25 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Pakar Epidemiologi Sayangkan Pernyataan Jokowi dan Anies

Berita ini diberdayakan untuk republika.co.id
Oleh; Esthi Maharani

© ANTARA/Siswowidodo Petugas kesehatan mengambil sampel darah pekerja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif menyayangkan pernyataan presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengklaim kasus virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) mulai turun atau melandai. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) telah mengingatkan pandemi virus ini masih lama.

“Saya menyayangkan pernyataan Pak Anies dan Pak Jokowi yang menyebutkan kasus Covid-19 turun dan melandai, padahal istilah itu sangat teknis. Meski mudah dipahami artinya, tidak mudah menjelaskannya,” ujarnya saat webinar bertema pasca PSBB dan Kehidupan Normal Baru, Kamis (28/5).

Secara sederhana, lanjut dia, indikator penurunan Covid-19 bisa dilihat jika kasus harian Covid-19 konsisten turun selama 7-14 hari. Jika hal itu terjadi, bisa dikatakan Covid-19 terkendali. Namun, faktanya, kasus Covid-19 di Indonesia saat ini masih fluktuatif. Ia menyebutkan, dalam dua pekan terakhir, kasus Indonesia masih bertambah. Ini terlihat dari rata-rata kasus baru per pekan lalu sebanyak 535 dan minggu ini mencapai 677.

“Jadi, jelas penularan Covid-19 masih meningkat. Bahkan kita belum sampai puncak kasus,” ujarnya.

Indonesia, dia melanjutkan, saat ini masih terkendala dengan masalah pemeriksaan spesimen, hingga kapasitas pemeriksaan. Ia memprediksi, jika kapasitas pemeriksaan spesimen bisa memenuhi target presiden yaitu 10 ribu per hari maka kasus baru Covid-19 yang terungkap antara 1.200 hingga 1.300 per hari. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah berhati-hati memberikan pernyataan terkait Covid-19.

Di kesempatan yang sama Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Sulawesi Selatan Ridwan Amiruddin menambahkan, kasus Covid-19 di Indonesia masih menuju titik puncak dan belum ada tanda melandai.

“Karena itu Indonesia terlalu cepat, terlalu dini melakukan kehidupan normal baru atau new normal,” ujarnya.

%d blogger menyukai ini: