1 November 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

TKN Klarifikasi Polemik Ujaran Madura ‘Jokowi Pole’ atau ‘Jokowi Mole’

Berita ini diberdayakan untuk viva.co.id

Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengklarifikasi polemik ujaran dalam bahasa Madura, “Jokowi mole”, saat Presiden berkunjung ke Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Frasa yang jadi viral di media sosial itu, menurut TKN, sesungguhnya “Jokowi pole” tetapi kemudian dipelesetkan atau direkayasa menjadi “Jokowi mole”. Meski kedua frasa itu berbeda satu huruf saja, maknanya jelas berlainan: frasa “Jokowi pole” berarti “Jokowi lagi”, sedang yang kedua bermakna “Jokowi pulang”.

“Padahal yang disampaikan warga Madura adalah ‘Jokowi pole’, artinya Jokowi satu kali lagi menjadi presiden RI,” kata anggota TKN, Zuhairi Misrawi, dalam keterangan tertulisnya yang diterima VIVA, Jumat, 21 Desember 2018.

Zuhairi, sebagai putra asli Madura, meyakini sikap yang ditunjukkan dalam video itu sengaja dibuat oleh segelintir orang. Ia menolak menanggapi berlebihan video yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak untuk menjatuhkan Jokowi dalam kunjungannya itu.

Politikus PDIP Zuhairi Misrawi dalam forum konsolidasi kader PDIP se-Sumatera Utara di Kabupaten Asahan, Minggu, 16 Desember 2018.

© VIVA Politikus PDIP Zuhairi Misrawi dalam forum konsolidasi kader PDIP se-Sumatera Utara di Kabupaten Asahan, Minggu, 16 Desember 2018.

Sebab ia merasa Jokowi selama memimpin membawa banyak perubahan bagi masyarakat Madura. Dia mencontohkan, di antaranya program sertifikat tanah, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, PKH, dan lain-lainnya telah memberikan manfaat bagi warga Madura. “Oh ya, saya lupa, tol Suramadu juga gratis,” ujarnya.

Atas dasar itulah Zuhairi menilai aksi penolakan Jokowi dalam video itu hanya ulah segelintir orang. Apalagi dalam video terlihat seorang pria, mengacungkan jari sebagai simbol dukungan terhadap pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Peristiwa teriakan ‘Jokowi Mole’ bukan menggambarkan mayoritas masyarakat yang mengapresiasi keberhasilan Jokowi.

“Memang, Jokowi difitnah melalui media sosial melalui isu PKI, anti-Islam, dan anti-ulama. Isu ini, menurut saya, hanya isu murahan, karena faktanya Jokowi menggaet cawapres dari kalangan ulama, dan kemarin di Bangkalan didukung oleh para ulama. Belum lagi, Jokowi memberikan bantuan ke berbagai pesantren melalui program pembangunan rusunawa santri,” katanya. (mus/Mohammad Arief Hidayat,Eduward Ambarita)

%d blogger menyukai ini: