1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Virtue Dragon, Perusahaan China Penampung 500 TKA

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com
Oleh; Virdita Rizki Ratriani

KOMPAS.com – Rencana kedatangan sebanyak 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) ditolak oleh pemerintah daerah (pemda).

Pemda maupun DPRD Sulawesi Tenggara sepakat menolak kedatangan WNA China tersebut ke lokasi perusahaan pemurnian ( smelter) di Morosi, Kabupaten Konawe, Sultra.

Penolakan pemda didasari atas kekhawatiran penyebaran wabah virus corona.

Sementara, Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Aris Wahyudi mengatakan, perusahaan yang akan mendatangkan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China sudah berupaya mencari pekerja lokal.

© Disediakan oleh Kompas.com Ratusan buruh PT Virtue Dragon Nikel Industri demonstrasi mendesak pembayaran pesangon dan menolak tenaga kerja asing di depan kantor perusahan itu

Kedua perusahaan tersebut yakni PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel yang berlokasi di Sulawesi Tenggara.

“Mereka sudah berusaha mencari tenaga kerja lokal Indonesia, namun tak ada yang mau karena lokasi dan ketidakmampuan sesuai jumlah dan kualifikasi yang dibutuhkan,” ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (2/5/2020).

Lantaran alasan ketidakcukupan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membangun pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), maka Kemenaker pun menyetujui Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) tersebut.

Profil PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI)

PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) merupakan perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) yang berdiri sejak Agustus 2014.

Perusahaan ini berkantor pusat di Jakarta dan memiliki kantor cabang di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Induk perusahaan ini adalah De Long Nickel Co.LTD di JiangSu, China dan memiliki wilayah operasi di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Melansir Kontan, 9 Januari 2015, perusahaan pengolahan feronikel ini menginvestasikan 5 miliar dollar AS atau Rp 75 triliun untuk membangun pabrik feronikel di kawasan industri Konawe di Sulawesi Tenggara.

Selain untuk bangun smelter pengolahan feronikel, perusahaan juga akan membangun infrastruktur penunjang seperti pembangkit listrik dan pelabuhan sendiri.

“Kami akan membangun smelter hingga 2020 dengan kapasitas total 3 juta ton feronikel per tahun. Selain itu kami juga akan bangun pembangkit listrik dan pelabuhan sendiri,” ujar Andrew Zhu, President Director Virtue Dragon Nickel Industry, Jumat, (9/1/2015).

Ia menjelaskan nilai tersebut merupakan nilai total investasi untuk membeli 500 hektar lahan, membangun smelter pengolahan feronikel, pembangkit listrik, dan pelabuhan.

Perusahaan akan membangun pembangkit listrik untuk kebutuhan investasi tahap pertama dengan kapasitas 335 megawatt.

Adapun untuk pembangkit listrik untuk investasi tahap kedua dan ketiga, masih akan dihitung dan dibangun menyusul. Perusahaan juga berencana untuk membangun pelabuhan dengan kapasitas muatan hingga 50.000 ton.

Ajukan tambahan lahan

Melansir Kontan, 6 Juli 2017, saat ini Virtue Dragon hanya mengantongi perizinan untuk dua fase pembangunan industri nikel.

Fase pertama seluas 500 ha dengan investasi senilai 1 miliar dollar AS, yang kedua seluas 700 ha dengan investasi senilai 2,5 miliar dollar AS.

Namun, Virtue Dragon mengajukan penambahan lahan seluas 1.000 ha dengan total pengajuan izin pengelolaan lahan seluas 2.200 ha untuk dibangun Virtue Dragon Industrial Park.

Tetapi permasalahnnya, lahan yang diajukan perusahaan nikel asal China tersebut harus menggeser lahan pertanian pangan berkelanjutan.

Pemerintah pun berniat berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencarikan wilayah pertanian pengganti.

Wabah corona ganggu proyek Virtue Dragon

Wabah corona mulai berdampak terhadap pengerjaan proyek smelter di tanah air. Melansir Kontan, Kamis (12/3/2020), Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot mengungkapkan, hal tersebut antara lain dialami oleh PT Virtue Dragon Nickel Industry di Konawe, Sulawesi Tenggara.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Bambang Gatot

Menurut Bambang, pengerjaan konstruksi proyek pengembangan smelter stainless steel Virtue Dragon terganggu lantaran ratusan pekerja yang berasal dari China belum bisa kembali mengerjakan proyek.

“Virtue Dragon mengembangkan pabrik baja stainless steel. Mereka terganggu karena lebih dari 300 atau 400-an pekerja belum kembali,” kata Bambang dalam Coffe Morning yang digelar di kantornya, Kamis (12/3).

Bambang bilang, proyek smelter yang sudah beroperasi kemungkinan tidak akan mengalami gangguan.

Hanya saja, untuk proyek yang sedang konstruksi, Bambang tak menutup potensi akan terganggu oleh wabah corona.

Mengingat banyak smelter yang bekerja sama dengan perusahaan China dan memakai tenaga kerja dari Negeri Tirai Bambu itu.

%d blogger menyukai ini: