2 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Hacker; Miliki Rahasia Memalukan Trump, Tuntut Rp 624 M

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co
Oleh; Tempo.co

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

TEMPO.CO, Jakarta – Sebuah kelompok hacker (peretas) terkenal telah mengklaim memiliki rahasia pribadi memalukan (dirty laundry) dari Presiden Trump dan mengancam akan mempublikasikannya segera jika tebusan ratusan miliar tidak dibayar.

Peretas yang sama yang berhasil menyerang selebriti firma hukum New York pekan lalu itu kini mengklaim memiliki “satu ton rahasia pribadi memalukan” tentang Presiden Trump, sebagaimana dilaporkan Forbes, Jumat, 15 Mei 2020.

Seperti yang pertama kali dilaporkan di Page Six, para peretas itu sekarang menuntut uang tebusan US$ 42 juta (Rp 624 miliar) dan mengancam akan mempublikasikan informasi yang mereka miliki jika tidak dibayar dalam pekan ini.

Peretas yang bersangkutan adalah penjahat siber operator ransomware REvil. Kelompok itu, juga dikenal sebagai Sodinokibi, memiliki sejarah serangan panjang dan memalukan, termasuk serangan menghancurkan terhadap Travelex. Yang terbaru adalah serangan ransomware terhadap pengacara New York yang kliennya termasuk Lady Gaga, Madonna dan Bruce Springsteen.

Selain sistem penguncian, grup ini mengoperasikan sistem double-whammy di mana mereka mengeksfiltrasi data sebelum mengenkripsi dan menggunakan ini sebagai leverage untuk memfasilitasi pembayaran tebusan. Jika tidak membayar, para peretas mempublikasikan dokumen dari hasil curian.

Setelah mencuri 756 gigabyte data yang dilaporkan dari firma hukum Grubman, Shire, Meiselas dan Sacks dan memposting dokumen yang berkaitan dengan Lady Gaga dan Madonna di web gelap, para penyerang kini menaikkan taruhan.

Permintaan tebusan awal adalah sebesar US$ 21 juta (Rp 312 juta), tetapi sekarang menjadi dua kali lipat setelah tidak dibayar.

Permintaan berikut kini telah muncul di situs web gelap peretas:

“Orang berikutnya yang akan kami publikasikan adalah Donald Trump. Ada pemilihan umum yang sedang berlangsung, dan kami menemukan satu ton rahasia pribadi memalukan tepat waktu. Tuan Trump, jika Anda ingin tetap menjadi presiden, lebih baik berbuat baik pada orang-orang, kalau tidak, Anda bisa melupakan ambisi ini selamanya. Dan bagi Anda para pemilih, kami dapat memberi tahu Anda bahwa setelah publikasi seperti itu, Anda tentu tidak ingin melihatnya sebagai presiden. Mari kita lupakan detailnya. Batas waktu satu minggu.”

FBI sedang menyelidiki insiden tersebut dan diketahui telah menyarankan firma hukum untuk tidak bernegosiasi dengan penyerang atau membayar uang tebusan karena ini akan melanggar hukum pidana federal.

Pernyataan lengkap yang diberikan kepada firma hukum Grubman, Shire, Meiselas dan Sacks menarik, karena menyatakan: “Kami telah diberi tahu oleh para ahli dan FBI bahwa bernegosiasi atau membayar tebusan kepada teroris adalah pelanggaran hukum pidana federal,” dan menyimpulkan, “kami berterima kasih kepada klien kami atas dukungan mereka yang luar biasa dan untuk mengakui bahwa tidak ada yang selamat dari terorisme siber saat ini. ”

Brett Callow mengatakan ini lebih dari menarik. “Sejauh yang saya tahu, tidak ada serangan ransomware yang pernah digolongkan sebagai tindakan teroris, dan itu termasuk serangan terhadap kota-kota dan rumah sakit AS, sehingga organisasi selalu diizinkan untuk bernegosiasi. Saya hanya bisa berasumsi klasifikasi ini adalah karena ancaman terhadap Trump.”

Yang bisa menjadi berita buruk bagi penjahat REvil, begitu disamakan dengan terorisme, perburuan aktor-aktor ancaman tersebut mengambil dimensi yang sama sekali berbeda. “Para penjahat telah menembak diri mereka sendiri dengan menyebut Trump,” kata Callow, “Tidak mungkin mereka dapat mengumpulkan uang tebusan, jadi mereka mungkin akan menerbitkan sisa data atau melelangnya.”

FORBES | PAGE SIX

%d blogger menyukai ini: