25 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cara Ajarkan Anak tentang Nilai Uang

Berita ini diberdayakan untuk republika.co.id

Membesarkan anak yang melek finansial tidak harus sulit. Banyak orang tua yang ingin mengajari anak mereka mengenai ekonomi dan mempersiapkan keuangan masa depan. Pakar keuangan memberikan cara terbaik untuk mengajari anak mengenai nilai uang.

Terbuka soal keuangan kepada anak

CEO penyedia manfaat kesehatan keuangan Edukate, Chris Whitlow, menggambarkan uang sebagai masalah emosional dan sangat banyak olahraga kontak. “Ini seperti Anda membaca pengetahuan tentang sepak bola dan kemudian pergi keluar dan mencoba bermain sepak bola,” kata Whitlow yang dikutip Huff Post.

Menurutnya, membaca dan memainkannya adalah dua hal yang berbeda. Itulah mengapa penting bagi keluarga untuk berbicara secara terbuka tentang keuangan seperti anggaran mereka, misalnya. Hal itu untuk mendorong pertanyaan dari anak dan menyiapkan anak agar lebih siap dalam keuangan masa depannya.

Bisa dengan cara dengan menjelaskan kartu di dompet bukanlah sumber uang tanpa batas setelah menggesek kartu debit atau kredit. Whitlow juga mencatat percakapan uang dengan anak adalah saat yang tepat untuk membahas perbedaan antara apa yang dibutuhkan dalam hidup dan apa yang ingin dimiliki dalam hidup.

Whitlow mengatakan tidak ada cara sempurna mengajari anak-anak tentang topik keuangan. Yang Anda harus capai adalah menciptakan rasa kewaspadaan tertentu tentang uang sehingga anak-anak akan bersiap untuk masa depan mereka.

Biarkan anak memiliki sejumlah uang

Anak belajar memahami uang/ilustrasi

© blogspot.com Anak belajar memahami uang/ilustrasi

Salah satu cara mengajari anak tentang uang adalah dengan membiarkan mereka memilikinya dan lebih baik dengan uang tunai. “Uang tunai adalah benda yang nyata,” kata pendiri dan direktur artistik Brain Arts Productions, Gwen Tulin. Dia menyarankan pengasuh mengambil uang tunai dari ATM dan gunakan uang itu di depan anak untuk berbelanja di sebuah toko yang rutin dikunjungi.

“Ini membantu membuat ide tertancap dalam pikiran seseorang,” kata Tulin.

Dia juga mengatakan bisa gunakan cara lain tetapi sebaiknya tetap menggunakan uang tunai.  Namun, ada juga pilihan bagi orang tua yang tidak keberatan dengan membiarkan anak mereka mengelola keuangan pada kartu ATM. Aplikasi BusyKid yang membuat orang tua dapat mengatur tugas anak, membayar mereka, dan memasukkan uang itu ke kartu Visa yang dapat diisi ulang untuk digunakan oleh anak-anak. Sehingga mereka yang melihat saldo menyesuaikan dengan setiap pembelian dan setiap tugas.

“Saya menganggapnya sebagai tugas pertama anak-anak dengan setoran langsung,” kata CEO dan pendiri BusyKid dan perencana keuangan bersertifikat, Gregg Murset.

Platform ini juga dapat anak-anak gunakan untuk membeli saham, jika Anda ingin anak pelajari keterampilan itu sejak dini.

Jangan kewalahan dengan bahasa keuangan

Pendiri dan CEO Goalsetter, Tanya Van Court mengatakan orang tua sulit memulai percakapan tentang uang dengan anak-anak mereka. Van Court memastikan untuk memperkenalkannya kepada anak-anaknya.

Untuk membantu keluarga lain melakukan hal yang sama, Goalsetter menawarkan Kamus Keuangan Perkotaan yang menjelaskan istilah keuangan dan mengaitkannya dengan film, acara TV, lirik lagu, dan banyak lagi.

Pendiri dan CEO Pipeline Angels, Natalia Oberti Noguera, mengatakan pentingnya untuk memperkenalkan anak-anak ke ide ekonomi lain dan menghubungkan uang dengan hidup mereka sebagai orang dewasa. “Kami semakin baik dalam membuat anak-anak berpikir tentang kewirausahaan,” kata Noguera.

Uang dapat menjadi alat membantu orang lain

Ketika berbicara tentang uang dengan anak-anak Anda, ketahui fakta beberapa orang lebih istimewa daripada yang lain. BusyKid menggabungkan daftar amal dimana anak dapat berdonasi dan Goalsetter mengelompokkan tiga tujuan anak. Tujuan tersebut, antara lain menabung untuk masa depan, menabung untuk hal-hal dan pengalaman, dan berbagi dengan orang lain. Terakhir, mendukung anak-anak melakukan tiga tujuan itu dengan uang yang mereka hasilkan.(Ani Nursalikah)

%d blogger menyukai ini: