9 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Tiga Skenario Pengangguran, Terberat Capai 9,35 juta

Berita ini diberdayakan untuk kontan.co.id

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang saat ini terus mengalami eskalasi di Indonesia tidak hanya berpotensi mengakibatkan kontraksi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga peningkatan jumlah pengangguran dalam skala besar.

Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperkirakan peningkatan jumlah pengangguran terbuka pada kuartal kedua tahun ini dalam tiga skenario.

© R. REKOTOMO Ada tiga skenario pengangguran di Indonesia, yang terberat capai 9,35 juta orang

Pertama, potensi tambahan jumlah pengangguran terbuka secara nasional mencapai 4,25 juta orang dengan skenario ringan. Kedua, tambahan sebanyak 6,68 juta orang dengan skenario sedang. Ketiga, tambahan hingga 9,35 juta orang dengan skenario berat.

Adapun hitungan pemerintah, jumlah pengangguran sepanjang tahun ini akan bertambah 2,9 juta orang dalam skenario berat. Dan akan bertambah hingga 5,2 juta orang dalam skenario sangat berat.

“Penambahan jumlah pengangguran terbuka terjadi terutama di pulau Jawa, yaitu mencapai 3,4 juta orang dengan skenario ringan, 5,06 juta orang dengan skenario sedang dan 6,94 juta orang dengan skenario berat,” terang Core dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Rabu (15/4).

Sehingga, tingkat pengangguran terbuka secara nasional pada kuartal II-2020 diperkirakan mencapai 8,2% dengan skenario ringan, 9,79% dengan skenario sedang dan 11,47% dengan skenario berat.

Sementara itu, pada Agustus 2019, jumlah pengangguran terbuka tercatat 7,05 juta orang atau 5,28% dari total angkatan kerja. Ini belum termasuk yang setengah menganggur yang jumlahnya 8,14 juta, dan pekerja paruh waktu 28,41 juta orang.

Penambahan jumlah pengangguran terbuka yang signifikan bukan hanya disebabkan oleh perlambatan laju pertumbuhan ekonomi, yang menurut proyeksi Core Indonesia akan berkisar -2% hingga 2% pada tahun ini, melainkan juga disebabkan oleh perubahan perilaku masyarakat terkait pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial, baik dalam skala kecil maupun skala besar.

Perhitungan penambahan jumlah pengangguran terbuka tersebut didasarkan pada sejumlah asumsi. Pertama, situasi pandemi Covid-19 akan lebih buruk pada bulan Mei 2020 dibandingkan bulan April 2020.

Kedua, dampak pandemi Covid19 akan berbeda untuk lapangan usaha yang berbeda, status pekerjaan yang berbeda, dan wilayah yang berbeda, baik dilihat dari lokasi provinsi maupun lokasi kota dan desa.

Dalam hal ini, lapangan usaha yang diasumsikan mengalami dampak paling parah adalah penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan pergudangan dan perdagangan, baik perdagangan besar maupun eceran.

%d blogger menyukai ini: