1 Desember 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menelisik Asal-usul Nama Orang Bali dan Fakta Unik di Baliknya

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Hari Raya Galungan

© Disediakan oleh Kumparan Hari Raya Galungan

Saat pergi ke Bali, kamu pasti tidak asing mendengar nama-nama seperti Wayan, Ketut, atau Made. Saking populernya, kamu bisa menemukan dua hingga tiga orang yang berbeda namun menggunakan nama yang sama di sebuah tempat. 

Mungkin bagi kamu yang bukan orang Bali atau tidak berdomisili di Bali, penggunaan nama-nama yang sama itu menimbulkan tanda tanya. Ini karena jumlah nama tertentu cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah. 

Nama-nama tersebut bahkan masih digunakan juga oleh orang-orang keturunan Bali yang tidak lagi bertempat tinggal di Pulau Dewata. Menurut travel blogger Kadek Arini, penggunaan nama khas seperti itu adalah sebuah tradisi. 

“Kalo sebagai Hindu Bali, sih, kita sangat menganut (prinsip) ‘mempertahankan tradisi supaya tidak punah’. Jadi secara umum, ada kebebasan untuk ikut (tradisi) atau enggak, tapi kebanyakan orang Bali lebih memilih mengikuti tradisi,” katanya saat dihubungi kumparanTRAVEL pada Kamis (27/12).

Setali tiga uang dengan Kadek, Desak Putu Virginia Wulandari, karyawan di salah satu hotel di Bali juga menganggap penggunaan nama khas Bali merupakan cara masyarakat Bali dalam mempertahankan budayanya. 

“Yang paling penting, tetap mempertahankan budaya Bali dengan tetap menggunakan nama Bali,” tuturnya saat dihubungi pada Kamis (27/12) melalui pesan singkat Whatsapp. 

Dihimpun dari berbagai sumber, ada tiga faktor yang mempengaruhi nama yang digunakan oleh orang Bali. Disimak bersama, yuk.

1. Jenis Kelamin

Hari Raya Galungan

© Disediakan oleh Kumparan Hari Raya Galungan

Nama yang digunakan orang Bali setidaknya memiliki dua kata, yaitu kata sandang yang menunjukkan jenis kelamin dan urutan kelahiran. Berdasarkan jenis kelamin, ada dua nama yang digunakan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. 

Anak laki-laki biasanya diberi nama awalan I, misalnya saja I Gede atau I Made. Sedangkan anak perempuan akan diberi nama awalan Ni, misalnya Ni Putu, Ni Desak, dan sebagainya. 

Meski begitu, pemberian nama berdasarkan jenis kelamin bukanlah suatu keharusan, tapi menjadi opsional, atau tergantung pilihan orang tua. Sebab, ada nama-nama lainnya sesuai kasta yang bisa secara langsung memperlihatkan jenis kelamin anak berdasarkan namanya. 

2. Urutan Kelahiran

Ilustrasi Kalender

© Disediakan oleh Kumparan Ilustrasi Kalender

Kata kedua yang mengikuti nama awalan berdasarkan jenis kelamin adalah nama yang mengacu pada urutan kelahiran. Nama ini pula yang menjadi alasan mengapa nama orang Bali memiliki banyak kemiripan satu dengan yang lain. 

Terutama karena nama yang digunakan sesuai urutan kelahiran juga dijadikan sebagai nama panggilan. Masyarakat Bali memiliki empat nama dengan berbagai versi yang menjadi penanda urutan kelahiran. 

Anak pertama dalam keluarga diberi nama Wayan, yang berasal dari kata ‘Wayahan’, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tertua atau lebih tua. Versi lainnya yang bisa kamu gunakan selain Wayan adalah Gede atau Gde yang memiliki arti ‘besar atau lebih besar’. 

Meski lebih merujuk pada laki-laki, nama Gede juga bisa diberikan pada anak perempuan. Biasanya orang Bali menyematkan Luh sebelum nama Gede, sehingga menjadi Luh Gede yang berarti anak perempuan paling besar, biasanya digunakan untuk anak pertama. 

Nama lainnya yaitu Putu, yang berarti cucu. ini menggunakan kata Putu sebagai penanda urutan kelahirannya. Untuk anak kedua, orang-orang Bali biasanya akan memberikan nama Made. 

Kata Made berasal dari kata ‘Madya’ yang berarti tengah. Di beberapa daerah di Bali, ada yang menggunakan nama lain seperti Kade, Kadek, atau Nengah sebagai pengganti kata Made. Travel blogger Kadek Arini misalnya, dari nama yang ia miliki, kamu dapat mengetahui bahwa ia merupakan anak kedua. 

Sedangkan untuk anak ketiga diberi nama Nyoman atau Komang. Kedua nama ini berasal dari kata ‘Anom’ yang berarti muda atau kecil. Namun ada pula dugaan bahwa secara etimologis, kata Nyoman dan Komang berasal dari kata ‘Uman’ yang berarti sisa atau akhir. 

Anak keempat kemudian akan diberi nama Ketut, yang berasal dari kata ‘Ke’ dan ‘Tuwut’, yang memiliki makna mengikuti atau mengekor. Jika sebuah keluarga memiliki anak lebih dari empat, maka anak kelima hingga seterusnya akan mengulang siklus nama yang sama dimulai dari Wayan hingga Ketut sesuai jumlah anaknya. 

3. Wangsa atau Kasta dalam Masyarakat

Tradisi Jempana pada Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali

© Disediakan oleh Kumparan Tradisi Jempana pada Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali

Selain jenis kelamin dan urutan kelahiran, faktor kasta atau wangsa dalam lapisan masyarakat turut mengambil peran dalam nama orang Bali. Pada kumparanTRAVEL, Kadek Arini mengungkapkan bahwa di masa kini, wangsa atau kasta tak lagi berfungsi secara penuh. 

“Kalau kasta udah enggak berlaku secara kedudukan. Tapi, kalau secara silsilah keluarga masih dipakai. Khususnya untuk ngasih nama anak, untuk menunjukkan bahwa ada keturunan raja, tapi secara fungsi, sih, sudah enggak berlaku,” ungkap wanita yang kini berdomisili di Bekasi ini. 

Misalnya saja, wangsa Brahmana atau yang merupakan keturunan dari pendeta akan diberi nama Ida Ayu (bagi perempuan) dan Ida Bagus (untuk laki-laki). Biasanya, Ida Ayu kemudian disingkat pula untuk memudahkan pengucapan menjadi Dayu. 

Untuk tingkatan wangsa kedua, yaitu Kesatria, ada banyak gelar yang bisa disematkan pada anak laki-laki atau perempuannya. Sebab kasta Kesatria bukan hanya terbatas pada keturunan raja saja, tapi juga anak-anak raja yang tidak menjadi raja, pembantu kerajaan seperti abdi dalem, dan juga para pendekar. 

Beberapa contoh nama bagi anak laki-laki yang diperuntukkan untuk wangsa Kesatria antara lain Dewa, Anak Agung, Cokorda, Ngakan, Bagus, dan Sang. Sedangkan untuk anak perempuan, biasanya menggunakan nama Ayu, Desak, Istri atau Sakti. 

Desak Putu Virginia Wulandari, atau yang lebih akrab dipanggil Wulan misalnya. Melalui nama awalannya, kamu dapat mengetahui bahwa ia masih merupakan keturunan dari wangsa Kesatria.

Wangsa atau kasta selanjutnya adalah Waisya. Waisya merupakan kelompok masyarakat di luar istana yang berfungsi untuk menggerakkan ekonomi, pembangunan dan perindustrian. Misalnya saja saudagar, penguasa, atau pedagang. 

Hanya saja, di masa kini, karena tidak berada di dalam lingkungan kerajaan, meski memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari Sudra, wangsa Waisya kerap disamakan dengan Sudra. Sehingga mereka dianggap tak lagi punya kasta dan tidak wajib memasukkan gelar sebagai nama awalan.

Walau begitu, setidaknya ada tiga nama yang kerap digunakan oleh masyarakat Hindu Bali, yaitu Gusti, Gusi, dan Si. Sehingga dalam membuat penamaan, mereka bisa saja hanya mengombinasikan urutan lahir, jenis kelamin, dan nama lain yang diinginkan bagi anak-anaknya. Unik ya? (Bella Cynthia Ratnasari)

%d blogger menyukai ini: