25 November 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Susi Air Terpaksa PHK Dan Rumahkan Karyawan

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com
Oleh; kumparanBISNIS

Merebaknya virus corona di Indonesia berimbas pada terganggunya industri penerbangan. Salah satunya Susi Air, yang harus menutup 99 persen penerbangannya.

Pemilik Susi Air yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengaku bahwa dampak pandemi membuat seluruh operasional bisnis maskapai nyaris berhenti total.

“Susi Air hampir 99 persen penerbangan berhenti. Semua terkena dampak,” urainya melalui akun Twitter resminya seperti dikutip kumparan, Kamis (4/6).

Bahkan, Susi mengaku telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan sebagian pegawai. PHK ini karena situasi yang menekan industri penerbangan.

“Kami pun harus merumahkan dan mem-PHK karyawan karena situasi memang tidak memungkinkan,” lanjutnya.

Kamipunsamaharusmerumahkan&memPHKkaryawan..karenasituasimemangtidakmemungkinkan.—SusiPudjiastuti(@susipudjiastuti)June4,2020

Sebelumnya saat menjadi pembicara Live Corona Update kumparan pada 29 April 2020 lalu, Susi mengatakan perusahaannya saat ini hanya melayani penerbangan kargo dan pengiriman alat medis.

Sementara untuk mengangkut pasien dan kebutuhan medis, Susi Air lebih selektif. Sebab Susi mengaku cukup was-was jika pasien yang diangkut nyatanya positif COVID-19.

“Tempo hari kami bawa medifact ke Singapura atau dari kota lain, sekarang kita harus tanya penyakitnya apa. Kalau COVID-19 kan tidak bisa transportasi kan, harus langsung diisolasi,” ujarnya.

© Disediakan oleh Kumparan Susi Pudjiastuti. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Ia menghitung, dengan kondisi yang dialami saat ini, dunia maskapai hanya mampu bertahan hingga 3 bulan. Oleh karena itu, Susi Pudjiastuti berharap pemerintah bisa memikirkan insentif berupa bantuan modal untuk maskapai secara umum.

Sementara khusus untuk mengatasi masalah tersebut di Susi Air, ia melakukan beberapa langkah. Seperti menutup pos yang tidak produktif, hingga efisiensi biaya rumah tangga.

“Pengiriman logistik medis sekarang ini masih sangat sedikit, jadi kita sedang menunggu kalau kalau ada. Kedua menutup base-base yang tidak produktif, melakukan efisiensi cost housing, cost transporting, cost labour dari salary dan sebagainya,” jelas Susi.

© Disediakan oleh Kumparan
%d blogger menyukai ini: