28 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

KH Ma’ruf Amin Prihatin Ada Ulama Jadi ‘Ahli Maki-maki’

Berita ini diberdayakan untuk viva.co.id

Calon Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengungkapkan keresahan dengan banyaknya ulama yang sering memaki ketika menyampaikan khotbah di depan umat. Hal itu dia sampaikan saat menerima relawan milenial di kediamannya, di Rumah Situbondo, Jakarta, Selasa 18 Desember 2018.

Awalnya, Ma’ruf ditanya oleh salah seorang perwakilan bernama Ladrina Bagan terkait maraknya khotbah yang menghujat. Ladrina meminta pendapat Ma’ruf terkait unek-uneknya tersebut.

Ma'ruf Amin di tengah generasi milenal.

© VIVA Ma’ruf Amin di tengah generasi milenal.

“Saya mau tanya pendapat abah soal ulama yang tidak santun. Nah, yang tidak santun juga banyak, itu bagaimana bah?” tanya Ladrina

Mendengar pertanyaan itu, Ma’ruf memberikan pandangannya. Ma’ruf cukup prihatin beberapa ulama yang dinilai menjadi “ahli maki-maki”. Mereka terkadang menjadikan mimbar salat Jumat untuk menghujat dan membenci sesama manusia.

“Itu sudah menyimpang dari tugas keulamaan,” kata dia.

Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (non aktif) itu menilai, mimbar-mimbar masjid atau acara keagamaan harusnya mengajak orang ke jalan tuhan dan berbicara kebaikan. Kalau pun ada berbeda pendapat, bicarakan secara santun tanpa perlu berbicara dengan intonasi yang sifatnya provokatif.

“Jadi kalau cara untuk mengajak orang dengan memaki-maki dengan mengejek dengan menyakiti, itu tidak ada tuntunannya,” kata dia.

“Itu mungkin karena nafsu egonya sehingga dia melampaui apa yang seharusnya sebagai ulama,” ujarnya.

Sebagai Calon Wakil Presiden, Ma’ruf punya rencana. Jika terpilih, dia akan menyiapkan cara agar ulama atau penceramah yang rajin memaki untuk saling koreksi diri.

Memaki, menghujat dan memengaruhi orang dengan cara buruk, kata dia, hanya memicu konflik di masyarakat. Ia ingin dakwah yang didengarkan kepada umat mengajarkan kebaikan bukan menyarankan adanya permusuhan.

“Kalau ada yang tersinggung, kemudian marah lalu ada konflik itu tidak baik menimbulkan permusuhan. Tetap yang harus kita bangun adalah mencintai, menyayangi apalagi satu agama, lain agama pun sesama bangsa itu harus mencintai,” kata dia. (ren/Syahrul Ansyari,Eduward Ambarita)

%d blogger menyukai ini: