29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

BMKG: Tak Ada Negara yang Punya Alat Deteksi Tsunami Vulkanik

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

BMKG

© Disediakan oleh Kumparan BMKG

Bencana tsunami kembali melanda Indonesia. Setelah menyapu sejumlah daerah di Palu dan sekitarnya, kali ini tsunami giliran mengamuk meluluhlantahkan daerah Banten dan Lampung. Awalnya tak ada yang mengira bahwa gulungan air itu akan datang, karena sejumlah orang pun tak merasakan adanya gempa besar yang acapkali menjadi pertanda akan datangnya tsunami.

Deputi bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, mengatakan bahwa aktivitas tektonik bukanlah musabab terjadinya tsunami di Banten dan Lampung. Getaran tremor yang diakibatkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakataulah yang menyebabkan hal itu terjadi. Bukan erupsi gunung, melainkan adanya longsoran dari gunung yang jatuh ke laut sehingga memicu gelombang besar di laut.

“Ini itu longsoran, jadi di anak krakatau itu dia punya bongkahan itu, itu yang ambruk ke laut, jadi waktu terjadi tremor itu belum apa-apa, tapi lama-lama dia akan runtuh ya, jadi daerah yang bongkahan itu runtuh ke laut karena di goyang terus,” ujar Sadly saat dihubungi kumparan, Selasa (25/12).

“Yang kemarin terjadi itu adalah bagian dari Anak Krakatau di bagian barat daya itu lepas ke laut sehingga menyebabkan gelombang laut yang kecepatannya itu ratusan km per jam,” sambungnya.

No Cover - Ilustrasi Longsoran Anak Krakatau di Sisi Barat Daya.

© Disediakan oleh Kumparan No Cover – Ilustrasi Longsoran Anak Krakatau di Sisi Barat Daya.

Kendati demikian Sadly mengatakan memang hingga kini BMKG belum memiliki alat pendeteksi adanya gelombang yang disebabkan akibat adanya peristiwa vulkanik. Ia pun menegaskan hingga saat ini di seluruh dunia sekalipun belum ada satu negara pun yang memiliki alat pendeteksi tersebut.

“Sekarang kalau misalnya erupsi itu belum ada memang karena yang di dunia pun belum ada satu negara pun yang punya sistem untuk mendeteksi tsunami dari aktivitas vulkanik, atau longsoran,” ucap Sadly.

Untuk mencegah hal itu terulang kembali dan memakan korban lebih banyak lagi, kata Sadly, pihak BMKG telah membuat sebuah model alat pendeteksi tsunami dari aktivitas vulkanik atau longsor. “Sehingga saat ini kita tengah membuat skenario atau pemodelan untuk tsunami yang disebabkan longsor,” ujarnya.

Namun menurutnya, implementasi ide dan masukan tersebut membutuhkan waktu. Hal itu diungkapkan karena menurutnya memang hingga sampai saat ini belum ada negara manapun yang memiliki teknologi tersebut.

“Jadi memang belum ada itu, tapi sekarang kita ini kan semua pakar sudah tahu, sudah mulai memberikan masukan-masukan sehingga kita akan membuat skenario-skenario sekiranya itu ada longsoran, tapi perlu waktu, karena di dunia pun belum ada itu,” ucap Sadly.

Kondisi Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, tsunami

© Disediakan oleh Kumparan Kondisi Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, tsunami

Untuk mewujudkan dan ide tersebut, Sadly menyatakan bahwa koordinasi telah dijalin oleh BMKG dengan sejumah pihak atau instansi terkait. Salah satunya yaitu selain membuat alat pendeteksi itu. Pemerintah pun akan memasang sejumah sensor di beberapa gunung untuk mempermudah pengawasan yang dilakukan.

“Saat ini kita tengah berkoordinasi dengan BPPT, BMKG, jadi caranya kita menambah sensor-sensor untuk dipasang di daerah-daerah gunung itu sehingga kita bisa memonitor,” kata Sadly.

Kondisi Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, tsunami

© Disediakan oleh Kumparan Kondisi Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, tsunami

Selagi sistem dan teknologi disiapkan, Sadly meminta kepada masyarakat untuk tetap berpedoman pada peringatan BMKG atau institusi terkait.

“Makanya kita selalu bilang untuk masyarakat ikuti pemberitahuan yang dikeluarkan oleh BMKG, serta intitusi yang punya otoritas, kalo masalah erupsi misalnya ikuti badan geologi pusat vulkanologi, kalau badan vulkanologi bilang harus menjauh sejauh radius berapa kilometer ya lakukan karena kan untuk keselamatan,” tegas Sadly.(Aprilandika Pratama)

%d blogger menyukai ini: