22 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Sejarah di Balik Tradisi Pohon Natal…..

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com  

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber MediaIlustrasi pohon natalApartementtherapy.com

Bagi umat Katolik dan Nasrani, Hari Natal merupakan momen yang begitu ditunggu-tunggu. Berbagai pernak-pernik dalam menyambut Natal dipersiapkan.

Salah satunya adalah dengan menghadirkan pohon Natal di rumah masing-masing.

Namun. tahukah Anda bagaimana sejarah dari tradisi pohon Natal?

Dilansir dari History.com, jauh sebelum munculnya agama Kristen, tumbuhan dan pohon yang tetap hijau sepanjang tahun. Ini menjadikan tanaman hijau memiliki arti khusus bagi orang-orang di musim dingin.

Masyarakat saat itu menghiasi rumah mereka selama musim dingin dengan pohon cemaara. Mereka juga menggantung dahan cemara pada atas pintu serta jendela rumahnya.

Hal ini dilakukan karena banyak negara yang meyakini bahwa tanaman hijau menjauhkan menjauhkan penyihir, hantu, roh jahat, dan penyakit.

Oleh karena itu, banyak orang yang menggunakan pohon tersebut pada rumah-rumah mereka sesuai dengan kepercayaan secara turun temurun.Titik balik matahari

Pada belahan bumi bagian utara, waktu akhir tahun biasanya sebagai titik balik matahari musim dingin.

Banyak orang yang percaya bahwa matahari adalah dewa dan musim dingin itu datang setiap tahun karena dewa matahari menjadi sakit dan lemah.

Mereka kemudian merayakan “solstice” dan percaya bahwa dewa matahari akan mulai sembuh. Dahan cemara mengingatkan mereka semua tanaman hijau yang akan tumbuh lagi ketika dewa matahari kuat dan musim panas akan kembali.

Sementara itu, Orang Mesir Kuno menyembah dewa bernama Ra, yang memiliki kepala seekor elang dan mengenakan matahari sebagai piringan api di mahkotanya.

Saat solstice, ketika Ra mulai pulih dari penyakitnya, orang Mesir Kuno mengisi rumah mereka dengan daun palem hijau yang melambangkan kemenangan hidup atas kematian.

Untuk orang Romawi, awal menandai titik balik matahari dengan sebuah pesta yang disebut Saturnalia untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian.

Bangsa Romawi tahu bahwa titik balik matahari berarti bahwa segera pertanian dan kebun buah akan menjadi hijau dan berbuah.

Sebagai penanda, mereka mendekorasi rumah dan kuil mereka dengan dahan cemara. Di Eropa Utara, pendeta Celtics kuno juga menghiasi kuil mereka dengan dahan hijau sebagai simbol kehidupan abadi.

Viking yang berada di Skandinavia berpikir bahwa tanaman hijau adalah tanaman khusus dewa matahari, Balder.Jerman sebagai pelopor

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber MediaHiasan lampu pada pohon natalHouseBeautifulJerman dikenal sebagai negara yang memulai tradisi pohon Natal seperti yang kita ketahui saat ini, sejak pada abad ke-16. Hal ini terjadi seperti ketika umat Nasrani membawa pohon-pohon hias ke rumah mereka.

Beberapa orang membangun pernak-pernik Natal dari kayu dan mendekorasi mereka dengan lilin. Ini adalah keyakinan yang dipegang luas oleh Martin Luther, reformator Protestan abad ke-16, orang pertama menambahkan lilin menyala ke pohon.

Ketika itu dirinya berjalan menuju rumah pada suatu malam musim dingin dan menyusun naskah untuk acara jemaahnya.

Dia terpesona oleh warna-warni bintang-bintang yang berkelap-kelip di tengah-tengah pepohonan. Setelah itu dia mendirikan sebatang pohon di ruang utama dan menyambungkan cabang-cabangnya dengan lilin-lilin yang menyala.Berkembang ke negara lain

Sebagian besar orang Amerika abad ke-19 menganggap pohon Natal sebagai sesuatu yang berbeda. Kehadiran pohon Natal di Amerika berdasarkan para imigran dari Jerman di Pennsylvania. Oleh karena itu, tradisi ini mulai digunakan ke berbagai tempat.

Sebenarnya, permukiman Jerman di Pennsylvania memiliki pohon-pohon masyarakat pada awal 1747. Namun, pada akhir tahun 1840-an, pohon Natal dilihat sebagai simbol pagan dan tidak diterima oleh kebanyakan orang Amerika Serikat.

Tidak mengherankan bahwa seperti banyak kebiasaan Natal lainnya yang meriah, pohon itu diadopsi sangat terlambat di Amerika.

Namun, pada awal abad ke-20, orang Amerika menghias pohon mereka terutama dengan hiasan buatan sendiri. Sementara keturunan Jerman-Amerika terus menggunakan apel, kacang, dan kue marzipan. Popcorn ikut digunakan setelah dicelup warna-warna cerah.

Bagi kaum puritan Inggris Baru, Natal adalah sakral. Menurut pendapat kelompok ini, Natal tak boleh dipadukan dengan unsur-unsur lain. Namun, ketika ketika gelombang imigran Jerman dan Irlandia meruntuhkan warisan puritan dan tradisi pohon Natal sampai juga di Inggris.

Pada 1846, para bangsawan populer, Ratu Victoria dan Pangeran Albert, digambarkan dalam ilustrasi berdiri bersama anak-anak mereka di sekitar pohon Natal.

Tidak seperti keluarga kerajaan sebelumnya, Victoria sangat populer dengan rakyatnya. Hal ini membuat tradisi Natal dengan pohon hijau mulai diterima mudah oleh masyarakat Inggris.

Pada 1890-an, hiasan Natal tiba dari Jerman dan popularitas pohon Natal sedang meningkat di sekitar AS. Telah dicatat bahwa orang Eropa menggunakan pohon kecil setinggi sekitar 1,2 meter. Orang Amerika menyukai pohon Natal yang tinggi.

Listrik kemudian memungkinkan pohon Natal dihiasi lampu. Ini memungkinkan pohon Natal menyala dan kerlap-kerlip selama berhari-hari.

Penulis: Aswab Nanda Pratama

Editor: Bayu Galih

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: