1 Desember 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Taktik Mafia Bola Menipu Persibara untuk Naik ke Liga 2

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Persibara

© Disediakan oleh Kumparan Persibara

Pengaturan skor di sepak bola nasional ternyata bukan isapan jempol semata. Terbongkarnya aksi di Banjarnegara menjadi awal dari terungkapnya pengaturan skor oleh Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola bentukan Polri. 

Tak tanggung-tanggung, sebanyak tiga orang ditetapkan sebagai tersangka yakni Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, dan Johar Lin Eng. Ketiga terbukti menerima suap dari klub Liga 3 Persibara Banjarnegara dengan iming-iming promosi ke Liga 2 2019. 

Eks manajer Persibara, Lasami Indaryani, menyebut Priyanto dan Tika telah merencanakan sejak awal untuk menipu dirinya dan ayahnya yang merupakan Bupati Banjarnegara, Budi Sarwono, terkait kasus dugaan pengaturan skor.

Lasmi menyatakan dugaan tersebut muncul ketika dirinya mengetahui Tika–sapaan Anik–yang menjadi asistennya selama menjadi manager, rupanya bukan putri dari Priyanto, meski polisi sempat menyatakan keduanya merupakan ayah dan anak.

Pengaturan Skor

© Disediakan oleh Kumparan Pengaturan Skor

“Jadi ‘kan memang udah nyusup gitu loh, masuk ke saya (jadi asisten), sengaja untuk kompor (memanas-manasi),” ujar Lasmi kepada kumparan, Jumat (28/12/2018).

Menurut Lasmi, keberadaan Tika sebagai asistennya berperan untuk mendorongnya supaya mau membayarkan sejumlah uang dan mengikuti syarat-syarat tertentu agar Persibara lolos ke babak 32 besar Liga 3 Indonesia (nasional).

Berdasarkan penuturan Tika, kata Lasmi, untuk mencapai target tersebut, ia dan Budi Sarwono harus memberikan sumbangsih kepada PSSI Pusat. Lasmi menyatakan hingga saat ini telah menghabiskan ratusan hingga miliaran rupiah.

“Dia (Tika) bilang harus ada sumbangsih untuk PSSI Pusat, nyatanya setelah saya bayar dan saya jadi manajer Timnas Putri U-16 dan saya keluar banyak (uang) juga, boro-boro (Persibara) naik kasta, babak 32 besar aja kita dihabisi (laga terakhir Persibara vs Persedikab. Kediri),” ujarnya.

Lasmi yang merasa tertipu habis-habisan kemudian meminta kepada Tika untuk mengembalikan uang yang telah diberikannya, lantaran tidak sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan. Akan tetapi, Lasmi justru mendapatkan rincian dari Tika yang isinya menjelaskan kemana saja aliran dana yang dikucurkan selama ini. 

Tika bahkan kembali menawarkan kepada Lasmi agar Persibara menjadi tuan rumah babak 32 besar Liga 3 di Magelang dengan mahar Rp 500 juta – Rp 600 juta. 

“Awal kita menolak karena untuk apa tuan rumah kok di Magelang. Akhirnya, Tika bilang bahwa dibolehkan di Banjarnegara dengan biaya lebih murah,” ucap Lasmi.

Saat itu, Tika pun memberikan rincian untuk bisa menjadi tuan rumah, dirinya harus memberikan deposit sebesar Rp 225 juta. Lasmi pun mengadukan hal itu kepada Johar Lin Eng sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah.

“Ya, waktu itu kami hanya berniat mengadu kepada Asprov. Tapi kok tidak ditindak-tindak. Pak Johar hanya minta maaf dan mengaku tidak tahu kelakuan anak buahnya,” katanya. 

Usai dihubungi Johar, Tika kemudian mengajak Lasmi dan Budi Sarwono yang kemudian diterima oleh Tika di kediamannya. Saat itu, Tika menyebut ada penawaran jika bersedia, maka uang akan dikembalikan.

“Kami bilang, kamu (Tika) mau bayar berapa pun tidak akan bisa membayar harga diri kami. Kamu berarti ‘kan udah berniat nipu, udah masuk ke sini (Persibara) tapi kami malah dipermainkan,” ucap Lasmi.

Sejak pertemuan itu, Lasmi mengaku tidak pernah lagi berkomunikasi baik dengan Johar Lin Eng, Priyanto maupun Tika. Namun, dengan kabar ditetapkannya mereka sebagai tersangka, Lasmi mengucap syukur.

Sebelumnya, Tim Satgas Antimafia Bola menangkap dua orang anggota Exco PSSI dan seorang perempuan atas dugaan kasus pengaturan skor. Ketiganya dikenakan pasal penipuan, penggelapan dan suap.( Afiati Tsalitsati )

%d blogger menyukai ini: