21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kisah WNI Kunjungi Xinjiang: Tidak Seperti yang Diberitakan

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Iman Brotoseno

© Disediakan oleh Kumparan Iman Brotoseno

Warga negara Indonesia yang pernah mengunjungi Xinjiang mengatakan wilayah yang dihuni Muslim Uighur di China itu tidak seperti yang diberitakan. Dia melihat sendiri warga Uighur masih bebas beribadah, termasuk berpuasa di bulan Ramadan.

Hal ini disampaikan Iman Brotoseno ketika mengisahkan kunjungannya ke Urumqi, ibu kota Xinjiang, di bulan Ramadan tahun lalu kepada kumparan, Selasa (25/12). “Ketika saya ke sana, saya tidak melihat seperti yang diberitakan. Jauh berbeda dari yang diisukan di tanah air,” kata Iman.

“Isu yang paling jelas, Muslim di Xinjiang tidak boleh ibadah, solat Jumat, tidak boleh puasa. Saya ke sana bulan Ramadan, bisa berpuasa, tarawih juga di sana. Saya melihat sesuatu yang berbeda dengan apa yang digemborkan media,” lanjut sutradara film 3 Srikandi ini.

Iman mengatakan, dia berada selama sekitar dua minggu di Xinjiang atas undangan perusahaan teknologi China. Selama di provinsi itu, dia ditemani oleh pegawai pemerintahan Urumqi.

Sekolah Dasar Xinjiang

© Disediakan oleh Kumparan Sekolah Dasar Xinjiang

China memang tengah giat mengundang para tokoh dan jurnalis dari negara-negara Asia dan Afrika. Undangan ini adalah demi mempromosikan visi China membangun kembali Jalur Sutra dalam skema ambisius One Belt One Road (OBOR).

Xinjiang termasuk salah satu wilayah yang dilalui jalur perdagangan klasik tersebut. Belakangan nama Xinjiang menjadi pemberitaan, terutama akibat laporan media dan lembaga HAM terkait penjara bagi jutaan umat Islam Uighur.

Di Urumqi, Iman juga mengunjungi Akademi Islam Xinjiang, tempat warga Muslim menimba ilmu. Di tempat ini, dia melihat warga Uighur tidak seperti yang diberitakan, masih bisa berjenggot 

“Saya melihat normal-normal saja. Santri-santri biasa,” kata Iman.

Rektor Akademi Islam Xinjiang (NOT COVER)

© Disediakan oleh Kumparan Rektor Akademi Islam Xinjiang (NOT COVER)

Soal keamanan, dia melihatnya sama seperti di Jakarta. Metal detektor di mal-mal dan beberapa tentara di ruas jalan, tidak terlalu mencolok. Iman juga berbincang sedikit dengan warga sekitar.

“Tidak seseram yang kita bayangkan,” ujar Iman.

Pengalaman berbeda disampaikan oleh WNI lainnya, Shiwa -bukan nama sebenarnya- ketika mengunjungi Xinjiang..

Shiwa mengunjungi kota Urumqi, Yi Ning, dan Khorgos. Dia sempat berbicara dengan wartawan setempat soal kehidupan di Uighur.

“Orang Uighur yang kerja di pemerintahan tidak boleh puasa. Masjid juga tidak boleh pakai toa karena dianggap mengganggu,” kata Shiwa saat dihubungi kumparan.

Universitas Xinjiang (NOT COVER)

© Disediakan oleh Kumparan Universitas Xinjiang (NOT COVER)

“Kata wartawan lokal, memang ada kamp (konsentrasi) tapi tidak tahu di mana,” lanjut Shiwa.

Salah satu pengalaman yang menegangkan bagi Shiwa adalah ketika salat Jumat. Dia harus melalui detektor logam dan menunjukkan paspor. 

“Seketika pula, pandangan mata warga setempat tertuju pada saya. Mungkin karena saya berbeda,” kata Shiwa kepada kumparan.

Xinjiang memang merupakan zona panas bagi China karena gerakan separatis yang melancarkan serangan. Separatisme ini yang disebut membuat China melakukan represi terhadap masyarakat Uighur.

Separatisme ini, yang menurut Iman membuat Xinjiang seperti Papua. “Saya melihatnya seperti Papua. Mereka berbeda dengan kita, agama beda, etnis beda. Di situ juga ada yang ingin memisahkan diri, separatisme,” ujar Iman.

Iman mengatakan, pemerintah China hanya mencoba memberantas ekstremisme dan radikalisme. 

“Mereka yang menjalankan Islam secara moderat, normal-normal saja, tidak ada masalah,” lanjut Iman.(Denny Armandhanu)

%d blogger menyukai ini: