21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Dari keluarga kurang mampu, kisah 4 anak Indonesia ini bikin haru

Berita ini diberdayakan untuk MERDEKA.COM

Selasa, 24 April 2018 07:50 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com – Gapai cita-citamu setinggi langit. Untuk mencapai cita-cita itu perlu perjuangan yang keras dan sungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan di bidang apapun.

Biaya atau dana sering kali menjadi hambatan. Apalagi jika terlahir dari keluarga yang ekonominya pas-pas. Namun, jangan berkecil hati. Anak-anak muda ini membuktikan dengan kerja keras dan semangat belajar yang tinggi, mereka bisa lulus dengan hasil memuaskan. Berikut contohnya

 

1. Cerita anak tukang batu

Bripda Asrul.

Merdeka.com – Bripda Asrul (20) berhasil dilantik di Sekolah Polisi Negara (SPN) Makassar pada Maret. Perjuangan anak tukang batu menjadi bagian keluarga korps Bhayangkara ini tidak mudah. Dengan keterbatasan dana dari orang tuanya tidak menyurutkan semangat Asrul untuk mencapai cita-citanya sebagai polisi. Bermodal semangat dan tekun belajar Asrul berhasil lulus

Asrul adalah anak sulung dari dua bersaudara. Putra dari pasangan Syamsuar (46) dan Rusnah (44), warga BTN Batara Ugi Blok A1 No 9 Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Syamsuar ayah Asrul bekerja seorang tukang batu. Jika orderan sepi, dia ngojek atau pungut sampah, besi tua atau tembaga di jalan untuk dijual. Hingga saat ini, rasa tidak percaya ternyata bisa lulus jadi polisi masih melingkupi keluarga Asrul. Membuat Syamsuar, sang ayah tidak bisa menahan haru saat bercerita mengenai nasib baik anak sulungnya ini. “Selalu saya bilang ke Asrul, belajar dan berusaha. Ikuti saja tes, semuanya tergantung Yang di atas. Ibunya juga selalu bilang begitu ke anaknya dan ternyata benar-benar lulus. Harapan saya ke Asrul, tetap perbaiki akhlak karena kalau akhlak tidak baik, bisa rusak semua,” tutur Syamsuar di tengah isak tangisnya.

 

2. Nurasih anak penjual nasi kucing

Nurasih anak penjual angkringan lulusan terbaik UMY.

Merdeka.com – Berasal dari keluarga kurang mampu tak membuat Nurasih patah semangat mendapatkan pendidikan layak. Justru keterbatasan yang dimilikinya mampu mengantarkan Nurasih menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Nurasih menuturkan untuk membesarkan dan membiayainya beserta seorang kakaknya, ibunya yang bernama Sujeti rela untuk membanting tulang. Sejak Nurasih duduk di bangku SD, Ibu Sujeti setiap harinya membuat nasi kucing yang nantinya disetorkan ke warung angkringan tak jauh dari rumahnya. Selain kuliah, Nurasih pun menyambi bekerja di sebuah biro perjalanan di kawasan Maguwoharjo. Jika kuliah di pagi hari, Nurasih sorenya akan bekerja. Sedangkan jika kuliahnya sore hari maka Nurasih akan masuk kerja pada pagi hari. Sampai akhirnya dia bisa lulus dengan mengantongi IPK 3.94 dan masa studi selama 3 tahun 11 bulan, saat wisuda Nurasih pun berhak menggunakan selempang putih bertuliskan ‘terbaik’

 

3. Anak tukang becak

Raeni.

Merdeka.com – Raeni seolah tak malu saat menghadari wisudanya, lulusan dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan bangga dan senyum yang terus mengembang dia diantar oleh orang tuanya. Bukan dengan mobil mewah, Raeni diantar oleh bapaknya, Mugiyono menggunakan becak.

Dikutip dari situs resmi Unnes, unnes.ac.id, pada 2014 silam, ayahanda Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, diakuinya, penghasilnnya tak menentu. Sekitar Rp 10Rp 50 ribu. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

 

4. 8 Kali gagal tes masuk polisi jadi lulusan terbaik

Bayu Arsyifa Rahmadi.

Merdeka.com – Perjuangan memang tidak akan berkhianat, hal ini yang dialami langsung oleh Bayu Arsyifa Rahmadi. Bayu adalah sosok yang pantang menyerah, buktinya? Pemuda yang menempuh pendidikan di SPN Betung, Sumatera Selatan ini berhasil mendapatkan predikat lulusan terbaik setelah gagal mencoba tes masuk 8 kali.

Selama menempuh pendidikan, putra kedua dari seorang mantan sekuriti salah satu bank swasta di Palembang itu, dipercaya menjadi komandan resimen. Hal ini lantaran terlihat jiwa kepemimpinan yang dimilikinya. Ayah Bayu, Abimanyu mengatakan, anaknya itu masuk polisi tanpa dipungut biaya, kecuali untuk keperluan fotocopy berkas saat pendaftaran. Menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil sehingga selalu ikut tes meski gagal.

%d blogger menyukai ini: