29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Payudara budak perempuan proyek Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan di awal abad 19 membuat mata Don Lopez risi. Mereka hanya mengenakan kain yang terlilit sebatas pinggang dan membiarkan buah dada mereka terbuka, pakaian keseharian pada masa itu. 

Lopez tak biasa melihat pemandangan ini di negerinya sendiri. Ia menyodorkan selembar kain dan memerintahkan menutup barang berharga yang menggantung di dada perempuan itu.

Couvrir le coûtant,” ucap Don Lopez yang artinya, “Tutuplah biaya itu.” Biaya atau barang berharga yang dia maksud adalah payudara si perempuan. 

Begitulah tulis Remy Silado dalam penggalan kisahnya di novel Pangeran Diponegoro dan juga Perempuan Bernama Arjuna 5: Minasanologi dalam Fiksi. Kata “coûtant” yang susah dikecap budak-budak itu berubah menjadi kutang. Perintah Lopez inilah yang diyakini Remi menjadi cikal bakal kutang. 

Meski masih mesti diteliti kebenarannya, cerita tersebut banyak dipercaya sebagai awal lahirnya kata kutang sebagai penutup dada di Nusantara. 

Nusantara Sebelum Kancut dan Kutang

© Disediakan oleh Kumparan Nusantara Sebelum Kancut dan Kutang

Kutang dan berbagai jenis pakaian dalam lain menjadi konsep baru yang dikenal penduduk di Nusantara setelah berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain. Sebelumnya, laki-laki atau perempuan bisa sama-sama bertelanjang dada. 

Pakaian yang ada pada umumnya berupa selembar kain yang dililit di dada—khusus perempuan—atau di pinggang. Daerah-daerah lain memiliki baju kurung, baju bodo, sejenis rompi dari rotan, kulit hewan atau pohon, atau rumbai dedaunan kering. 

Semuanya memiliki satu fungsi, menutupi bagian tubuh tertentu dan menghangatkan badan di udara tropis bagi mereka yang gemuk atau kurus dengan payudara besar atau kecil. 

Lipsus

© Disediakan oleh Kumparan Lipsus

Sementara di belahan bumi lain yang berudara lebih dingin, seperti negara asal Lopez, perempuan menggunakan berlapis-lapis pakaian untuk menutup tubuh bagian atas. Perempuan menggunakan korset sebagai pakaian dalam untuk menahan udara dingin membentuk tubuh ideal yang menggairahkan pria. 

Korset bisa terbuat dari logam, kayu, atau gading lalu dilapisi kain dengan detail renda dengan atau tanpa tali bahu. Ia dipasang untuk menghasilkan siluet bentuk dada hingga pinggang wanita yang berlekuk. 

Dalam buku Cultural Encyclopedia of the Breast, Merril D. Smith menuliskan bahwa pinggang yang ramping namun pinggul besar dengan ukuran dada yang kecil adalah bentuk tubuh ideal di masa Renaissance. Di sinilah korset berperan penting untuk menekan dada si perempuan, mengetatkan bagian pinggang agar tampak kecil, serta menahan perut. 

“Buah dada yang besar dianggap buruk rupa sebab diasosiasikan dengan usia tua dan kemiskinan. Payudara yang besar lebih cepat turun karena usia atau banyaknya anak yang harus disusui. Oleh karenanya hal itu dianggap tak menarik bagi laki-laki.” tulis Merril. 

LIPSUS SEJARAH UNDERWEAR, Pakaian dalam wanita yang dibuat pada tahun 1905

© Disediakan oleh Kumparan LIPSUS SEJARAH UNDERWEAR, Pakaian dalam wanita yang dibuat pada tahun 1905

Model pakaian wanita pada masa itu biasanya berpotongan rendah di bagian dada agar bisa memperlihatkan sensualitas di bagian payudara. Bagian perut hingga pinggang dirancang pas di badan, sementara di bagian pinggul dibuat lebih mengembang untuk menghasilkan siluet lekuk tubuh perempuan yang ideal di masa itu. 

Ketika pecah perang dunia, pembuatan korset tak lagi menggunakan logam. Alasan utamanya, logam diperlukan untuk keperluan perang. Sementara alasan kedua yang sebenarnya telah lebih dulu diupayakan adalah persoalan kesehatan. 

Penggunaan korset bisa membuat perempuan mengalami sesak nafas hingga dislokasi organ. Namun alasan ini sulit menjadi landasan hingga Bernard Baruch, Ketua Dewan Perang Amerika pada 1917, secara khusus meminta perempuan berhenti menggunakan korset dari logam. 

Pasca-perang dunia, standar bentuk tubuh ideal perempuan sedikit berubah. Alih-alih payudara kecil dengan badan yang kurus, di masa ini tubuh perempuan berisi dianggap lebih menggairahkan. Sebab mereka yang kurus dan pucat dianggap wanita kelas bawah yang miskin dan kelaparan akibat perang. 

(NOT COVER) LIPSUS SEJARAH UNDERWEAR, Pakaian dalam Eropa 1900an

© Disediakan oleh Kumparan (NOT COVER) LIPSUS SEJARAH UNDERWEAR, Pakaian dalam Eropa 1900an

Menurut Merril perubahan bentuk ideal itu juga dipengaruhi oleh sebuah gambar representasi kecantikan perempuan yang diciptakan oleh Charles Dana Gibson. Lukisan perempuan yang kemudian dikenal dengan Gadis Gibson itu menggambarkan perempuan Eropa-Amerika yang anggun nan elegan. 

Gadis itu memiliki bentuk tubuh jam pasir yang montok dengan payudara besar. Pinggangnya yang kecil, kontras dengan ukuran pinggulnya yang besar. Hal itu dimungkinkan dengan bantuan korset untuk menahan perut dan membentuk lekuk pinggang. 

Sementara bagian dada, mulai dikenal bustehouder alias BH (dibaca: beha, penopang dada) dengan bantalan untuk menampilkan kesan dada lebih besar. Sehingga bentuk tubuh seperti jam pasir tercipta. 

Lipsus

© Disediakan oleh Kumparan Lipsus

Di tahun 1920an, gambaran feminitas ini sempat mendapat perlawanan. Karakter kartun pekerja perempuan yang diciptakan Nell Brinkley yang mencita-citakan hak suara bagi perempuan menjadi idola baru. Gadis Brinkley memiliki tampilan yang kontras dengan sensualitas karakter Gadis Gibson. 

Ia memiliki tampilan lebih boyish dan riang dengan rambut pendek model bobs, mengenakan korset demi menampilkan bentuk tubuh yang ramping, dipadu dengan rok lurus dan ketat. Mereka yang mengikuti tren ini sebagai bentuk pemberontakan disebut dengan flapper.

Tapi gambaran ideal bentuk tubuh jam pasir untuk perempuan tak pernah benar-benar lenyap. Bentuk tubuh jam pasir kembali populer bersama dengan lahirnya ikon film seperti Marilyn Monroe dan Jayne Mansfield. 

Di tahun ini juga model push up bra mulai populer demi menampilkan payudara yang penuh terangkat dan menampakkan belahan dada. Tampilan belahan dada yang penuh populer karena dianggap indah di mata para pria. 

Bagi pengamat gaya hidup, Sonny Muchlison, “Pakaian dalam memang untuk menyokong keseksian penampilan perempuan.” Sejak awal diciptakan pakaian ini ditujukan untuk mencetak bentuk tubuh tertentu yang dianggap ideal sesuai pada masanya. 

Kutang tak hanya sekadar penutup dada, barang yang berharga. Tapi juga menawarkan hal lain: menonjolkan sensualitas tubuh perempuan tanpa membuatnya tampak cabul. 

Mereka yang memiliki payudara kecil, bisa menggunakan push-up bra dengan bantalan busa sehingga bisa tampak lebih besar. Jika khawatir payudara akan turun, ada bra berkawat yang siap menjaga penampakan si buah dada. “Jadi sebenarnya fungsinya lebih ke estetis,” ujar Sonny. (Rina Nurjanah)

%d blogger menyukai ini: