28 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Ini 10 Tren Teknologi Asisten Virtual 2019

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co 

Perusahaan teknologi Ericsson menerbitkan laporan tentang prediksi tren teknologiasisten virtual 2019. Laporan berjudul ’10 Hot Consumer Trends Tahun 2019′ itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Ericsson dan dirilis pada 12 Desember 2018.

foto

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Penelitian ini dilakukan pada Oktiber 2018 dengan 5.000 responden advance internet user di beberapa kota di dunia seperti London, Tokyo, Shanghai, Sydney dan beberapa kota lain.

“Sayangnya, Indonesia tidak masuk dalam sampel,” ujar Customer Marketing Manager Ericsson Indonesia Thomas Vidorrekto, di Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018.

Berikut 10 prediksi tren penggunaan teknologi pada 2019:

1. Awareables

Terdapat lebih dari 60 persen pengguna asisten virtual percaya bahwa, perangkat yang bisa memahami suasana hati mereka akan menjadi mainstream dalam waktu tiga tahun ke depan. Bisa dibayangkan, kata Vidor, misalnya smartphone bisa medeteksi saat penggunanya sibuk dan secara otomatis bisa menjadi silent mode.

“Bayangkan smartphone bisa kenal lebih tentang kita, 6 dari 10 reponden pengguna virtual sistem berfikir smart device itu akan bisa mendeteksi dan bereaksi sesuai dengan mood dalam 3 tahun. Bahkan terdapat 56 persen menginginkan smart speaker bisa mengecilkan suaranya jika diperluakan,” kata Vidor.

Ketika smart device semakin kenal dengan user-nya, Vidor melanjutkan, responden berfikir bahwa user bisa menceritakan rahasianya kepada smart device. Bahkan, kata dia, terdapat 2 kali lebih banyak responden lebih percaya kepada smart device dibandingkan kepada manusia lain. “Meskipun begitu, masih ada aspek humanisme yang lebih tinggi kok. Mungkin itu masih jauh ya, tapi nyatanya sudah ada salah satu merek yang mengeluarkan perangkat model seperti itu,” tutur Vidor.

2. Smart Quarrels

Terdapat lebih dari 65 persen pengguna asisten virtual percaya bahwa smart speakers akan terlibat perdebatan antara anggota keluarga dalam tiga tahun ke depan. Serta 31 persen dari user percaya bahwa, mereka bisa berdebat dengan asisten virtual yang berguna untuk user-nya, dan akan terjadi dalam 3 tahun.

“Kita tahu ada macam-macam asisten virtual seperti Siri dan Google Asistant. Device kita sebetulnya macam-macam, orang juga banyak yang pakai lebih dari satu jenis device,” kata Vidor. “Sekarang bayangkan ada beberapa device dirumah, yang 47 persen asisten virtual itu bisa mengeluarkan jawaban yang beda, misalnya film yang paling bagus di bioskop atau makanan”.

3. Spying Apps

Lebih dari 45 persen konsumen percaya bahwa aplikasi yang digunakan senantiasa mengumpulkan data tentang mereka, bahkan saat mereka tidak menggunakan aplikasi tersebut. Vidor menjelaskan bahwa pengguna media sosial, pasti bisa menemukan apa yang sebenarnya pengguna inginkan.

“Memang tidak ada bukti bahwa ini terjadi, tapi beberapa responden kita itu, misalnya kita sedang membicarakan suatu produk, kebetulan di media sosial kok muncul ada produk yang kita bicarakan,” ujar dia. “Hal itu membuat orang berfikir, jangan-jangan meskipun smartphone dalam kondisi dian tapi dari kameranya mendeteksi apa yang sedang kita lakukan”.

4. Enforced Agreement

Kehadiran cookies yang bertugas mengumpulkan data atau data collection cookies dirasa mengganggu oleh 51 persen konsumen. Vidor menceritakan bahwa banyak orang yang melakukan persetujuan tanpa membaca terlebih dahulu, ketika mengunduh sesuatu atau melakukan registrasi akun media sosial baru.

“Ini terjadi, kita selalu jika ingin download Apps dan ada pernyataan ‘agree for download’, ini secara global merasakan, 51 persen merasa selalu accepting data collecting itu lama-lama melelahkan. Dan 46 persen bilang bahwa sebetulnya membuat agreement itu tidak ada artinya karena orang asal ngeklik-ngeklik saja,” ujar Vidor.

Bahkan, Vidor menambahkan, hampir separuhnya berfikir bahwa, orang melakukan data collection itu lebih ke advertising. Dan, kata dia, user berfikir bahwa jangan-jangan internet harus mempunyai bisnis model yang baru lagi.

5. Internet of Skills

Lebih dari 50 persen pengguna AR atau VR menginginkan aplikasi, kacamata, dan sarung tangan yang bisa memberikan panduan virtual, untuk tugas praktis sehari-hari seperti memasak atau memperbaiki sesuatu.

“Terus terang ini menarik, khususnya buat teman-teman yang baca soal tren internet of skill, jadi bayangkan saya memasak, sebelumnya belum pernah masak tapi saya bisa download skill melalui internet,” tutur Vidor. “Dengan begitu selama kita melakukan, mulai dari menyiapkan bahan dan masak selalu dipandu secara rill time”.

6. Zero-touch Consumption

Kurang lebih setengah dari pengguna asisten virtual menginginkan tagihan dan langganan mereka bisa diperpanjang secara otomatis. Selain itu persediaan kebutuhan rumah tangga bisa diisi ulang secara otomatis. Ada 70 persen responden menyatakan bahwa hal itu akan datang dalam waktu 3 tahun ke depan.

“Belanja itu bisa jadi hal yang menyenangkan, tapi enggak selalu, ada sebagian orang menganggap belanja yang rutin terkadang buang waktu, tapi harus dilakukan. Hal itu membuat sebagian responden, lebih dari setengahnya menginginkan bisa dilakukan secara otomatis,” ujar Vidor. Jadi, kata dia, kulkas bisa mendeteksi jika isi di dalamnya sudah habis, dan bisa di order secara otomatis. Tujuannya adalah agar user mempunyai waktu yang lebih banyak dan berguna.

7. Mental Obesity

Dengan banyaknya device yang bekerja otomatis, Vidor berujar, hal itu akan mengakibatkan manusia lupa untuk mengambil keputusan. Konsumen sebanyak 31 persen, dalam waktu dekat akan pergi ke ‘pusat kebugaran pikiran’ (mind gym) untuk melatih kemampuan berpikirnya, karena pengambilan keputusan sehari-hari semakin otomatis.

“Impact-nya bahwa pemakaian berlebih dari device otomatis bisa membuat lupa dalam mengambil keputusan, banyak persepsi bahwa dengan smartphone jadi exersice fisik itu sedikit. Dengan atomatisasi juga membuat kegiatan berfikir berkurang. Ada 34 persen berfikir bahwa ketika terjadi mungkin ada hal yang namanya mind gym untuk latihan berfikir,” kata Vidor.

8. Eco Me

Terdapat 4 dari 10 reponden atau 39 persen mengharapkan smartwatch yang bisa mengukur karbon. Ke depan, kata dia, orang-orang akan semakin cinta terhadap lingkungannya. “Seiring dengan teknologi wereable yang semakin maju, ternyata dari konsumer awerenes tentang lingkungan mulai tinggi. Ada yang berharap memiliki smartwatch yang bisa nge-trect daily karbon atau pemakaian karbon setiap hari, kayak naik mobil itu bahan bakar yang dipakai berapa gitu,” ujar Vidor.

Artinya, kesadaran terhadap lingkung dan pemakaian karbon kalau sudah terlalu banyak harus dikurangi. Dan ada 70 persen responden berharap, saat ingin membeli barang, mereka bisa memilih produk mana yang eco friendly agar bisa beli barang yang tepat.

9. My Digital Twin

Saat ini, tanpa sadar oarng-orang bisa melakukan sesuatu di dua tempat dalam waktu bersamaan, misalnya sedang di kantor dan bisa hadir di rumah melalui video call. Terdapat 48 persen pengguna AR atau VR menginginkan avatar online yang meniru mereka secara tepat, sehingga dapat berada di dua tempat sekaligus.

“Dengan AR dan VR yang dikombinasikan AI, orang bisa berharap ketika kita hadir di online meeting itu avatar-nya benar-benar mirip dengan wajahnya. Dan bisa menggambarkan dan mengikuti, itu bisa terjadi dalam waktu setahun ke depan,” kata Vidor.

10. 5G Automates Society

Sekitar 20 persen pengguna smartphone percaya 5G akan menghubungkan perangkat IoT dengan lebih baik, seperti peralatan rumah tangga dan alat pengukuran utilitas. Dan berharap bahwa, dengan hadirnya teknologi 5G, pengguna dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan otomatis.

“Sekitar seperempat menginginkan bahwa 5G akan membuat otomatisasi pada mobil dan akan berguna untuk alat rumah tangga yang terkonet dengan IoT. Dan paling tinggi adalah di home security, VR online shoping, listrik, gas, air dan lainnya,” kata Vidor. Hasil survei Ericsson juga akan dapat menjawab gadget apa yang bisa memnuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya ada AI Phone yang bisa otomatis dan bisa menyesuaikan tempat.

Simak artikel menarik lainnya seputar tren teknologi hanya di kanal Tekno Tempo.co.

%d blogger menyukai ini: