21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Santri Harus Bisa Menjadi Saudagar

Santri Harus Bisa Menjadi Saudagar

Santri Harus Bisa Menjadi Saudagar

Surabaya, TimurMerdeka.com Santri harus didorong untuk lebih mengenal teknologi sehingga terjadi perpaduan ilmu agama dan ilmu pengetahuan teknologi. Dengan cara ini, mereka bisa saja menjadi saudagar seperti yang dibahas dalam buku yang berjudul Keislaman dan Keindonesiaan.

Bupati Trenggalek, Emil Dardak mengatakan itu usai menghadiri peluncuran buku KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Minggu (22/10/2017) di Surabaya.

Buku berjudul Keislaman dan Keindonesiaan itu, mengupas mengenai tantangan ke depan bagi para santri.Di dalam buku itu mengharapkan santri bisa saja menjadi saudagar.

‘’Karena itu santri harus didorong memperkuat basis perekonomiannya sehingga mempunyai daya saing, ‘’tandas Dardak.

Menyinggung Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, kata Dardak dapat dimaknai sebagai perjalanan resolusi jihad bagi kalangan pesantren dan santri, dimana di Surabaya melahirkan 10 November dan kemudian merebut kemerdekaan.

Karena itu kita patut berbangga terhadap kalangan pesantren dan santri memiliki andil besar dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. ‘’Kita harus bangga dengan keberadaan pesantren dan santri ikut bersama-sama berjuang dalam merebut kemerdekaan bangsa ini, ‘’tandas Emil Dardak, Bupati Trenggalek  disela-sela acara peluncuran buku pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng itu.

Dia menambahkan,   saat ini para santri sudah harus memikirkan pola yang akan dibangun ke depan untuk penguatan ekonomi para santri.

Dulu pemuda, dan santri dipakai energinya untuk merebut kemerdekaan dan menjatuhkan suatu rezim tertentu, namun sekarang ini, sudah saatnya memikirkan penguatan dibidang ekonomi seperti yang telah dijelaskan dalam buku Gus Sholah yang berjudul ‘’Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan’’. Di dalam buku itu menyebutkan santri harus bisa menjadi saudagar. Itu artinya, para santri diajak tidak hanya semata-mata belajar ilmu agama, tetapi mampu memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pondok Pesantren Tebu Ireng kata, Dardak, sepertinya telah mengarah pada ilmu pengetahuan dan teknologi basic. Itu artinya para santri selain belajar ilmu pengetahuan keagamaan, juga belajar terhadap penguasaan teknologi atau memadukan antara penguasaan ilmu agama dan teknologi.

Dardak, mengaku, pernah menulis sebuah buku yang memilah-milah mulai dari zaman waktu sumpah pemuda yang ia sebut sebagai nissen founding, setelah merdeka (orde lama) menyebutnya sebagai nissen building, ode baru (nissen retiking). Lalu sekarang ini di era reformasi, tentu dia lebih mengistilahkan sebagai nissen kompetitif building.

Dia mengatakan saat ini negara membutuhan sumber daya manusia yang handal, jadi memang daya saing itu sangat diperlukan karena tidak hanya bersaing ke dalam negeri tetapi juga bersaing hingga ke luar negeri.

Karena itu zaman sekarang ini sangat diperlukan pengusaan teknologi sebagai kekuatan bersaing. ‘’Kita butuh daya saing kuat, ‘’ujar suami  Arumi Bachsin itu.

Dia menambahkan, kalau dahulu pemuda dan  santri energinya dipakai untuk memperjuangkan dan merebut kemerdekaan atau menjatuhkan suatu rezim tertentu, sekarang sudah harus berubah yakni merebut teknologi sebagai salah satu kekuatan dalam bersaing.

‘’Lalu, pertanyaannya, kalau begitu pesantren luntur dong. Karena ikut berlajar formal, itu bukan ranah saya, ‘’tandas Dardak.

Dia berkeyakinan orang yang penguasaan agamanya baik, tentu dalam menggunakan ilmunya lebih amanah dan lebih baik. Etos kerjanya lebih baik, budi pekertinya lebih baik.

Dalam membangun tidak melakukan pendekatan profit and los, tetapi menurut dia baik untuk masyarakat, itu yang akan dilakukan. Termasuk dalam berusaha sekalipun, jika akan merusak masyarakat, tidak akan dilakukan. ‘’Itulah yang kita harapkan, ‘’ujarnya. HM

%d blogger menyukai ini: