5 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

IESR Prediksi Lifting Migas di 2019 Bakal Kembali Anjlok

Berita ini diberdayakan untuk tirto.id

Dirut PT Pertamina EP Rony Gunawan (kanan) bersama Dirut PT PDSI Lelin Eprianto (ketiga kanan) berbincang dengan pekerja saat berkunjungan ke sumur eksplorasi Pertamina EP Tapen II, Tuban, Jawa Timur, Jumat (22/7). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau pengeboran sumur eksloprasi yang diharapkan dapat berkembang menjadi sumur produksi minyak. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/Spt/16
Dirut PT Pertamina EP Rony Gunawan (kanan) bersama Dirut PT PDSI Lelin Eprianto (ketiga kanan) berbincang dengan pekerja saat berkunjungan ke sumur eksplorasi Pertamina EP Tapen II, Tuban, Jawa Timur, Jumat (22/7). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau pengeboran sumur eksloprasi yang diharapkan dapat berkembang menjadi sumur produksi minyak. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/Spt/16

Oleh: Hendra Friana – 21 Desember 2018Lifting migas Indonesia pada tahun 2019 diperkirakan akan kembali menurun.tirto.id – Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa memprediksi lifting migas Indonesia akan kembali menurun di tahun 2019. Sebab, kata dia, realisasi investasi yang dicanangkan pemerintah di sektor migas jauh dari target.

Hal itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk “Catatan Akhir Tahun 2018 dan 4 Tahun Nawa Cita Jokowi-JK di Sektor Energi, Migas dan Pertambangan” yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/12/2018).

“Realisasi sumur eksplorasi dari 104 yang direncanakan tahun ini hanya kira-kira 18 sampai tahun kemarin yang dibor. Untuk sumur eksisting realisasi 70 persen dari target, dan sumur pengembangan juga jauh dari target. Kuat dugaan 2019 migas kita akan anjlok,” kata Fabby.

Baca juga: Arcandra: Dua Kontrak Blok Migas Pindah ke Gross Split di Awal 2019
Fabby menilai pengelolaan sektor migas dalam negeri belum menarik bagi investor. Misalnya, kata dia, penerapan skema gross split menyurutkan investor untuk melakukan eksplorasi migas di Indonesia.

Gross split memang cocok untuk lapangan mature makanya sebagian besar yang sign[teken] kontak adalah lapangan mature,” ujar Fabby.

Mengacu pada data SKK Migas dalam 10 tahun terakhir, produksi minyak dalam negeri memang terus menurun. Pada 2008, lifting minyak tercatat 926 ribu barel per hari (bph), capaian ini secara terus-menerus turun hingga 803,8 ribu barel per hari pada 2017. 

“Kalau dilihat, ada faktor yang sifatnya sangat struktural dan tidak dibenahi secara benar,” kata dia. 

“Inkonsistensi dalam peraturan atau regulasi. Cadangan migas ada di laut dalam, iklim investasi kita kan 10 tahun terakhir tidak menarik [jika] dibanding Malaysia dan negara lain,” dia mengimbuhkan.

Baca juga: Arcandra Bantah Skema Gross Split Bikin Lelang Blok Migas Tak Laku
Baca juga artikel terkait EKSPLORASI MIGAS atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id – Ekonomi) 

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Addi M Idhom

%d blogger menyukai ini: