30 November 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cerita Jurnalis kumparan Meliput Tsunami di Selat Sunda dari Udara

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Perasaan saya campur aduk saat ditunjuk untuk meliput kabar tsunami di Banten dan Lampung. Campur aduk karena penugasan ini begitu mendadak, serta akan menjadi liputan bencana alam pertama yang akan saya lakoni. 

Tsunami di Banten dan Lampung terjadi pada Sabtu malam (22/12) sekitar pukul 21.15 WIB. Esoknya, saya yang baru tiba di kantor kumparan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, langsung diminta untuk terbang bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Penerbangan ini bertujuan untuk melihat dampak tsunami dari udara di ujung Pulau Jawa. 

Gambar udara, kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung, tsunami

© Disediakan oleh Kumparan Gambar udara, kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung, tsunami

Tak perlu lama, saya pun lantas menyiapkan sejumlah alat kerja untuk dibawa pada liputan nanti. Sebuh kamera mirorless lengkap dengan lensa tambahan berukuran 55‑210 mm turut saya boyong untuk misi kali ini. Lensa itu tentu akan berguna untuk menangkap objek yang jauh. 

Singkatnya, Minggu pagi itu saya sudah tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Saya akan terbang dengan pesawat Susi Air. Di sana saya bertemu dengan awak media lain. Saling kenal untuk memudahkan saya berkomunikasi. Terbersit rasa cemas akan hal-hal yang tak diinginkan terjadi.  

Foto bersama, Susi Air usai, dampak kerusakan tsunami di Banten dan Lampung dari udara

© Disediakan oleh Kumparan Foto bersama, Susi Air usai, dampak kerusakan tsunami di Banten dan Lampung dari udara

Semula, pesawat yang akan saya tumpangi ini rencananya berangkat pukul 11.00 WIB. Namun, rupanya Wakil Presiden RI Jusuf kalla juga berencana meninjau lokasi terdampak menggunakan pesawat berbeda. Pihak Susi Air pun lantas berkoordinasi lagi dengan ororitas bandara terkait penerbangan JK tersebut. 

Selama menunggu itu, saya memperoleh informasi bahwa cuaca di Banten dan Lampung sedang buruk. Wapres JK pun membatalkan penerbangannya. Saat itu, saya tahu bahwa penerbangan yang saya lakukan pun terancam batal. 

Namun tak berapa lama berselang, Pilot Susi Air memberikan update bahwa kondisi cuaca di Banten dan Lampung cukup terkendali. Sekitar pukul 15.10 WIB, saya dan sejumlah awak media lain pun bisa berangkat. 

Foto bersama, Susi Air usai, dampak kerusakan tsunami di Banten dan Lampung dari udara

© Disediakan oleh Kumparan Foto bersama, Susi Air usai, dampak kerusakan tsunami di Banten dan Lampung dari udara

Penerbangan ini menggunakan pesawat jenis Cessna Grand Caravan c208b milik Susi Air. Pilotnya asal Ukraina bernama Mykola Tolpygin. Co-pilotnya asal Indonesia, Robert Anthony Koroa. Menumpangi pesawat yang hanya bisa menampung 12 orang ini merupakan pengalaman pertama bagi saya. 

Dengan kondisi cuaca yang mendung, disertai rintik hujan, lokasi yang pertama yang akan dituju adalah Pantai Sumur, Banten. Melalui udara, kerusakan akibat tsunami di Pantai Sumur jelas terlihat. Bahkan saya menyaksikan satu pulau kecil yang kondisinya sudah luluh lantak oleh hantaman gelombang tsunami. Bangunan-bangunan di Pantai Sumur pun sudah tidak berbentuk. 

Usai mengabadikan gambar di sekitar Pantai Sumur, pesawat melaju ke pesisir Pantai Banten lainnya. Saya melihat di sekitar Pantai Panimbang, Teluk Lada dan Tanjung Lesung, kerusakan akibat gelombang tsunami parah sekali. Bangunan yang berada di sekitar pesisir pantai itu dapat dikategorikan rusak berat.

Gambar udara, kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung, tsunami

© Disediakan oleh Kumparan Gambar udara, kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung, tsunami

Perjalanan kemudian berlanjut ke Pantai Anyer dan Carita. Dua tempat ini merupakan yang terparah akibat tsunami. Namun di tengah perjalanan, saya melihat gumpalan awan hitam pekat disertai petir dan hujan lebat. 

Melihat kondisi yang sangat buruk itu, pilot pun memutar arah untuk melewati cuaca buruk itu. Tak lama pilot kami akhirnya memutuskan untuk tidak memaksakan masuk ke area Pantai Anyer dan Carita. Kondisi cuaca yang buruk disertai abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau menjadi kendala tersendiri. 

Rute selanjutnya, pesawat mengarah ke Gunung Anak Krakatau. Dari ketinggian, saya melihat langsung gumpalan abu vulkanik yang sangat pekat dimuntahkan gunung tersebut. Perlahan, pesawat yang kami tumpangi mulai mendekati gunung itu. Dari jarak yang sangat dekat saya melihat Anak Krakatau terus menyemburkan material vulkanik. 

Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau

© Disediakan oleh Kumparan Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau

Satu hari sebelumnya, Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad yang sedang berada di Anyer mendengar suara dentuman dari gunung ini. Tepat di atas gunung tersebut, saya membayangkan letusan yang terjadi pada Sabtu (22/12) itu pasti dahsyat sekali. 

Puas mengambil gambar Gunung Anak Krakatau, pilot melanjutkan perjalanan ke pesisir Lampung. Di sana, rupanya kerusakan akibat tsunami tidak begitu parah seperti di pesisir Banten. Usai mengambil gambar, pilot memutuskan kembali mendatangi Pantai Anyer dan Carita. 

Gambar udara, kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung, tsunami

© Disediakan oleh Kumparan Gambar udara, kondisi pesisir Pantai Tanjung Lesung, tsunami

Namun, lagi-lagi cuaca di sekitar Pantai Anyer dan Carita masih buruk. pilot Mykola Tolpygin tak mau mengambil risiko. Akhirnya, pilot memutuskan untuk kembali ke Bandara Halim Perdana Kusuma.

Setelah kurang lebih dua jam mengudara, di perjalanan pulang saya langsung mengirim gambar dan video yang saya peroleh selama berada di pesawat Susi Air. Yang paling berkesan adalah melihat kembali melihat penampakan Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi. Melihatnya saja membuat saya kembali merinding. 

Foto bersama, Susi Air usai, dampak kerusakan tsunami di Banten dan Lampung dari udara

© Disediakan oleh Kumparan Foto bersama, Susi Air usai, dampak kerusakan tsunami di Banten dan Lampung dari udara.(Dicky Adam Sidiq)

%d blogger menyukai ini: