25 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

KSAD akan Temui Kepala BPOM Bahas Izin Edar Obat Covid

Berita ini diberdayakan untuk republika.co.id
Oleh; Ratna Puspita

© Dispenad KSAD Jenderal Andika Perkasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa akan meminta agar izin edar untuk obat Covid-19 bisa segera diterbitkan. Andika akan bertemu dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pekan ini ntuk membahas soal izin edar itu.

“Hari Rabu saya menghadap ketua BPOM itu dalam rangka secara resmi mohon dukungan untuk percepatan izin,” ujar Andika di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8) lalu.

Wakil Ketua Pelaksana I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Komite PCPEN) itu berharap, produksi obat tersebut akan mendapat subsidi dari pemerintah pada awal peredarannya. Menurut dia, itu karena mengingat kondisi bangsa saat ini yang tengah dilanda pandemi.

“Harus ada anggaran pemerintah awal yang diturunkan ke situ, produksi untuk distribusi awal. Menurut saya itu perlu,” jelasnya.

Andika memastikan, proses produksi massal obat Covid-19 tersebut hanya perlu menunggu izin edar dan tidak ada lagi kendala. Semua proses uji klinis, kata dia, telah selesai dilaksanakan.

Untuk itu, ia akan mencoba bertemu dengan Kepala BPOM. “Makanya kami sudah langsung akan berbicara rencana produksi. Siapa membuat apa, yang akan membeli bahan baku bagaimana, kemudian anggaran dari pemerintahnya seperti apa,” jelas dia.

Sebelumnya, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur, menyelesaikan penelitian obat untuk penanganan pasien Covid-19. Penelitian yang dilakukan bersama TNI AD, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Polri itu disebut akan menjadi obat pertama untuk penyakit Covid-19 di dunia.

“Karena ini akan menjadi obat baru maka diharapkan ini akan menjadi obat Covid-19 pertama di dunia,” jelas Rektor Unair, Mohammad Nasih, dalam acara penyerahan hasil uji klinis fase III di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8) lalu.

Menurut Nasih, obat baru tersebut merupakan hasil kombinasi dari tiga jenis obat. Dia mengatakan, di luar negeri ketiga obat itu diberikan satu per satu kepada pasien. Hasil kombinasi itu menunjukkan efektivitas yang besar.

Selain itu, kata dia, dosis yang dihasilkan pun lebih rendah jika dibandingkan saat obat itu diberikan secara satu per satu kepada pasien. Dia mengklaim, meskipun hasil kombinasi, BPOM tetap menganggap obat yang dihasilkan Unair digolongkan pada obat baru.

“Setelah kami kombinasikan daya penyembuhannya meningkat dengan sangat tajam dan baik. Untuk kombinasi tertentu itu sampai 98 persen efektivitasnya,” jelas dia.

%d blogger menyukai ini: