8 Agustus 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com
Oleh; kumparanNEWS

© Disediakan oleh Kumparan Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe Foto: Reuters/Christophe Archambault

Perdana Menteri Prancis Édouard Philippe dan pemerintahannya pada Jumat (3/7) mengundurkan diri.

“Pada hari ini Edouard Philippe menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden, pengunduran diri diterima,” kata pernyataan kantor Kepresidenan Prancis, seperti dikutip dari Reuters.

Rencananya, PM pengganti Philippe akan diumumkan beberapa jam ke depan. Selama itu, jabatan PM masih akan dijalankan oleh Philippe.

© Disediakan oleh Kumparan Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe Foto: Reuters/Charles Platiau

Isu mengenai pengunduran Philippe mengemuka dalam beberapa waktu belakangan.

Hal ini dipicu oleh niat Presiden Emmanuel Macron untuk merombak pemerintahannya. Keinginan muncul lantaran popularitas Macron yang menurun akibat kebijakan penanganan pandemi virus coron.

Macron saat ini seperti dikejar oleh waktu. Sebab, pemilu Prancis rencananya digelar pada 2022 mendatang.

© Disediakan oleh Kumparan Emmanuel Macron, Presiden Prancis. Foto: AP Photo/Francois Mori, Pool

Macron memang dilanda kecemasan jelang pemilu. Pada pilkada serentak di Prancis 28 Juni lalu, warga mengalihkan dukungan kepada kelompok oposisi dari Partai Hijau.

Meski demikian, Macron masih bisa sedikit bernafas lega, Philippe yang mencalonkan diri sebagai wali kota pada Pilkada Kota Le Havre berhasil menang. Le Havre merupakan kota pelabuhan penting di Prancis.

Macron dan Philippe dikenal sebagai mitra dekat. Walau begitu, pergantian kepala pemerintahan Prancis dianggap sebagai judi besar bagi Macron.

Philippe dikenal sebagai sosok populer di publik Prancis. Bahkan, pria tersebut diprediksi dapat menjadi saingan Macron dalam Pilpres Prancis 2022.

Namun, mempertahankan Philippe juga menjadi masalah besar bagi Macron. Macron secara politik dinilai terlalu lemah bila terus mempertahankan Philippe dan tidak mengizinkannya menjalani tugas sebagai Wali Kota Le Havre.

Hal itu dapat pula membuktikan bahwa pemerintahan Macron dan partainya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perombakan kabinet.

%d blogger menyukai ini: