29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Jadi Freelancer dengan Pendapatan Tak Tetap, Bagaimana Cara Investasi?

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Menjadi seorang freelancer atau pekerja lepas belakangan menjadi pilihan bagi mereka yang tak ingin terikat kontrak pekerjaan.

Namun, dengan berbagai kebebasannya, tentu banyak risiko yang harus dihadapi oleh para pekerja lepas, salah satunya soal pendapatan. Umumnya, para pekerja lepas tidak memiliki pendapatan tetap.

Lalu, masih bisakah para pekerja ini bisa melakukan investasi secara teratur setiap bulannya?

Founder Finansialku sekaligus Perencana Keuangan Melvin Mumpuni menjelaskan, seharusnya para pekerja lepas setiap bulan memiliki target pemasukan. Sehingga, alih-alih beralasan tidak melakukan investasi teratur lantaran pendapatan yang diterima berbeda di setiap bulannya, Melvin menjelaskan, para pekerja freelance harus membuat perencanaan tahunan yang terukur layaknya pelaku bisnis.

“Sebenarnya cara mainnya kayak orang bisnis. Dia bikin planning penjualan dan setahunnya berapa, kemudian minimum penjualan seperti apa,” ujar Malvin di Jakarta, Selasa (18/12/2018).

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber MediaIlustrasi fotograferThinkstockphotos.com

Dengan pendapatan yang terencana, serta pengeluaran yang terukur, berinvestasi pun menjadi hal yang tak mungkin bagi para pekerja freelance. Malvin menjelaskan, seorang pekerja lepas harus berupaya sekuat tenaga untuk bisa mencapai target tersebut sehingga bisa menutupi pengeluarannya.

“Freelance itu kalau menurut saya bukan berarti ada alasan untuk mendapatkan pendapatan. Kalau saya freelance yang akan saya lakukan adalah untuk menentukan target pemasukan saya setiap bulan,” ujar dia.

Seperti Dimas (24), fotografer freelance sekaligus mahasiswa arsitektur di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, mengaku dirinya menargetkan bisa mendapatkan pendapatan Rp 2 juta per bulan. Namun, dia juga kerap mendapatkan hasil pendapatan melampaui target hingga Rp 4 juta per bulan.

Sebab, selalin menekuni fotografi, Dimas juga melakukan bisnis penjualan suvenir atau pernak-pernik untuk pernikahan juga freelance designer.

“Bisnis itu paling gede sih, dari Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per bulannya,” jelas Dimas.

Untuk pengelolaan, Dimas menjelaskan, dirinya slelau menyisihkan di depan untuk kebutuhan keluarga seperti biaya internet, listrik, BPJS, serta uang untuk orang tua.

“Baru sisanya ditabung sama jajan,” jelas dia.

Selain itu, Adipati (27), seorang ilustrator freelance di Jakarta pun memiliki target tersendiri untuk pendapatannya setiap bulan. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Adipati menargetkan bisa memiliki pendapatan Rp 10 juta per bulannya.

Dalam pengelolaan, dia selalu menyisihkan terlebih dahulu uang untuk disimpan, sementara sisanya untuk dibelanjakan.

“Tapi jujur pengelolaan ini belum maksimal. Masih banyak yang harus dibenahi,” jelas dia.

Penulis: Mutia Fauzia

Editor: Sakina Rakhma Diah Setiawan

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: