25 November 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Nasrudin Joha: Sri Mulyani, Kamu Kesetanan?

Berita ini diberdayakan untuk eramuslim.com

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al Baqarah: 275)

Menkeu Sri Mulyani, kowe serius ? Mau malak rakyat lagi ? Karena utang riba yang kamu tumpuk ? Ingat Menkeu Sri Mulyani! Bagaimanapun Kowe itu Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Islam.

Sri, Tiga jenis tarif cukai baru yang mbok ajukan itu luar biasa membebani rakyat. Koe tega ambil cukai dari kantong plastik, cukai minuman bergula, dan cukai emisi kendaraan ? Opo tidak ada solusi lain ?

Sri, tak usah lah berdalih mengurangi konsumsi masyarakat dan penyelamatan lingkungan. Jujur saja kamu pingin menambah pundi-pundi penerimaan negara hingga Rp 23,5 triliun.

Sri, kamu bisa dimaki emak-emak. Mereka ga dapat tambahan uang belanja dari bapak-bapak, tapi beban konsumsi rumah tangga jadi naik.

Sri, kamu tahu arti cukai kantong plastik sekitar Rp 1,6 triliun ? Yang kamu sederhanakan dengan perhitungan usulan tarif cukai kantong plastik sebesar Rp 30 ribu per kilogram atau Rp 200 per lembar menjadi Rp 450 per lembar ? Itu bagi wong cilik, bagi anak buah Megawati, bagi pemilih PDIP, sangat membebani.

Kamu enak, tinggal bilang konsumsi plastik atau kresek Indonesia mencapai 107 juta kilo. Dengan usulan tarif cukai Rp 30 ribu per kg, maka konsumsi kantong plastik ditargetkan turun jadi 53 ribu kg. Itu omongan diatas kertas, faktanya ga gitu Sri.

Terus minuman ringan dengan usulan tarif cukai dikisaran Rp 1.500 – Rp 2.500 per liter untuk minuman teh kemasan hingga minuman bersoda. Itu kamu mau memaksa orang kehausan, atau otomatis bayar jatah preman demi menghilangkan haus ?

Kamu juga enak tinggal itung, minuman jenis minuman ringan yang diproduksi sekitar 747 juta liter hingga 2.191 juta liter. Dengan jumlah produksi ini, maka kamu enak saja mengepul potensi penerimaan negaranya mencapai Rp 6,25 triliun.

Terakhir, cukai emisi COs (karbon) pada kendaraan bermotor. Dengan usulan ini, potensi penerimaan negaranya mencapai Rp 15,7 triliun. Asumsi potensi penerimaan cukai ini sekurang-kurangnya sama dengan nilai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Pajak tersebut saat ini telah diterapkan untuk kendaraan dengan CC yang lebih besar.

Walah Sri, pemotor itu wong cilik. Kok ya tega-teganya urusan buang asap kenalpot saja dipalaki. BBM nya dipalak, asap kenalpotnya dipalaki, lengkap sudah.

Sebenarnya menkeu Sri Mulyani, kalau kamu memang ketua ikatan sarjana ekonomi Islam, pakar ekonomi Islam, seharusnya tahu pajak itu haram. Apalagi, uang pajak itu untuk bayar cicilan dan bunga utang riba negara yang gede banget.

Kamu harusnya sikat tuh tambang-tambang asing, semua itu menurut ekonomi Islam sah dan legal menjadi sumber pemasukan negara. Jangan main sikat kepada orang kecil, bisa kualat kamu Sri.(end/kfrts)

Editor; LM Amirul Nasiru

%d blogger menyukai ini: