29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menperin: Ekonomi Digital Buka 17 Juta Lapangan Kerja di RI Pada 2030

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Lotte Shopping Avenue

© Disediakan oleh Kumparan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Lotte Shopping Avenue

Indonesia tengah bergegas memasuki ekonomi yang berbasis digital. Langkah ini diambil pemerintah agar bisa masuk dalam revolusi industri 4.0 yang serba canggih dengan perkembangan teknologi yang cepat. 

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, perubahan tren ini akan menciptakan banyak lapangan kerja. Kata dia, potensi lapangan kerja yang terbuka bisa mencapai 17 juta pada tahun 2030.

“Studi mengatakan net tenaga kerja Indonesia sampai 2030 dengan melakukan kegiatan ekonomi digital, kita menambah 17 juta tenaga kerja baru, di mana 4,5 juta dari sektor manufaktur, dan sisanya 12,5 dari turunan industri,” kata dia dalam sebuah forum diskusi di The Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Rabu (19/12).

Airlangga mengungkapkan, potensi itu bisa terwujud karena pada 2030 Indonesia memasuki bonus demografi yang mengungtungkan pertumbuhan industri. Sebab, jumlah penduduk berusia produktif lebih banyak ketimbang usia pensiun.

Ilustrasi financial technology, ekonomi digital

© Disediakan oleh Kumparan Ilustrasi financial technology, ekonomi digital

Hal ini tidak terjadi pada negara lain seperti Jepang, China, dan Singapura yang sudah lebih dulu menikmati bonus demografi. Karena itu, Indonesia harus menjadi pemain di dalam dan luar negeri. 

“Di situ ada peluang baru ekonomi sebesar sampai 2025 sampai USD 150 miliar. Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia terpacu naik,” lanjutnya. 

Saat ini sebenarnya Indonesia sudah menuju ke arah ekonomi digital yang maju dengan memiliki 4 unicorn. Salah satu unicorn yang ada, kapitalisasinya mencapai USD 8 miliar. 

Tapi capaian ini harus terus ditambah. Karena itu, kata dia, pemerintahan Joko Widodo di tahun 2019 akan memprioritaskan pada pembangunan manusia ketimbang pembangunan infrastruktur.

“Produktivitasnya meningkat. Tapi kita tidak melupakan revoluasi industri lain. Jadi Indonesia mungkin salah satu negara yang bergerak paralel dari revolusi industri 1, 2, 3, 4. Kita pilah industrinya. Misalnya industri kecil menegah seperti kerajinan dan tenun itu bukan pakai mesin. Jadi pemerintah juga punya keberpihakan di sana,” jelasnya.(Michael Agustinus)

%d blogger menyukai ini: