8 Agustus 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Amelia Hapsari, wanita Indonesia pertama juri Piala Oscar

Berita ini diberdayakan untuk BBC News Indonesia

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Amelia Hapsari

Pembuat film dokumenter Amelia Hapsari menjadi warga Indonesia pertama yang diundang untuk menjadi juri Piala Oscar.

Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, itu termasuk dalam 819 orang dari jajaran aktor dan pembuat film yang mendapat undangan untuk bergabung dengan Academy of Motion Pictures Arts and Sciences, organisasi profesi sineas di industri perfilman Hollywood.

Menyusul gerakan #OscarsSoWhite pada 2016, yang memprotes dominasi orang kulit putih di Akademi, organisasi profesi itu berjanji untuk menambah jumlah anggota perempuan serta kulit hitam, etnis Asia, dan minoritas etnis lainnya (Black, Asian, and Minority Ethnic; BAME).

Kepada BBC News Indonesia, Amelia, 41 tahun, mengatakan dirinya “senang” telah mendukung rekan-rekan dari industri dokumenter dunia yang selama beberapa tahun belakangan secara sadar berusaha menambah keberagaman di ajang penghargaan Oscar — salah satunya dengan mencari suara-suara dari negara dunia ketiga sebagai juri.

Amelia mengatakan itulah yang akan menjadi kontribusinya di Akademi.

“Dengan saya sudah masuk, berarti tugas saya untuk mem-vote film-film yang terus menyuarakan keberagaman, dan juga terus membantu lagi bertambahnya nominasi dan juri dari Asia Tenggara,” ujarnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah, melalui telepon.

Siapa Amelia Hapsari?

Peran Amelia sebenarnya lebih banyak di balik layar. Dia menjabat sebagai direktur program di In-Docs, organisasi nirlaba yang bertujuan memperkenalkan film-film dokumenter dari Asia Tenggara ke dunia internasional.

Pada 2017 dan 2018, In-Docs bekerja sama dengan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mengadakan forum dokumenter internasional Docs by The Sea.

Dalam forum tersebut, mereka memilih 30 proyek dokumenter dari Asia Tenggara yang kemudian dipresentasikan kepada para pengambil kebijakan di industri dokumenter internasional, termasuk penyelenggara festival-festival film tenama seperti Sundance dan Tribeca.

Dari situlah Amelia mulai dipandang sebagai kurator film-film dokumenter berkualitas dari Asia Tenggara.

“Mereka melihat bahwa film-film yang kami dukung ini sangat berkualitas. Banyak festival-festival yang kemudian jadi mitra kami … Kemudian banyak sekali film-film Asia Tenggara yang masuk ke festival-festival kemudian mendapat tawaran broadcast dari berbagai negara,” ujarnya.

Sebagai direktur program di In-Docs, Amelia menginisiasi dan menyelenggarakan berbagai program yang mendukung para pembuat film dokumenter di Indonesia dan Asia Tenggara, antara lain IF/Then dan Good Pitch.

Usaha Amelia dan rekan-rekannya untuk mengangkat film-film Asia Tenggara dihargai oleh para pembuat film maupun industri. Beberapa orang dari jaringan itu merupakan anggota Akademi.

“Karena itu kemudian mereka melihat kami sebagai sebuah hub penting di dunia, juga di Asia Tenggara, jadi mereka mikir ‘oke Amelia harus masuk ke Akademi’,” imbuh Amelia.

Amelia juga pernah terlibat langsung sebagai produser dan sutradara dalam beberapa proyek film pendek, seperti Jadi Jagoan ala Ahok (2012) dan Akar (2013).

Rising from Silence, dokumenter yang dia produksi tentang para penyintas tragedi 1965, meraih Piala Citra sebagai film dokumenter pendek terbaik pada Festival Film Indonesia 2018 dan disiarkan secara internasional lewat saluran televisi NHK Jepang.

Amelia telah membuat film sendiri sejak 2001. Dia kemudian kuliah di Amerika Serikat dan menghabiskan 15 tahun di luar negeri sebelum kembali ke Indonesia pada 2012 dan mulai aktif di industri perfilman Indonesia.

Ke depannya, dia berharap industri film dunia bisa menjadi semakin inklusif.

“Mereka semakin inklusif dalam kerja sama dengan bakat-bakat film dunia dan menerima cerita-cerita enggak hanya dari AS,” ujarnya.

© AFP/Getty Aktris berkebangsaan Kuba Ana de Armas, yang membintangi film thriller Knives Out, termasuk dalam angkatan baru aktor yang diundang untuk bergabung dengan Akademi.

Lampaui target keberagaman

Jumlah aktor dan pembuat film yang diundang untuk memilih film pemenang Piala Oscar tahun ini melampaui target keberagaman yang ditetapkan Akademi.

Dari 819 orang yang diundang, 45 persennya adalah perempuan dan 36 persennya non-kulit putih.

Para pesohor termasuk Ana de Armas (Knives Out), Zendaya (Spider-Man Homecoming), Awkwafina (Crazy Rich Asians), Constance Wu (Crazy Rich Asians), dan Yalitza Aparicio (Roma) juga diundang. Begitu pula aktor berkebangsaan Inggris George MacKay (1917) dan Florence Pugh (Midsommar).

Mereka akan memilih film-film pemenang Piala Oscar tahun depan, yang bakal dilangsungkan dua bulan lebih lambat dari biasanya, akibat pandemi virus corona.

“Sangat senang menjadi anggota baru Akademi dengan begitu banyak orang-orang brilian,” kata sutradara Farewell Lulu Wang dalam sebuah cuitan.

“Meskipun masih banyak yang perlu dilakukan, angkatan ini lebih kelihatan seperti juri dari SEJAWAT dibandingkan sebelum-sebelumnya, jadi ini satu langkah ke arah yang benar.”

Presiden Akademi David Rubin mengatakan dalam sebuah pernyataan pers: “Kami selalu merangkul talenta-talenta luar biasa yang mencerminkan variasi kaya komunitas film global kami, khususnya saat ini.”

Sebelum calon anggota baru ini diungkap, anggota Akademi secara keseluruhan terdiri dari 32 persen perempuan, meningkat dari 25 persen pada 2015.

© AFP Awkwafina, salah satu aktor baru yang diundang ke Akademi, memenangkan Piala Golden Globe pada Januari atas penampilannya di The Farewell.

Jumlah anggota dari “komunitas etnis/ras yang kurang terwakili” juga telah bertambah, dari 8% pada 2015 ke 16% pada 2018.

Keberagaman di ajang Piala Oscar telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, dengan film seperti Parasite dan Moonlight menyabet piala film terbaik masing-masing pada 2019 dan 2017.

Beberapa aktor dalam film Parasite, termasuk Jang Hye-Jin, Jo Yeo-Jeong, Park So-Dam, dan Lee Jung-Eun, juga mendapat undangan dari Akademi.

Dalam daftar undangan juga terdapat aktor dan sutradara Nigeria Genevieve Nnaji, yang mengarahkan sekaligus membintangi film Lionheart, yang didiskualifikasi dari kandidat film internasional terbaik pada 2019.

Akademi mengatakan mereka akan meluncurkan skema baru, Aperture 2025, untuk semakin meningkatkan keberagamannya dalam lima tahun ke depan.

%d blogger menyukai ini: