24 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Arcandra Tahar Buka Suara, Chevron dan Shell Hengkang dari Indonesia

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com
Oleh; kumparanBISNIS

© Disediakan oleh Kumparan Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Sektor migas nampaknya sedang tertekan. Kondisi ini tercermin dari dua raksasa migas asing yang dikabarkan bakal hengkang dari Indonesia.

Pertama, Shell Upstream Overseas Ltd juga mundur proyek pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Adapun alasan Shell mundur, karena industri migas tertekan akibat penyebaran virus corona, membuat harga minyak rendah dan investasi migas terpangkas.

Kedua, PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) berencana melepas sebagian hak kelolanya (participant interest/PI) dalam proyek Indonesia Deepwater Development (IDD). Hak kelola yang mau dilepas ini berada dalam IDD fase dua yakni di Lapangan Gendalo-Gehem.

Menanggapi kondisi tersebut, mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, hengkangnya dua perusahaan ini dari tanah air bukan semata-mata karena Indonesia tidak menarik lagi di mata investor. Lebih dari itu, Arcandra menilai ada banyak faktor yang menyebabkan kedua perusahaan ini memilih mundur.

“Faktornya enggak bisa kita lihat dari satu sisi. Kalau sebuah company tidak melakukan investasi, diversifikasi atau dia jual, itu terjadi karena banyak faktor,” ungkap Arcandra dalam konferensi pers daring, Rabu (29/7).

© Disediakan oleh Kumparan Ilustrasi kilang minyak Foto: Reuters/Todd Korol

Menurut Arcandra, investasi tidak mengenal kewarganegaraan. Investor akan masuk pada proyek yang dirasa menguntungkan. Bahkan perusahaan sekelas Chevron dan Shell juga bisa beralih dari yang awalnya produksi gas menjadi minyak. Bahkan ada juga perusahaan yang awalnya produsen minyak justru ganti fokus ke green technology.

Sehingga Arcandra tidak melihat hengkangnya Chevron dan Shell karena iklim investasi di Indonesia buruk. Menurut Arcandra, itu murni langkah perseroan untuk mencari bentuk bisnis yang sesuai dan menguntungkan bagi mereka.

“Mungkin enggak iklim investasinya enggak oke? Saya melihatnya enggak seperti itu. Melihatnya lebih komperehensif. Dia membandingkan. Dia akan lihat parameternya mana yang menguntungkan, mana yang inline dengan tujuan korporasi mereka untuk 5-10 tahun mendatang,” tutupnya.

%d blogger menyukai ini: