1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

WHO: Polusi Bunuh 1,7 Juta Anak Setiap Tahun

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Anak terdampak polusi.

© Disediakan oleh Kumparan Anak terdampak polusi.

Polusi sangat berdampak pada kesehatan manusia, tak terkecuali anak-anak. Menurut dua laporan yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret 2018, paparan polusi lingkungan telah membunuh 1,7 juta anak di bawah usia 5 tahun setiap tahunnya.

Satu dari empat kematian anak di bawah 5 tahun disebabkan oleh bahaya polusi lingkungan di dalam maupun luar ruangan, termasuk kontaminasi air dan sanitasi yang buruk. Laporan yang pertama menyebutkan beberapa penyakit paling umum penyebab kematian anak, yaitu diare, malaria, dan pneumonia, dapat dicegah melalui penyediaan akses air bersih dan bahan baku makanan yang dimasak dengan bersih sebagai upaya lain untuk mengurangi risiko.

Anak terdampak polusi.

© Disediakan oleh Kumparan Anak terdampak polusi.

Sementara laporan kedua, menyebut detail dampak pencemaran lingkungan telah menyebabkan kematian pada anak.

“Lingkungan yang tercemar adalah sebab kematian nomor satu terutama untuk anak-anak,” kata Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan. “Organ mereka sedang berkembang, lalu sistem kekebalan, lalu saluran udara dan tumbuh masih kecil, membuat mereka rentan terhadap udara serta air kotor.”

Masih menurut laporan kedua, sebanyak 570.000 anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahun karena infeksi pernapasan terkait dengan polusi udara serta asap di dalam dan luar ruangan. Kemudian ada 361.000 yang meninggal setiap tahun akibat diare dan sanitasi yang buruk, isu kebersihan, dan keterbatasan akses terhadap air minum yang aman.

Selain itu, sebanyak 200.000 kematian disebabkan karena malaria yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengontrol kembang biak nyamuk serta mengelola air yang lebih baik. WHO memberi penjelasan bahwa efek jangka panjang dari pencemaran lingkungan dapat berpengaruh pada anak-anak. Mereka yang terpapar polusi udara berisiko tinggi terkena pneumonia dan masalah pernapasan kronis, seperti asma.

Polusi asap berbahaya di India

© Disediakan oleh Kumparan Polusi asap berbahaya di India

WHO juga menjelaskan bahwa peningkatan volume sampah elektronik dari ponsel dan perangkat lain dapat mengekspos racun yang dikaitkan pada penurunan kecerdasan, kerusakan paru-paru, serta kanker. Volume tersebut diprediksi mencapai 50 juta metrik ton pada tahun 2018 atau tumbuh 19 persen dibandingkan tahun 2014.

Perubahan iklim meningkatkan faktor risiko berbahaya bagi kesehatan. Peningkatan kadar karbon dioksida telah menyebabkan meningkatnya serbuk sari tanaman yang terkait dengan asma di kalangan anak-anak. WHO mencatat sekitar 11 sampai 14 persen anak di bawah 5 tahun di dunia saat ini menderita gejala yang berhubungan dengan asma, dan 44 persen dari kasus-kasus itu disebabkan oleh faktor lingkungan.

Untuk mengurangi risiko ini, WHO meminta pemerintah di berbagai negara untuk menekan polusi udara di dalam maupun luar ruangan, lalu melindungi ibu hamil dari paparan asap, juga menyediakan air serta sanitasi bersih.( Yufienda Novitasari )

%d blogger menyukai ini: