21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Meneladani Toleransi di Kampung 3 Agama di Bekasi

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Sejak merdeka, Indonesia mendeklarasikan diri sebagai negara republik dengan masyarakat yang heterogen. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mempertegas bahwa Indonesia sangat menghargai perbedaan, termasuk perbedaan keyakinan.Hal ini dipertegas dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat (2) yang menyebutkan: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.Sayangnya puluhan tahun setelah merdeka, konflik SARA justru banyak memicu prahara. Tak perlu jauh-jauh ke konflik Poso yang terjadi di tahun 1998-2000. Di era milenial yang kaumnya dikenal moderat dan terbuka, konflik akibat perbedaan agama masih terjadi.Salah satu kasus besar yang menyebabkan korban jiwa adalah konflik di Tolikara, Papua, pada 2015. Puncaknya, terjadi penyerangan yang menyebabkan puluhan bangunan termasuk musala hangus terbakar, bertepatan dengan pelaksanaan salat Idul Fitri.Kemudian kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2016 yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan berujung penjara 2 tahun. Kasus ini berbuntut pada Aksi Bela Islam 212 dan gelombang aksi-aksi akbar berikutnya.

Pada Februari 2018 di Yogyakarta, jemaat Gereja Santa Lidwina yang sedang menjalankan ibadah misa mingguan diserang oleh seorang pria. Penyerangan ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.Tiga bulan setelahnya, bom bunuh diri terjadi di 3 gereja di Surabaya dan memakan banyak korban yang tak bersalah. Parahnya pelaku aksi bom bunuh diri tersebut melibatkan istri dan anak-anak mereka.

Deretan kasus tersebut hanya sekelumit dari konflik antaragama yang terjadi di Indonesia. Padahal negeri ini mengakui adanya 6 agama dan 187 aliran kepercayaan.Namun di tengah ketegangan tersebut, ada satu kampung teladan yang tak jauh dari Ibu Kota, yakni Kampung Sawah di Bekasi, Jawa Barat. Sejak tahun 1896 atau satu abad yang lalu, puluhan ribu warga di kampung ini hidup rukun meski berbeda agama. Mayoritas penduduk di sana menganut agama Islam (24.903 jiwa), lalu Katolik (7.123 jiwa), dan Kristen (4.716 jiwa). Dua agama lainnnya Budha dan Hindu juga ada, hanya saja jumlahnya lebih sedikit.

Mereka terbiasa saling membantu termasuk saat masing-masing pemeluk agama sedang menggelar hari raya. Banyak warga lintas agama yang bersahabat sejak kecil hingga dewasa. Para pemuka agama di Kampung Sawah juga saling menjaga komunikasi mereka dan tak pernah terlibat konflik serius. “Sejak turun temurun, sejak dahulu kala sudah diberikan warisan yaitu menjaga kerukunan juga toleransi antar umat beragama yang ada di Kampung Sawah dan itu dari masa ke masa terus kita pelihara,” kata Ketua pengurus Gereja Kristen Pasundan Kampung Sawah, Feri Talumepa.Tak hanya itu, ada juga suami-istri yang menjalani rumah tangga beda agama selama 50 tahun lebih. Anak-anak mereka juga menganut agama yang berbeda-beda. Tentu pernah terjadi konflik di keluarga itu, namun mereka selalu bisa mengatasinya.

Warga Kampung Sawah tak pernah terusik isu konflik antaragama yang terjadi di daerah-daerah lain. Mereka begitu menjunjung tinggi toleransi.“Orang-orang luar yang datang ke Kampung Sawah kalau mereka minum air Kampung Sawah, makan makanan yang ada di Kampung Sawah, maka mereka harus mengikuti tradisi, adat istiadat yang ada di Kampung Sawah. Termasuk bagaimana masyarakat selama ini sudah melakukan proses kerukunan,” kata Tokoh Masyarakat Muslim Kampung Sawah, Solahudin Malik.Bukankah seharusnya kedamaian yang demikianlah yang tercipta di Nusantara? Lantas apa sebenarnya kunci toleransi di Kampung Sawah? Mungkinkah diadopsi di daerah-daerah lain?Simak selengkapnya konten spesial dalam topik Toleransi di Kampung Sawah.

%d blogger menyukai ini: