12 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cerita Nelayan di Tengah Laut Saksikan Tsunami Dahsyat Terjang Daratan

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Foto udara, letusan gunung, Anak Krakatau, Selat Sunda

© Disediakan oleh Kumparan Foto udara, letusan gunung, Anak Krakatau, Selat Sunda

Jumani (38), sedang mencari ikan bersama tiga rekannya di tengah laut perairan Kunjir, dekat Rajabasa, Lampung Selatan, saat melihat dengan jelas Gunung Anak Krakatau menunjukkan semburan lava yang menyala-nyala.

Dari kapal kayu itu, dia melihat Anak Krakatau menyemburkan api sebanyak tiga kali. Setelah itu, tiba-tiba gunung berhenti menyembur, dan beberapa menit tidak mengeluarkan aktivitas seperti biasanya. 

“Sekitar lima menit berhenti,” kata Jumani saat ditemui di Pegunungan Rajabasa, Lampung Selatan, Kamis (27//12) dilansir Antara.

Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau

© Disediakan oleh Kumparan Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau

Seketika itu tiba-tiba muncul gelombang air laut dari arah barat Gunung Anak Krakatau mengarah daratan Lampung. Jumani memperkirakan, dari pengamatannya tinggi ombak itu sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 15 meter.

“Datang gelombang air dari arah barat dengan ketinggian 15 meter. Saya kemudian langsung teriak memberi isyarat kepada warga bahwa ada tsunami. Saya tahu teriakan saya pasti tidak terdengar, tapi saya berupaya agar ada yang mendengar,” ucap Jumani.

Gelombang tsunami dengan cepat menyapu bibir pantai sebanyak tiga kali dengan ketinggian yang sangat dahsyat.

Saat gelombang pertama berlalu, air laut dalam keadaan surut sedalam 7 meter. Pada kedua kalinya, gelombang tsunami kembali menyapu bibir pantai dengan ketinggian melebihi dari gelombang pertama.

“Saat saya berada di tengah air surut sampai 7 meter. Kemudian keluar air dari karang. Tapi untuk kedua dan ketiga kalinya ini, gelombang laut menyapu dari arah tengah tempat surutnya air itu. Saya dari tengah laut dekat Gunung Rajabasa tidak kelihatan lagi saking tingginya,” terangnya.

Kondisi Desa Way Muli, Rajabasa, Lampung Selatan

© Disediakan oleh Kumparan Kondisi Desa Way Muli, Rajabasa, Lampung Selatan

Gelombang tinggi tsunami itu menghancurkan tiga desa yaitu Sukaraja, Kunjir, dan Way Muli. “Tiang listrik yang ada di pinggir jalan tertutup dengan gelombang laut,” kata Jumani.

Kejadian tersebut hanya berlangsung selama 30 menit. Saat terjadi tsunami, dia berada di tengah laut sekitar pukul 21.00 WIB hingga berakhir gelombang laut pada pukul 21.30 WIB.

“Saat kejadian saya menangis memikirkan ibu saya di rumah yang sedang sakit, tapi alhamdulillah sekali 20 anggota keluarga semuanya selamat. Hanya rumah saja yang hancur,” kata dia.

Perahu nelayan, gelombang tsunami di Desa Kenali, Rajabasa, Lampung Selatan

© Disediakan oleh Kumparan Perahu nelayan, gelombang tsunami di Desa Kenali, Rajabasa, Lampung Selatan

Tak Ada Dentuman Gunung Krakatau

Warga lainnya yang selamat dari tsunami, Rowiyah, memberi kesaksian saat kejadian tsunami pada Sabtu (22/12) malam, Gunung Anak Krakatau justru tidak mengeluarkan suara dentuman seperti biasanya.

Tak hanya Rowiyah, beberapa warga di pengungsian yang berada di atas perbukitan di Rajabasa, Lampung Selatan, menyebut gunung biasanya selalu mengeluarkan suara dentuman atau gemuruh yang dapat didengar warga sekitar pesisir. Bahkan, di wilayah mereka mengakibatkan kaca-kaca di rumah juga bergetar. Tapi malam ini tak ada dentuman.

“Angin dari hempasan ombak di laut sangat kencang terasa,” kata Rowiyah, salah satu warga itu di pengungsian.

Menurutnya, malam itu Anak Krakatau hanya mengeluarkan lava pijar yang justru nampak indah dan dapat dilihat oleh warga sekitar pesisir pantai sekitarnya.

Enyak, pengungsi lainnya mengatakan, ketika lava pijar itu keluar, tidak ada yang menduga akan berefek pada peristiwa tsunami yang kemudian mereka alami. Pada malam kejadian itu pun kebanyakan warga sekitar sedang bersantai di rumah dan pondok-pondok pinggir laut menikmati malam seperti biasanya.

“Ketika Anak Krakatau mengeluarkan lava, banyak warga di luar malah ada yang berselfie, karena pemandangannya memang indah,” tambahnya.

Foto udara, letusan gunung, Anak Krakatau, Selat Sunda

© Disediakan oleh Kumparan Foto udara, letusan gunung, Anak Krakatau, Selat Sunda

Namun gelombang tsunami yang menerpa pesisir Selat Sunda termasuk di Kabupaten Lampung Selatan ini, mengakibatkan ratusan jiwa tewas, banyak korban terluka, dan banyak pula rumah, kapal nelayan, dan fasilitas publik rusak maupun hancur.

Tsunami disebabkan longsoran Gunung Anak Krakatau yang memicu gelombang tinggi hingga menerpa kawasan pesisir di Selat Sunda, di Provinsi Lampung dan Banten.

Data hingga Selasa (25/12), BNPB mencatat sebanyak 430 orang meninggal dunia, 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.082 orang mengungsi akibat tsunami.(Muhammad Iqbal)

%d blogger menyukai ini: