29 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com
Oleh; Ari Welianto

© Disediakan oleh Kompas.com Mahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi duduk di atap Gedung MPR/DPR.

KOMPAS.com – Orde Baru (Orba) merupakan sistem pemerintahan Indonesia yang menganut paham demokrasi.

Orde Baru identik Suharto yang menjadi memimpin Indonesia sejak 1966 hingga 1998. Orde Baru menggantikan Orde Lama pada era kepemimpinan Suharto.

Selama era Orde Baru berlangsung, perekonomian Indonesia berkembang pesat.

Pembangunan infrastruktur yang meningkat dan merata, sehingga dapat dinikmati masyarakat.

Perkembangan itu dibarengi dengan praktek korupsi yang merajalela.

Kalimaksnya, pada pertengahan 1997, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi budaya.

Namun, pada 1998 kekuasaan Orde Baru runtuh setelah Presiden Suharto mengundurkan diri.

Krisis moneter yang terjadi pada 1997 menjadi penyebab kekuasaan Orde Baru runtuh.

Runtuhnya Orde Baru

Dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008) karya Merle Calvin Ricklefs, runtuhnya rezim Orde Baru terjadi ditengah-tengah krisis ekonomi, kerusuhan, dan pertumpahan darah di jalan-jalan.

Krisis Asia yang dimulai di Thailand menghantam Indonesia. Rupiah selama ini berada dalam kisaran Rp 2.500/US$, namun nilai itu segera merosot pada Juli 1997.

Pada Agustus 1997, nilai rupiah turun 9 persen. Bank Indonesia mengakui tidak bisa membendung rupiah terus merosot.

Pada Januari 1998, rupiah tenggelam hingga level Rp 17.000/US$ atau kehilangan 85 persen.

Kondisi itu hampir semua perusahaan modern di Indonesia bangkrut.

Respon pertama pemerintah terhadap krisis ekonomi dengan diumumkan reformasi. Namun proyek-proyek para kroni dan keluarga masih dilindungi.

Perjanjian dengan IMF pada 1997 mengakibatkan 16 bank tutup. Hanya dua bank milik keluarga dibuka kembali.

Kondisi tersebut semakin meneguhkan anggapan para pengamat dalam dan luar negeri bahwa rezim ini sudah terbelit nepotisme, korupsi, dan inkompetensi.

Suharto, pada Januari 1998 mengumumkan rancangan anggaran negara yang absurd. Karena memasukan asumsi nilai tukar rupiah yang berlaku enam bulan sebelumnya.

Muncul demonstrasi

Demontrasi besar-besarnya terjadi akibat dampak dari kondisi bangsa Indonesia.

Pada Mei 1998 demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa sudah turun ke jalan-jalan. Mereka menuntut perbaikan ekonomi dan reformasi total.

Demontransi semakin marak dan meluas hingga berlangsung di daerah-daerah. Pada 12 Mei, empat mahasiswa tertembak saat demonstrasi di depan Universitas Trisakti.

Peristiwa tersebut merupakan titik balik dengan demontrasi yang semakin marak.

Demonstrasi yang terjadi berujung dengan kerusuhan masal. Terjadi pembakaran dan penjarahan

Suharto kemudian mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh.

BJ Habibie, yang sebelumnya sebagai wakil presiden diangkat menjadi presiden.

Mundurnya Suharto sebagai presiden menandakan munculnya era reformasi.

Faktor lain

Dalam buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto (2007) karya Baskara T. Wardaya, stabilitas dan pertumbuhan dua legitimiasi utama Order Baru yang berusia tiga dasawarsa lebih ambruk diterjang badai krisis ekonomi yang melanda negeri sejak 1997.

Kondisi itu memberi kesahihan tentang detik-detik keruntuhan Orde Baru pimpinan Suharto.

Runtuhnya rezim Orde Baru semata-mata tidak hanya karena krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia.

Sesungguhnya runtuhnya rezim Orde Baru diprakondisikan dan didahului dengan runtuhnya ideologi yang mengawalnya.

Ideologi yang sejatinya bersifat luhur dan mulia, namun oleh rezim Suharto diselewengkan menjadi alat legitimasi.

Dalam perkembangannya fungsi ideologi sebagai alat legitimasi sudah tidak efektif lagi.

Ideologi mengalami devaluasi makna atau inflansi setelah masyarakat kian cerdas oleh pengaruh pendidikan, globalisasi dan pergaulan yang intens dengan transformasi kehidupan modern.

Ideologi lalu menjadi “macan ompong”. Di mana yang selama ini dipakai untuk membungkus kebijakan-kebijakannya, membuat sepak terjangnya kian terbaca.

%d blogger menyukai ini: