu yang dicari,” kata Hendri kepada VIVA, Senin, 31 Desember 2018.

Dia menyayangkan dua kubu terjebak dengan isu terkait agama. Padahal, menurutnya, persoalan agama seperti baca Alquran adalah masalah individu. “Politik nasional sekarang enggak perlu direcoki dengan hal-hal seperti ini. Kan ini kayak drama elite politik saja,” jelas Hendri.

Hal senada dikatakan pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno. Ia menilai munculnya usulan perlunya tes baca Alquran menandai keanehan dalam pilpres kali ini. Kehebohan ditambah dengan adu argumen dari dua kubu yang tak mau kalah.

“Elite politik belakangan mulai aneh. Ribut hal yang tak ada kaitannya dengan kapasitas manajerial pemerintahan seperti tantangan ngaji,” ujar Adi kepada VIVA, Senin, 31 Desember 2018.

Adi heran dengan manuver timses dari dua kubu. Saling adu argumen yang tak berkualitas menurutnya membuat kualitas Pilpres 2019 menurun.

Seorang partisipan membentangkan baliho pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno saat peresmian rumah pemenangan di Surabaya, Jawa TImur

© Disediakan oleh PT VIVA MEDIA Baru Seorang partisipan membentangkan baliho pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno saat peresmian rumah pemenangan di Surabaya, Jawa TImur

Bagi dia, adu program di Pilpres 2019 berbeda dengan Pilpres 2014 dan Pilpres 2009. Seharusnya, dua timses tak terjebak dengan isu stagnan yang tidak berkaitan dengan program pemerintahan. Apalagi, kata dia, tantangan ngaji ini juga tak ada dalam syarat resmi KPU.

“Ironis, aneh. Mestinya tantangan ngaji tak usah diributin. Abaikan saja toh bukan syarat resmi KPU.

Menurun kualitasnya kali ini pilpres,” tutur Adi.

Narasi Politik Positif

Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) melakukan swafoto bersama Tim Kampanye Daerah (TKD) dan relawan di Palembang, Sumatera Selatan

© Disediakan oleh PT VIVA MEDIA Baru Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) melakukan swafoto bersama Tim Kampanye Daerah (TKD) dan relawan di Palembang, Sumatera Selatan

Kritikan disampaikan pula oleh Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini. Ia mengingatkan dua kubu mesti membangun narasi politik yang positif di ruang publik.

Titi menekankan semua pihak mesti fokus terhadap gagasan dan program dalam pilpres. Ia menilai meski dua pasangan capres dan cawapres sukarela ikut tes baca Alquran juga tak mengakhiri polemik antar-pendukung.

“Diskursus ini malah makin membelah antar-pendukung dan menjauhkan dari substansi yang kita kehendaki yaitu elaborasi visi, misi, dan program paslon. Narasi politik yang bagus harus dibangun,” jelas Titi kepada VIVA, Senin, 31 Desember 2018.

Pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) merespons usulan mengaji untuk capres dan cawapres. Komisioner KPU, Ilham Saputra menegaskan dalam UU, tak ada aturan syarat baca Alquran.

“Peraturan perundangan tidak mengatur soal itu. Dan, tidak menjadi syarat pencalonan,” tutur Ilham, Senin, 31 Desember 2018.

Namun, ia mempersilakan bila ada capres atau cawapres yang hadir memenuhi undangan Ikatan Dai Aceh. Tapi, ia mengingatkan hal ini pun tak punya pengaruh dalam syarat pencalonan. “Silakan saja mau hadir. Tapi, sekali lagi tidak mempengaruhi syarat pencalonan,” jelas Ilham.

Kontestan pun ikut bersuara. Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan akan mengikuti apapun keputusan KPU. Ia mengaku tak ada masalah soal ngaji Alquran. “Apapun keputusan KPU, kita ikuti saja dan tidak menjadi masalah buat saya,” tutur Sandi di Jakarta, Senin, 31 Desember 2018.

Sandi heran dengan polemik tes baca Alquran. Mestinya, ada forum yang meluangkan waktu untuk mendiskusikan persoalan ekonomi. Kata dia, kemunculan tes baca Alquran hanya permainan politik identitas.(Hardani Triyoga,Reza Fajri)

%d blogger menyukai ini: