1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Polisi Jual Masker Sitaan dari Penimbun ke Warga

Berita ini diberdayakan untuk medcom.id

Oleh; Siti Yona Hukmana

© Siti Yona Hukmana Uang hasil penjualan masker disita sebagai pengganti barang bukti untuk proses peradilan.

Jakarta: Polres Metro Jakarta Utara menjual masker siataan dari hasil penimbunan. Uang hasil penjualan masker disita sebagai pengganti barang bukti untuk proses peradilan.

“Nanti itu akan menjadi tanggung jawab tersangka,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2020.

Polisi menjual masker itu, karena masyarakat membutuhkan di saat merebaknya virus korona (Covid-19). Hal ini diambil untuk menanggulangi kelangkaan masker di pasaran.

“Kita sudah bungkus dalam satu plastik berisi 10 masker dengan harga Rp4.400,” ujar Budhi.

Budhi mempersilakan masyarakat datang ke Polres Metro Jakarta Utara untuk membeli masker. Setiap warga dibatasi hanya diperbolehkan membeli satu plastik berisi 10 masker.

“Biar kebagian yang lain, jangan nanti diborong lagi,” tutur Budhi.

Budhi mengakui menjual barang sitaan melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Namun, ada keadaan mendesak dan polisi mesti melakukan diskresi.

“Tindakan tersebut untuk kepentingan umum masyarakat yang lebih luas. Mudah-mudahan langkah kami bisa dicontoh kepolisian wilayah lain untuk bisa mengambil langkah,” kata Budhi.

Polres Metro Jakarta Utara membongkar penimbunan masker di Pademangan, Jakarta Utara dan pengembangan di Jakarta Pusat. Penyidik menangkap dua tersangka berinisial HK dan TK dan menyita 60 ribu masker.

“Tersangja itu kerjanya sebagai sales dan ibu rumah tangga. Masker yang ditimbun itu kemudian dijual lewat online,” imbuh Budhi.

Kedua tersangka sudah diamankan. Mereka dijerat dijerat Pasal 197 Sub. 196 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

“Ancamannya pidana penjara 5 tahun dan denda Rp2 miliar,” pungkas Budhi.

%d blogger menyukai ini: