27 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas

PP Muhammadiyah Surati Kapolri soal Tewasnya Qidam

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co
Oleh; Tempo.co

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

TEMPO.CO, Jakarta – Pengurus Pusat Muhammadiyah menyurati Kepala Kepolisian RI Jenderal Idham Azis terkait tewasnya warga Poso, Sulawesi Tengah, Qidam Al Fariski Mofance. Qidam diduga merupakan korban salah sasaran satuan tugas Tinombala.

“Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat bahwa kasus tersebut tidak seharusnya terjadi,” seperti dikutip dari surat PP Muhammadiyah bertanggal 25 Juni 2020.

Surat yang ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas itu menyatakan keluarga Qidam telah menunjuk Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah sebagai kuasa hukum.

Dalam surat itu, PP Muhammadiyah menyatakan tewasnya Qidam bertentangan dengan tugas kepolisian untuk memberikan perlindungan dan keamanan, serta menambah banyak jumlah korban kekerasan yang dilakukan oleh aparat.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas

Atas peristiwa itu, PP Muhammadiyah menyampaikan tiga sikap, pertama menyesalkan secara mendalam tewasnya Qidam yang diduga dilakukan anggota polisi. Kedua, mendesak Kapolri memerintahkan pemeriksaan dan penyelidikan perkara ini, serta memproses hukum pihak-pihak yang diduga terlibat pembunuhan itu.

Ketiga, PP Muhammadiyah meminta Kapolri menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat mengenai status para korban tewas, termasuk Qidam. Sebab, selama ini kepolisian selalu mengasosiasikan para korban terafiliasi dengan kelompok radikal, tanpa proses persidangan.

Majalah Tempo edisi 6 Juni 2020 menyebut Qidam merupakan warga Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara berumur 20 tahun. Ia tewas pada 9 April 2020, diduga tewas diberondong peluru aparat. Qidam ditembak di Desa Tobe, Poso Pesisir Utara.

Qidam yang sehari-hari membantu kakeknya memanen Nilam itu sedang kabur karena berselisih dengan neneknya yang melarangnya pergi di tengah pandemi Covid-19. Qidam sempat meminta minum di rumah seorang warga Desa Tobe. Seorang penduduk melaporkan kehadiran pemuda asing itu ke polisi.

Tak lama kemudian, datanglah dua Satuan Tugas Tinombala mengepung rumah itu. Qidam berlari ke belakang dan terdengarlah rentetan suara tembakan. Di jenazah Qidam, ditemukan bekas pukulan dan sayatan di paha.

%d blogger menyukai ini: