27 November 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Dokter dan Perawat Juga Butuh Pertolongan

Berita ini diberdayakan untuk merdeka.com

Reporter : Supriatin
Editor ; LM Amirul Nasiru

©AFP

Merdeka.com – Menghadapi pandemi virus corona atau novel coronavirus, tenaga medis seperti dokter maupun perawat di rumah sakit bertaruh nyawa. Tanpa mengenal lelah dan takut, mereka terus berjuang merawat pasien terinfeksi hingga dinyatakan sembuh.

Para tenaga medis bak pahlawan virus corona. Nyaris seluruh waktu dihabiskan di rumah sakit untuk merawat pasien dan tak sempat pulang ke rumah masing-masing untuk bertemu keluarga.

Berdasarkan data nasional yang disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, sebanyak 514 sudah terinfeksi virus Covid-19, 48 meninggal, 29 berhasil sembuh, hingga Minggu (22/3). Dari 48 orang meninggal, enam di antaranya dokter.

Enam Dokter Meninggal

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengkonfirmasi enam dokter yang meninggal akibat terinfeksi virus corona dan kelelahan. Mereka adalah Hadio Ali, Djoko Judodjoko, Laurentius, Adi Mirsaputra, Ucok Martin, dan Toni D. Silitonga.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menjelaskan, Toni Daniel meninggal karena kelelahan. Ia merupakan Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Bandung Barat sekaligus Satgas Tim Penanggulangan Covid-19.

Sedangkan Adi Mirsaputra, Djoko Judodjoko, Hadio Ali dipastikan meninggal karena terjangkit virus corona. Sebagaimana hasil tes swab menunjukkan ketiganya positif terinfeksi Covid-19.

“Itu yang tiga selain dokter Toni konfirmasi sudah meninggal karena Covid,” ujarnya, Minggu (22/3).

Sekretaris Jenderal IDI, Adib Khumaidi mengatakan, penyebab tenaga medis terjangkit virus corona karena minimnya alat pelindung diri. Padahal, tenaga medis berada di garda terdepan saat menangani pasien terinfeksi. Kontak dekat dengan pasien tentu saja tak bisa dihindari tenaga medis sehingga potensi penularan sangat besar.

“Jadi tenaga medis, tenaga kesehatan yang terdampak awal harus dibekali proteksi diri,” katanya.

Alat Pelindung Diri Minim

Di tengah jumlah kasus Covid-19 terus bertambah, alat pelindung diri (APD) baik masker dan baju pelindung tenaga medis semakin menipis. Di RSUD Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) misalnya.

Tenaga medis rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Sumatera Selatan ini terpaksa memakai baju operasi bekas yang dicuci ulang sebagai ganti baju pelindung. Lantaran stok ADP sangat minim. Direktur RSUD Kayu Agung Mirda T Zulaikha mengakui stok masker, hand sanitizer dan baju pelindung diri tenaga medis sangat tipis.

“Di tengah penularan Covid-19 yang berkembang masif, kebutuhan sarana medis sangat krusial bagi kami. Apalagi RSUD Kayu Agung menjadi rumah sakit rujukan,” katanya, Kamis (19/3).

Stok yang ada hanya cukup untuk sekitar 3 hari ke depan saja. Termasuk APD baju pelindung yang hanya tersedia 20 set.

Namun untuk stok APD seperti kacamata dan sepatu boot, masih cukup aman dalam jangka waktu panjang. Untuk mengantisipasi minimnya stok hand sanitizer, RSUD Kayu Agung menyiasatinya dengan menggunakan sabun yang dijual di pasaran.

Sementara untuk mengantisipasi kekurangan baju pelindung diri antivirus, mereka menggunakan baju operasi bekas yang dicuci ulang.

“Daripada pelayanan terhenti sama sekali, kami terpaksa memilih memakai baju bekas operasi yang telah dicuci secara higienis,” ucap Direktur RSUD Kayu Agung ini.

Tenaga Medis RS Kesdam Cijantung Pakai Jas Hujan

rs kesdam cijantung pakai jas hujan

Kejadian serupa terjadi di RS Kesdam Cijantung, Jakarta Timur. Petugas medis terpaksa menggunakan jas hujan saat menangani pasien Covid-19 karena keterbatasan ADP. Foto petugas medis itu kemudian viral di media sosial.

Salah seorang dokter yang bertugas RS Kesdam Cijantung, Shinta Kharisma mengatakan, kekurangan ADP sudah teratasi. Ia memastikan tidak ada lagi petugas medis mengenakan jas hujan sebagai pelindung diri. Semua sudah sesuai SOP penanganan pasien.

tenaga medis di rs kesdam pakai jas hujan. 2020 Merdeka.com/istimewa

“Karena langsung ditindaklanjuti oleh satuan kami. Karena kami di bawah Kesdam Jaya. Sudah teratasi,” kata dia.

RSUD dr Slamet Garut juga mengalami hal yang sama. Pada Minggu (8/3), tim pengantar pasien terinfeksi Covid-19 terpaksa menggunakan jas hujan karena stok ADP habis. Pasien tersebut hendak dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Direktur RSUD dr Slamet Garut yang juga merupakan Penanggung jawab Tim Penanganan Infeksi Emerging Covid-19 Kabupaten Garut, dr Husodo Dewo Adi mengatakan, bahwa APD di tempatnya memang telah habis. Hal tersebut pun kemudian menjadi salah satu alasan pasien PDP corona dirujuk ke RSHS Bandung.

“Kita hanya memiliki stok 20 PDP, dan sekarang sudah sudah habis setelah menangani dua pasien yang pemantauan dan pengawasan corona. Memang stok dari suplyer APD ini kosong karena tingginya angka permintaan,” ujarnya.

Karena habisnya APD, kata Husodo, saat PDP corona dirujuk ke RSHS Bandung pun tim pengantar terpaksa menggunakan jas hujan. Walau masih dikatakan aman, namun menurutnya penggunaan APD lebih aman dibandingkan menggunakan jas hujan.

Pasien Ungkap Kondisi Tenaga Medis

Andrea Dian, menjadi artis Indonesia pertama yang mengumumkan bahwa dirinya positif terinfeksi virus corona. Lewat unggahan terbarunya, Minggu (22/3), Dian sempat menceritakan kondisi ruang perawatan.

Walau sudah dinyatakan positif corona, Dian mengaku kondisinya sekarang makin membaik. Artis berusia 34 tahun ini juga menyebut kalau dia berada di ruangan isolasi bersama lima pasien lain.

Di rumah sakit rujukan tempat Andrea diisolasi, ia mengatakan jika dokter dan perawat disitu amat sangat kewalahan menghadapi banyaknya pasien. Dia juga mengatakan jika dirinya termasuk beruntung karena mendapat tempat tidur, diketahui jika masih banyak pasien yang tidak mendapat tempat istirahat yang layak.

“Beberapa pasien bilang ada yang tidur di bangsal, bahkan di konteiner,” ungkap Andrea.

Ia juga berharap jika pihak yang berwenang lebih memperhatikan fasilitas para tenaga medis dalam menangani pasien.

“Mohon lebih diperhatikan lagi para tenaga medis ini, fasilitas dan penangan pasien yang diisolasi seperti hal hal dasar; sanitizer, tissue, sabun, air minum, kami kekurangan,” kata Andrea.

“Yang juga penting adalah penanganan pasien yang membludak. Kami semua, baik pasien atau tenaga kesehatan di sini butuh pertolongan. Butuh peralatan yang layak dan system yang jelas,” tambah Andrea.[rnd]

%d blogger menyukai ini: