29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Di Samarinda, Ada Kuliner Jepang Dijual Mulai Rp 18.000

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber MediaSlice Beef Teppanyaki ala Hoshi ini hanya seharga Rp 20 ribuKompas.com / Gusti Nara

Tak perlu merogoh kocek hingga ratusan ribu untuk menikmati masakan Jepang. Salah satu resto makanan Jepang, Hoshi Kios di Kota Samarinda, Kalimantan Timur menawarkan masakan Jepang dengan harga mulai Rp 18.000.

Ahmad Ihsanul (28), Hibaichi (chef) sekaligus owner Hoshi mengatakan, pihaknya sengaja menciptakan masakan Jepang dengan harga yang murah. Alasannya, agar semua kalangan di Kota Samarinda bisa menikmatinya. Angka yang ditawarkan relatif sangat murah, dari harga Rp 18.000 hingga Rp 25.000.

“Kalau bisa murah dan tidak murahan, lalu untuk apa menjual dengan harga selangit. Sebagai chef, saya ingin menghadirkan citarasa kuliner dari berbagai negara. Namun harus sesuai kantong semua kalangan,” kata Ahmad.

Beberapa jenis masakan yang ada di Hoshi adalah Teppanyaki varian ayam dan daging, Ramen dan nasi goreng. Namun tidak lama lagi, pihaknya akan segera merilis beberapa menu masakan Jepang lain

“Sementara ini dulu yang ada, segera akan dirilis menu-menu lainnya,” sebutnya.

Meski demikian, kios yang berada di Republik Coffee, Komplek GOR Segiri Samarinda ini selalu ramai dikunjungi penikmat masakan Jepang. Pasalnya, kualitas masakan chef Ihsan dipastikan menggunakan bahan-bahan yang berkelas dan berkualitas.

“Yang paling laris itu Slice Beef Teppanyaki, masakan daging terriyaki dipadu dengan sayur-mayuran hijau dan merah ini paling banyak diburu setiap malam. Terlebih di Malam Minggu, pesanan menu tersebut bisa melonjak drastis,” katanya.

Bahan-bahan yang digunakan adalah daging top side seberat 50 gram yang dimasak dengan minyak zaitun, pakcoy atau sawi putih, sawi putih, wortel, kecambah yang bebas pestisida. Menu ini juga disebut sebagai menu diet, lantaran daging yang digunakan harus bebak lemak dan tidak menggunakan minyak sembarangan.

“Saat ini untuk benar-benar mendapatkan daging top side, harus menggunakan daging impor. Sambil mencari-cari kualitas daging yang benar-benar berkualitas di Samarinda. Minyak yang digunakan adalah minyak zaitun. Tidak ada lemak, sehingga menu ini adalah menu diet yang benar-benar bagus,” jelasnya.

Cara masaknya pun unik, disediakan tempat duduk di bar yang berhadapan langsung dengan meja kerja chef. Selain bisa berbincang-bincang saat, pelanggan juga bisa melihat chef mempersiapkan makanannya.

Adegan koki yang terampil memasak daging dengan gaya yang menarik, mengaduk, mencampur, dan mencetak nasi tidak ubahnya seperti orang yang sedang atraksi seorang koki.

“Kebetulan saya adalah jebolan stand up comedy, jadi saya sering menggabungkan cara masak, atraksi masak dengan kisah-kisah yang lucu. Karena itu, tempat duduk favorit pengunjung adalah bar di depan chef. Nah itu salah satu yang menarik di Hoshi, selain menu, juga ada kedekatan emosional antara pengunjung dan chefnya,” ungkap adik kandung komedian Kemal Fahlevi ini.

Penulis: Kontributor Samarinda, Gusti Nara

Editor: Wahyu Adityo Prodjo

Copyright Kompas.com

%d blogger menyukai ini: