29 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com
Oleh; kumparanNEWS

© Disediakan oleh Kumparan

Tumpukan barang di depan Mursyid seperti tak ada habisnya. Sudah sejak pagi ia mengepak berbagai barang khas Baduy. Menjelang senja pekerjaan itu tak kunjung usai.

Pemesanan barang khas Baduy melalui situs jual beli ataupun media sosial belakangan melonjak. Mursyid, salah seorang warga Baduy, turut kebanjiran pesanan. Beberapa barang yang dipesan itu seperti madu, kain tenun, jahe merah, gula aren, dan lainnya.

“Kadang kalau lagi banyak, jam 10 malam juga belum pulang mengepak. Kalau mengepak memang di bawah, di Pasar Ciboleger,” ujarnya kepada kumparan melalui telepon pada Jumat (19/6).

Ciboleger merupakan pintu masuk menuju Desa Kanekes, tempat tinggal suku Baduy. Mursyid tinggal di Kampung Cempaka, sekitar 45 menit berjalan kaki dari Pasar Ciboleger. Jual beli online sudah dilakoninya sejak lama tapi sepanjang pengalamannya berdagang belum pernah pesanan secara online membludak seperti di masa pandemi ini.

Ia mengandalkan media sosial, facebook dan instagram, dan satu situs jual beli. Beberapa makanan dan minuman dengan khasiat kesehatan paling banyak dipesan, seperti madu, jahe merah, dan bandrek Baduy. Belakangan pesanan justru banyak diterimanya melalui media sosial.

Mursyid sendiri lebih sering menggelar dagangan ketika ada pameran. Ia beberapa kali ikut pameran di Jakarta ataupun kota-kota lain. Sementara ini aktivitas dagang seperti itu terpaksa ia tinggalkan, ada larangan dari tetua Baduy untuk berkeliaran di tangah pandemi.

“Sementara tidak dulu keluar Baduy. Pameran juga tidak ada, kalau ada juga untuk sementara tidak ikut dulu. Karena sudah diminta para tetua untuk tidak keluar dulu sampai selesai corona,” jelasnya.

Tetapi jual beli online membawa berkah sendiri. Ia mengaku ketika pesanan sedang membludak, Ia bisa mengantongi mencapai keuntungan 2-3 juta sehari.

Namun tak semua orang Baduy seberuntung Mursyid. Warga lain masih menggantungkan rezeki dari bisnis konvensional. Mulyono misalnya, warga Baduy ini biasa mengais rezeki menjadi guide wisatawan. Tetapi semenjak penutupan kawasan wisata Baduy bisnisnya mandek.

© Disediakan oleh Kumparan Seorang wanita Baduy menenun kain khas Baduy di Kampung Baduy Luar, Lebak, Banten. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Mulyono memiliki 16 orang guide yang ia ketuai. Namun saat ini semuanya menghentikan layanan. Biasanya ia dapat mengantongi Rp 200 sampai 300 ribu setiap hari, kini rezekinya mampet.

“Sejak ada pandemi sudah tidak ada pemasukan lagi,” keluhnya.

Keuntungan menjadi guide wisata ini ia pakai untuk membeli kebutuhan pulsa, membayar cicilan, hingga tabungan.

Sektor wisata Baduy memang sangat terpengaruh oleh pandemi Corona. Mulyono mengaku beberapa wisatawan nekat datang, mereka tetap disambut oleh warga Baduy. Namun ia sendiri menutup layanan open trip bagi wisatawan dan mengingatkan rekan-rekannya untuk tak membawa wisatawan.

“Kami punya lisensi bukan hanya jelek dampak penyakitnya nanti. Ada dampak lainnya juga nanti kalau misalkan kita tetap ngeyel bawa, wisatawan apa kata masyarakat,” ucap dia.

Soal kebutuhan pokok, semua orang Baduy memiliki ladang yang bisa digarap. Peraturan adat mewajibkan setiap orang yang sudah berkeluarga wajib menanam padi minimal seperempat hektare.

Beberapa warga Baduy pun boleh menggarap lahan di luar Desa Kanekes. Tetapi hasil bercocok tanam itu tetap harus dibawa ke Kanekes. Mereka memiliki leuit (lumbung padi) untuk mengatasi masa-masa krisis pangan. Mereka, termasuk Mulyono tak khawatir kekurangan kebutuhan pokok.

“Yang sekarang ini mencari makan untuk hari itu juga sudah susah di zaman sekarang. Tapi kalau kita masih punya stok padi di leuit jadi nanti bisa numbuk,” ucap dia.

© Disediakan oleh Kumparan Warga menyeberangi jembatan di Kampung Baduy Luar, Lebak, Banten. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Mereka tak hanya menanam padi tetapi juga kencur dan jahe yang bisa dijual.

Namun rezeki cekak tetap saja mengganggu. Ibu Mulyono misalnya, terpaksa hanya menyimpan hasil tenun yang dikerjakan oleh beberapa 50 pengrajin. Modal yang terlanjur keluar belum dapat kembali.

“Jadi mereka enggak ada modal beli benang, ibu saya kasih hasilnya nanti dibagi dua. Jadi kalau dapat kain 4 lembar itu dua lembar buat yang punya benang, yang dua buat yang menenun,” jelasnya.

Juli, warga Baduy lain yang juga menggeluti bisnis kerajinan, mengungkap kerugiannya karena penutupan sektor wisata kala pandemi. Tak ada satu barang dagangan pun yang laku di Pasar Ciboleger karena sepi wisatawan.

Ia mengaku tak menghitung secara pasti pendapatannya secara harian. Hanya saja mereka biasa meneguk keuntungan besar di akhir pekan dari kehadiran wisatawan. Kini benar-benar tak ada yang mampir.

“Kalau Sabtu-Minggu itu ramai sampai ratusan orang yang datang ke Baduy tapi sekarang ditutup karena aturan adat. Kan ada Jaro, jadi mereka melarang. Ada tulisan-tulisan juga ditempel,” ungkapnya.

Juni dan Mulyono sama-sama mengaku aktivitas berdagang orang Baduy pun banyak berhenti. Himbauan agar tak berdagang di luar Lebak selama pandemi pun sudah ditetapkan.

Dua peneliti UPN Veteran Jakarta, Suharyati dan Ika Nurlaili Isnainiyah, menyebutkan penggunaan telepon seluler untuk mengunggah produk kerajinan oleh orang Baduy baru sedikit.

Kedua peneliti itu menuliskan makalah berjudul Internet Marketing bagi Perajin Baduy yang dimuat dalam Jurnal Mitra milik Lembaga Penelitian dan Pengabdian UNIKA Atmajaya Vol. 3 Edisi 2 November 2019. Data penggunaan telepon seluler untuk berdagang oleh orang Baduy ini mereka peroleh ketika menggelar edukasi internet marketing.

Sekitar separuh dari 28 peserta pelatihan itu mengaku sudah menggunakan telepon genggam sejak 5 tahun belakangan. Sisanya baru menggunakan pada 2-3 tahun.

Namun baru sekitar 36 persen dari 28 peserta diketahui telah berhasil mengunggah produk kerajinan mereka ke internet. Mereka memanfaatkan instagram untuk menjual produk kerajinan Baduy.

“Jumlah peserta edukasi sebanyak 28 orang dengan usia relatif muda dan telah memiliki smartphone atau gawai. Mereka rata-rata telah memiliki produk yang siap diunggah di media sosial untuk dipromosikan produknya,” tulis makalah tersebut.

© Disediakan oleh Kumparan Foto udara Kampung Baduy Luar, Lebak, Banten. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Kini Pandemi sudah berjalan selama berbulan-bulan. Rasa khawatir masih menggelayuti mereka jika wisata Baduy dibuka oleh pemerintah. Penyebaran COVID-19 masih mengancam.

“Soalnya kalau dibuka orang itukan banyak, aturan adat kan nggak ada semisal pengetesan atau apa. Jadi saya juga khawatir juga kepada masyarakat kami. Menurut saya sebelum ini benar-benar sehat semua ya kami mau terjaga,” aku Juni.

Lurah Kanekes (Jaro) Saija mengungkap sektor wisata dan perdagangan warga Baduy memang sangat terdampak oleh pandemi kali ini. Pemasukan bagi beberapa pelaku usaha wisata dan pedagang konvensional mandek. Mereka harus putar otak, seperti dagang online, agar dapat menyambung keuntungan.

Tetapi melakukan dagang dengan internet belum dikenal oleh semua warganya. Makanya mereka memilih untuk tak beraktivitas lebih dulu. Tetapi soal pertanian tetap berjalan seperti biasa.

“Cuma dampaknya seperti orang yang berdagang memang kena dampak enggak ada pemasukan, cuma kalau orang yang bertani mah biasa-biasa wae,” jelas dia.

%d blogger menyukai ini: