14 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Wabah Tha’un Amwas Dalam Sejarah Islam

Kiriman; M Kadir
Ketua Properti Indonesia Sultra

Editor; Laode Muhamad Amirul Nasiru

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Hari ini umat manusia dihadapkan pada masalah pandemi Covid-19, virus yang telah me-wabah dan tak terlihat dengan mata secara langsung.

Pandemi Covid-19 telah membuat manusia diatas permukaan bumi ini ketakutan – tidak saja dikalangan para pemimpin dunia, pejabat tinggi, birokrat dan kaum politisi akan tetapi juga – Negara super power yang adi daya serta pembuat – semua kekuatan senjata canggih nan mematikan, pemilik kesombongan luar biasa tapi kini – semua bertekuk lutut, lumpuh dihadapan kekuasaan Allah SWT.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Photo; ilustrasi/timurmerdeka.com

Memang begitulah adanya Sunatullah, Allah SWT akan menghancurkan tingginya kesombongan dunia dengan sesuatu yang kecil bahkan sangat kecil hingga tak tampak oleh mata – agar runtuh dengan sehina-hinanya seperti Raja Namrud yang – mati hina hanya karena seekor lalat.

Tapi, bagaimana pun juga – masalah di bumi ini (Virus Corona-red) adalah masalah kaum muslimin juga, bagaimana Kita mensikapinya?

Hari ini, sebagian saudara Kita sudah tidak peduli dan pasrah saja bahkan ada yang sangat berlebihan sehingga tidak mau lagi berjabat tangan. Indahnya agama Islam itu seakan tiada bermakna lagi, pada hal semua masalah sudah ada solusinya.

Rasulullah SAW bersama para sahabatnya adalah orang-orang paling berjasa dalam hidup kita ini dan dalam kebingungan umat hari ini pun – mereka semua hadir dengan petunjuknya. Bukan hanya itu, tapi mereka juga hadir membawa kabar gembira untuk kita.

Kisah tentang Khalifah Umar bin Khattab RA yang dinukil dari karya Syaikh Ali Ash Shalabi diharapkan akan sedikit memberikan manfaat untuk Kita semua.

Tahun 18 Hijriah – hari itu, Khalifah Umar bin Khattab RA bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka kemudian berhenti didaerah perbatasan, sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha’un Amwas – yang melanda negeri tersebut.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, pasien virus Corona

Tha’un Amwas adalah suatu jenis penyakit menular dengan ciri-ciri benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah, sang Gubernur Syam ketika itu – seorang yang dikagumi Umar RA, datang ke perbatasan untuk menemui rombongan.

Dialog yang hangat antar para sahabat, akhirnya mengerucut pada pertanyaan; “apakah mereka masuk kota Syam atau pulang ke Madinah”.

Umar RA yang terkenal cerdas, meminta saran Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang ikut Fathu Makkah dan Mereka semua – berbeda pendapat. Sementara Abu Ubaidah menginginkan Mereka masuk kota Syam seraya berkata – mengapa Engkau lari dari takdir Allah SWT?

Mendengar pertanyaan itu, Umar RA menyanggahnya dan bertanya; “jika Kamu punya Kambing dan ada 2 lahan – yang satu subur dan yang satunya kering, kemana akan Engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering adalah takdir Allah maka ke lahan subur itu juga takdir Allah”.

“Sesungguhnya dengan Kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain”.

Perbedaan pendapat ketika itu kemudian berakhir setelah Abdurrahman bin Auf RA menyampaikan hadist Rasulullah SAW; “jika Kalian mendengar wabah melanda suatu negeri maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu – janganlah kalian keluar untuk lari darinya”. (HR. Bukhari & Muslim).

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, ilustrasi pulang kampung

Dengan hadist tersebut, Mereka mengambil sikap untuk pulang kembali ke Madinah meskipun kemudian Umar RA yang merasa – tidak kuasa meninggalkan sahabat yang dikaguminya, akhirnya menulis surat yang isinya mengajak Abu Ubaidah RA untuk ikut turut serta ke Madinah.

Diluar dugaan seraya menangis, Umar RA membaca jawaban balasan suratnya; “Abu Ubaidah adalah Abu Ubaidah, yang hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya. Dan bertambah-tambahlah tangis Umar RA ketika mendengar kabar; Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr dan sahabat-sahabat mulia lainnya Radiyallahu Anhum – wafat karena wabah Tha’un di negeri Syam.

Dikabarkan bahwa korban wabah Tha’un kala itu sekitar 20 ribu orang yang wafat, hampir separuh jumlah penduduk Syam yang ada. Dan akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash RA memimpin negeri Syam.

Kecerdasan luar biasa Amr bin Ash RA yang dapat menyelamatkan negeri Syam saat itu merupakan hasil Tadabbur dan kedekatan dengan alam yang dilakukan oleh Beliau. Amr bin Ash berkata: “wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jauhilah dan berpencarlah dengan mengambil tempat di gunung-gunung”.

Rakyat pun kala itu berpencar dan menempati gunung-gunung sementara wabah Tha’un pun berhenti, layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang akan terbakar.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, ilustrasi aropua meski anak-anak sekalipun.

Sekarang, bagaimana Kita bisa belajar dari orang-orang terbaik itu – bersikap? Maka inilah panduan dan kabar gembira ditengah kegelisahan dalam ketakutan ini – untuk Kita semua.

Pertama, karantina sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, maka itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal.

Mengisolasi daerah yang terkena wabah, seluruh negara menjalaninya namun ada negara yang entah dari mana mengambil petunjuknya. Negara tersebut malah menyuruh orang-orang masuk karena dalih ekonomi dan pariwisata. Semoga Allah SWT melindungi semua penduduk negara tersebut.

Kedua, bersabar karena Rasulullah SAW bersabda: “Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang – Allah SWT kehendaki. Kemudian Allah SWT jadikan rahmat kepada kaum mukminin. Maka, tidaklah seorang Hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan baginya, pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Masya Allaa…h. Ternyata mati syahid lah balasannya itu, sesuatu yang didambakan kaum muslimin. Maka, sabar dan tanamkanlah keyakinan itu. Jika takdir Allah menyapa kita, berharaplah mati syahid.

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari). Umar bin Khattab RA berikhtiar menghindarinya serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya.

Keempat, banyak berdoalah dan doa-doa keselamatan itu sudah Kita lafadzkan di setiap pagi dan sore. Salah satunya adalah; “Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul’alim”. (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui).

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Ilustrasi berdoa. Photo; tribunnews.com

“Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x di pagi dan petang maka tidak akan ada bahaya yang memudharatkannya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kelima, sebagaimana solusi dari Amr bin Ash untuk berpencar, menjaga jarak dari keramaian dan menahan diri untuk betah dirumah. Cara inilah yang banyak ditiru dunia luar, mereka menyebutnya social distancing.

Semua solusi itu sudah ada, solusi Langit dan Bumi

Pertama dan kelima, merupakan solusi Bumi. Ikhtiar dengan karantina dan menjaga diri dari keramaian (social distancing) selama ini sudah dilakukan bahkan oleh orang-orang di dunia Barat. Namun Mereka tidak punya solusi Langit yakni bersabar, keyakinan dan berbaik sangka akan ketetapan Allah, berdoa dan bahkan janji akan gelar mati Syahid jika Kita melakukan itu semua.

Semoga kita senantiasa dilindungi Allah SWT dan bertemu kembali ditempat terbaik di SurgaNya. Aamiinn… ya Rabbul ‘alamiinn…..!?

Mari kita sikapi datangnya Pandemi Convid-19 ini secara rasional dan terukur, tidak abai tapi juga tidak lebay. (****)

%d blogger menyukai ini: