29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

4 Kecamatan di Lampung Selatan Rusak Parah Akibat Tsunami

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Kondisi pasca tsunami Anyer

© Disediakan oleh Kumparan Kondisi pasca tsunami Anyer

Warga pesisir pantai Kota Bandarlampung berbondong-bondong berdatangan ke lokasi pengungsian di kantor Gubernur Lampung. Mereka trauma atas insiden tsunami yang melanda daerahnya semalam.

Sekretaris Daerah Lampung Hamartoni Ahadis meminta masyarakat tetap waspada. Dia juga mengimbau masyarakat tidak terpancing dengan isu atau kabar hoaks terkait tsunami susulan.

“Jangan mudah terpercaya bila ada yang mengatakan tsunami akan terjadi. Tetapi harus tetap waspada dan berhati-hati bila terjadi gelombang tinggi susulan,” ujar dia, Minggu (23/12).

Informasi yang dihimpun Kanto SAR Lampung, sebanyak tujuh orang warga meninggal dan 89 luka-luka akibat gelombang tinggi air laut di Lampung Selatan.

“Dampak terparah terjadi di empat kecamatan: Lampung Selatan, yakni Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo, dan Katibung,” kata Kepala BPBD Lampung Selatan, I Ketut Sukerta, saat dihubungi dari Bandarlampung, seperti dilansir Antara.

Pihaknya akan terus mencari kemungkinan korban lainnya di empat kecamatan tersebut. Dia menjelaskan, BPBD Lampung Selatan, sejak tadi malam hingga sekarang terus mencari dan mengevakusi korban. “Fokus kita di empat kecamatan tersebut,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menegaskan segera menyiapkan kebutuhan yang diperlukan para korban bencana tsunami. Pelaksana tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto mengatakan institusinya akan melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan semua pihak.

“Kami sangat terkejut dan berduka. Karena ini musibah alam tidak ada yang bisa menduga,” ujar Nanang. “Nanti pemerintah akan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.”

Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) menyatakan dampak tsunami dan gelombang tinggi yang menerjang pantai di Selat Sunda, khususya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan, dan Serang, menyebabkan 43 orang meninggal dunia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan data sementara hingga pukul 07.00 WIB menunjukkan tsunami dan gelombang tinggi telah menyebabkan 43 orang meninggal dunia, 584 orang luka-luka, dan dua orang hilang.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya.(Reza Aditya Ramadhan)

%d blogger menyukai ini: