22 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Perbedaan Tsunami Akibat Erupsi Krakatau 1883 dan Anak Krakatau 2018

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Gunung Anak Krakatau meletus

© Disediakan oleh Kumparan Gunung Anak Krakatau meletus

Tahun 1883, sebuah bencana besar mengguncang dunia. Pada tahun itu, Gunung Krakatau meletus dan menjadi salah satu bencana paling mematikan yang pernah terjadi di masa modern.

Rentetan letusan Krakatau terjadi mulai Mei 1883 selama sembilan bulan, di mana puncak erupsinya adalah pada 26 Agustus 1883. Erupsi dahsyat yang terjadi pada tanggal tersebut menewaskan lebih dari 36 ribu jiwa dan menghancurkan ratusan pemukiman warga di sekitarnya. 

Erupsi itu menyebabkan dua per tiga bagian utara Pulau Krakatau hancur dan mengeluarkan berbagai material seperti lava, batu-batuan, abu, serta tsunami yang menyapu daerah pesisir pantai.

Menurut Pusat Informasi Lingkungan Nasional Amerika Serikat (National Centers for Environmental Informasi), saat erupsi itu terjadi, abu ditembakkan ke langit hingga ketinggian 80 kilometer dan membuat area seluas 800 ribu kilometer persegi di sekitarnya ditutupi awan hitam.

Litografi letusan Gunung Krakatau tahun 1883

© Disediakan oleh Kumparan Litografi letusan Gunung Krakatau tahun 1883

Dampaknya, selama dua setengah hari area tersebut gelap karena Matahari yang tertutup asap hitam. Sementara itu, abu dari letusan itu menyebar hingga ke seluruh dunia yang menyerap sinar Matahari. Akibatnya, suhu dunia saat itu turun sebanyak 0,5 derajat Celcius dan kondisi turunnya suhu ini bertahan hingga tahun 1888.

Koordinator Bidang Vulkanologi Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, mengatakan kala itu letusan Krakatau menyebabkan terbentuknya sebuah kaldera seluas 4×8 kilometer. 

Erupsi Krakatau pada 1883 mendapat rating 6 dalam Volcanic Explosion Index (VEI) dan diperkirakan memiliki kekuatan letusan setara 200 megaton dinamit. Mirzam menambahkan erupsi Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami berada di kisaran 3 sampai 4 VEI.

Anak Krakatau dan Tsunami Anyer

Setelah bencana mematikan tersebut, Krakatau tidur panjang hingga sekitar tahun 1920-an, di mana saat itu aktivitas vulkanik di sana kembali terjadi. Sejak saat itu, erupsi kecil yang terjadi di sana membentuk sebuah kerucut baru di bagian tengah kaldera yang tercipta pada 1883 yang disebut ‘Anak Krakatau’.

Gunung Anak Krakatau terus aktif sampai sekarang. Bahkan, dampak erupsinya yang mematikan kembali terjadi baru-baru ini. Pada Sabtu (22/12), tsunami menyapu kawasan pesisir Banten dan Lampung yang diakibatkan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Erupsi itu menyebabkan terjadinya longsor bawah laut yang menurut analisis BMKG memiliki kekuatan guncangan setara 3,4 magnitudo dan akhirnya menimbulkan tsunami.

Mirzam sendiri menjelaskan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak akan memberikan dampak seperti erupsi yang terjadi pada 1883 silam. Ia menjelaskan kejadian erupsi beberapa waktu lalu itu hanya membuat area seluas 64 hektar di sebelah barat daya Anak Krakatau hilang, sehingga dampak tsunaminya tidak separah erupsi 1883.

Sementara tsunami setinggi 30 meter pada 1883 terjadi akibat Krakatau meletus lalu kolaps dan menghasilkan kaldera. Mirzam memaparkan bahwa biasanya sebelum terjadi tsunami akibat kolaps ini, air di pantai akan surut lebih dahulu.

“Yang kemarin (Sabtu 22/12) dilihat kan tidak ada air surut, tiba-tiba air langsung naik. Bisa jadi karena longsor atau wedus gembel yang masuk ke laut,” tuturnya, saat dihubungi kumparan.

“Kalau tsunami akibat longsor sama wedus gembel itu dari catatan sejarah biasanya menghasilkan tsunami-tsunami kecil. Seperti kemarin (Sabtu, 22 Desember) kan nol koma sekian atau sekitar satu meteran,” tambah Mirzam.

Ia mengatakan Anak Krakatau memiliki siklus letusan dua tahunan, mulai dari 2012, 2014, 2016, 2018, dan seterusnya. Ia menjelaskan bahwa semakin pendek siklusnya berarti energi gunung api akan semakin kecil.

“Jadi kalau melihat siklusnya seharusnya tidak perlu khawatir ada letusan besar ya. Artinya bahwa tsunami mungkin bisa terjadi kalau ada longsor atau wedus gembel masuk air, tapi paling tingginya sekitar satu meter, tidak seperti 1883,” jelasnya.

Menurut laporan BNPB pada Senin (24/12) pagi, tsunami yang melanda Anyer pada Sabtu (22/12) menyebabkan 281 orang meninggal, 1.016 orang luka-luka, dan 57 orang hilang.(Sayid Mulki Razqa)

%d blogger menyukai ini: