30 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

5 Larangan China untuk Uighur: dari Berjenggot hingga Nama Islami

Berita ini diberdayakan untuk kumparan .com

Warga Muslim Uighur di Xinjiang dilaporkan kerap diperlakukan secara diskriminatif oleh pemerintah China. Identitas warga Uighur sebagai Muslim juga coba ditiadakan oleh China, dengan dalih memberantas ekstremisme.

Tahun ini, dunia mengecam laporan jutaan warga Uighur yang dipenjara oleh China. Warga Uighur dilaporkan dipaksa menanggalkan keislaman mereka dan didoktrin mencintai Partai Komunis.

Ilustrasi polisi di China

© Disediakan oleh Kumparan Ilustrasi polisi di China

Sejak bertahun-tahun, jutaan masyarakat Uighur didera berbagai larangan dalam beragama. Larangan tersebut mulai dari berjenggot, bercadar, hingga menggunakan nama-nama Islami. 

Berikut enam dari banyak larangan China bagi warga Uighur di Xinjiang:

1. Larangan Berjenggot dan Bercadar

Diberitakan Reuters pada April 2017 pemerintah China mengeluarkan larangan bagi warga Muslim Uighur di Xinjiang. Di antara larangan itu adalah menumbuhkan jenggot panjang bagi pria dan mengenakan cadar bagi wanita.

Suku Uighur

© Disediakan oleh Kumparan Suku Uighur

Dalam peraturan yang sama, warga Uighur dilarang untuk tidak mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah pemerintah, mengabaikan kebijakan keluarga berencana China, atau mengenakan gamis.

Di beberapa kota di Xinjiang, wanita yang memakai jilbab atau pria berjenggot dilarang naik bus.

Pemerintah China menerapkan aturan berpakaian ini dengan ketat. Pada 2018 seperti diberitakan Business Insider, petugas China dilaporkan menggunting rok wanita Uighur yang terlalu panjang.

2. Larangan Puasa di Bulan Ramadan

Berita soal larangan berpuasa muncul setiap tahun dari Xinjiang. Pada 2015, AFPmelaporkan bahwa pemerintah China melarang pegawai negeri, pelajar, dan guru Muslim di Xinjiang untuk berpuasa dan beribadah di masjid. 

Kehidupan di Xinjiang

© Disediakan oleh Kumparan Kehidupan di Xinjiang

Restoran-restoran milik warga Uighur juga dipaksa tetap buka di siang hari Ramadan. Larangan ini disampaikan salah satunya oleh pemerintah kota Tarbaghatay atau Tacheng dalam bahasa Mandarin.

“Selama Ramadan, pelajar dari etnis minoritas tidak berpuasa, tidak masuk masjid, dan tidak melakukan aktivitas religius,” bunyi larangan tersebut.

Di kota Hotan atau Hetian, pelajar Muslim Uighur dipaksa berkumpul pada hari Jumat untuk belajar, menonton film-film Komunis, atau berolahraga. Padahal di hari itu mereka harus melaksanakan ibadah salat Jumat.

3. Larangan Bernama Islami

Menurut situs Radio Free Asia (RFA) pada 2017 lalu, pemerintah kota Xinjiang mengeluarkan larangan pemberian nama-nama Islami bagi bayi yang baru lahir. 

Kehidupan di Xinjiang

© Disediakan oleh Kumparan Kehidupan di Xinjiang

Ada puluhan nama yang terlarang, di antaranya: Islam, Quran, Makkah, Jihad, Imam, Saddam, Haji, dan Madinah.

Menurut seorang pejabat pemerintah yang dihubungi RFA, nama yang berbau religius tidak akan mendapatkan kartu tanda penduduk khusus China atau hukou. Dia mengatakan, nama-nama itu “mempromosikan teror”.

4. Larangan Menikah Secara Islami

Pemerintah Xinjiang juga mengeluarkan larangan bagi Muslim Uighur untuk melaksanakan prosesi pernikahan secara Islami di rumah sendiri, meliputi akad dan resepsi.

RFA mencatat pada 2017, seorang pejabat pemerintah beretnis Uighur dipecat karena menikah secara Islami di rumahnya. Seharusnya dia menikah di tempat-tempat yang telah ditentukan pemerintah dan tidak menggunakan adat Islam.

Anak-anak Uighur

© Disediakan oleh Kumparan Anak-anak Uighur

Pejabat Xinjiang yang dikutip Uighur mengatakan larangan menikah di rumah secara Islami demi mencegah “tersebarnya pandangan menyimpang yang bertentangan dengan persatuan etnis dan kedaulatan negara.” 

5. Larangan Mengunakan Bahasa Uighur

Pemerintah China juga mengeluarkan larangan penggunaan bahasa Uighur di semua jenjang pendidikan. Mereka yang melanggarnya akan mendapatkan hukuman.

Menurut laporan RFA, pemerintah Xinjiang memerintahkan sekolah-sekolah untuk menggunakan bahasa Mandarin dalam pengajaran. Penggunaan bahasa lisan, tulisan, gambar, hingga rambu-rambu harus pakai Mandarin, tidak boleh pakai Uighur.(Denny Armandhanu)

%d blogger menyukai ini: