30 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Laporan; Misran Ege Putera
Editor; Laode Muhamad Taufiqurrahman Nasiru

timurmerdeka.com – Kolaka. Prosesi pernikahan Herlin Asriani dengan Tahang Palagunawan, S.H (08/03) di desa Lamunde, digelar dalam nuansa adat – suku Moronene Tua Mentaa.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Herlin Asriani dengan Tahang Palagunawan, S.H. Photo; Misran Ege Putera/timurmerdeka.com

Senyum sumringah dan nuasa bahagia terpendar dari wajah mempelai Herlin, puteri dari pasangan bapak Dena dengan ibu Deria, selama prosesi berjalan. Bagaimana tidak, selain kerabat keluarga dan handai taulan yang turut memeriahkan prosesi – sejumlah tokoh adat, baik dari Kabupaten Bombana maupun Kabupaten Kolaka – turut serta dalam acara ini. Bahkan, Kepala desa Lamunde, Agustian dan jajarannya tampak terlibat aktif dalam pelaksanaan prosesi.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Momaani tarian bela diri. Photo; Misran Ege Putera/timurmerdeka.com

Prosesi nikah yang kental dengan tradisional leluhur suku Moronene Tua Mentaa ini dikenal dengan istilah metua momani metiwawa. Sementara penampakan Tua Mentaa adalah bentangan kain putih panjang yang ditingkahi dengan kain warna-warni setelah dikibarkan, dituntun oleh orang banyak dalam formasi arak-arakan.

Tampak juga di gelar Momaani yang merupakan tarian bela diri dalam mengawal kedua mempelai pengantin yang sedang dihantar (Metiwawa) dengan cara dipikul tandu.

Penampakan Tua Mentaa ini merupakan sejumlah kain berwarna yang terbentang sangat panjang diatas kepala peserta arak-arakan yang memiliki makna sebagai berikut:

  1. Tua Mentaa warna kuning bermakna Sangkoleo Pae (padi).
  2. Tua Mentaa warna merah bermakna sebagai lambang kerajaan Moronene biasanya disebut dengan istilah Mokhole.
  3. Tua Mentaa warna putih bermakna sebagai masyarakat atau disebut juga dengan istilah Limbo.
  4. Tua Mentaa berwarna hitam bermakna sebagai Tamalaki atau Pengawal Raja.
  5. Dua tiang bambu dihiasi dengan bunga dan kain didepan Baruga yang ditancapkan 7 hari sebelum pernikahan tiba, merupakan isyarat bahwa acara pernikahan 7 hari kemudian akan diselenggarakan. Itulah sebagian dari makna beberapa simbol adat – suku Moronene.

Dalam prosesi ini diketahui juga, sejumlah Tua Sinodo datang dari luar Kampung diantaranya:

  1. Rombongan Tua Sinodo dari Kecamatan Watubangga dipimpin Bapak Jasip, S.E.
  2. Rombongan Tua Sinodo dari Kecamatan Wundulako dipimpin Bapak Jasmuddin.
  3. Rombongan Tua Sinodo dari Kecamatan Toari dipimpin Bapak Karim.
  4. Rombongan Tua Sinodo Desa Lamunde dipimpin Bapak Sanuddin.

Menjawab timurmerdeka.com, Kades Agustian; “Kami dari pemerintah sangat mengapresiasi dengan pelaksanaan acara ini dengan cara yang benar, sakral. Karena memberi gambaran tersendiri terhadap kebenaran budaya ini.

@ disediakan oleh Bandar Betoambari, Agustian, Kades Lamunde. Photo; Misran Rge Putera/timurmerdeka.com

“Olehnya itu Kami mengharapkan pada waktu mendatang, kepada kita semua agar budaya dan adat istiadat jangan pernah ditidurkan – apalagi ditiadakan”.

Secara terpisah, Tolea Jasip, SE mengatakan; “Dengan terlaksananya prosesi adat ini, Kami selaku pemangku adat yang legal di Kolaka sangat berterima kasih. Partisipasi dan kebersamaan Kita semua yang antusias dan bersinergi merupakan suatu fakta nyata yang sangat membanggakan”.

@ Disediakan oleh Bandar Betoambari, Tolea Jasip SE. Photo; Misran Ege Putera/timurmerdeka.com

“Kebanggaan ini juga Kami sampaikan secara khusus pada keluarga kedua mempelai dan kerukunan keluarga Moronene, baik yang berada di Kolaka maupun keluarga besar Bombana se Sulawesi Tenggara pada umumnya”.(*****)

%d blogger menyukai ini: