9 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Artikel ini dinukilkan dari Erva Kurniawan’s Blog

Assalamu a’alaikum wr. wb.

Sebentar lagi kita akan berada dalam bulan baru, baru dalam pengertian karena bulan itu – lain dengan enam bulan sebelumnya yang telah kita lalui yaitu bulan Rajab, satu dari empat bulan yang dinyatakan sebagai bulan haram.

Dinyatakan sebagai bulan haram yang berarti harus dihormati karena bulan-bulan itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain misalnya hal-hal yang semestinya dihalalkan pada bulan yang lain, pada bulan tersebut diharamkan.

Di antara salah satu keistimewaan yang dimiliki bulan haram tersebut ialah, larangan berbuat kezaliman (aniaya) pada bulan itu.

Dalam al-Qur’an al-Karim, (al-Taubah : 36) disebutkan, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas dan dalam ketetapan Allah di waktu menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”.

Dalam ayat ini jelas sekali, adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram.

Yang dimaksud dengan bulan haram ialah empat bulan seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam hadist shahihnya dari sahabat Abu Bakrah ra, bahwasanya: Nabi saw berkhutbah ketika Hajjatul-wada’. Dalam khutbahnya beliau bersabda;

“Sesungguhnya masa telah berputar seperti sediakala pada hari Allah menciptakan langit dan bumi satu tahun (dua belas bulan). Empat di antaranya bulan-bulan haram (yang dimuliakan).

Yang tiga berturut-turut yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Muharram serta (yang keempat) Rajabnya Mudlar yang diapit oleh Jumada dan Sya’ban”.

Mungkin ada yang bertanya, apakah dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram, berarti pada bulan-bulan selainnya larangan-larangan itu diperbolehkan? Kita jawab, tetap tidak diperbolehkan.

Para ahli tafsir menginterpretasikan aniaya dalam ayat tersebut dengan kemaksiatan, yang berarti pada bulan haram dilarang berbuat mengerjakan hal-hal yang dilarang oleh agama, karena dosanya semakin besar dari pada bulan selainnya.

Demikian ini menandakan bahwa empat bulan terebut mendapat keistimewaan dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan itu, meski sebenarnya berbuat aniaya tetap dihukumi haram sepanjang waktu.

Hal ini untuk menjelaskan bahwa berbuat aniaya pada bulan tersebut lebih besar dosanya dari pada bulan-bulan selainnya.

Dalam kitab al-Asrar al-Muhammadiyyah, disebutkan bahwa, jika Allah SWT senang kepada seorang hambaNya maka akan mempotensikannya pada bulan-bulan yang utama dengan amalan-amalan shaleh dan kebajikan.

Dan jika Dia membencinya, maka Allah akan mencerai-beraikan keinginannya serta mempotensikannya dalam perbuatan yang tidak baik, memperkeras dalam siksaannya, dan lebih-lebih dengan menghalang-halanginya untuk mendapatkan berkah pada waktu-waktu yang utama.

Karena waktu-waktu yang utama merupakan musim berbagai kebajikan dan tempat-tempat yang besar sekali – dimungkinkan mendatangkan laba dan keuntungan yang teramat banyak.

Jika seorang pedagang melalaikan musim perdagangan (pasaran), ia tidak akan beruntung dan jika Dia melalaikan waktu-waktu yang utama maka ia tidak akan sukses.

Menurut Syeikh Isma’il Haqqi al-Barusawi, ulama shufi dan mufassir berkebangsaan Turki pada abad kedua belas hijri;

Allah SWT berhak menentukan sebagian perkara yang serupa (dengan selainnya) dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya.

Seperti Dia memberi hari Jum’at dan hari ‘Arafah dengan suatu kehormatan yang tidak Dia berikan kepada hari-hari yang lain – dengan diberlakukannya ibadah tertentu pada kedua hari tersebut dari pada hari-hari yang lain.

Dia juga memberikan kemuliaan bulan Ramadhan dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan pada bulan-bulan yang lain. Dia juga memberikan sebagian waktu siang dan malam dengan kewajiban melaksanakan shalat yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya.

Dia memberikan kemuliaan pada sebagian tempat-tempat dan negeri-negeri dengan tambahan kemuliaan dan kehormatan seperti negeri haram (tanah haram) dan masjidil-haram.

Dengan demikian maka tidak ada keanehan jika Dia menentukan sebagian bulan dengan tambahan kemuliaan; di mana perbuatan-perbuatan haram pada bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar dan lebih keras daripada ketika dikerjakan di bulan-bulan yang lain.

Pada bulan itu Dia melipatgandakan perbuatan-perbuatan buruk dengan memperbanyak siksaan-siksaanNya serta melipatgandakan amalan-amalan kebajikan dengan memperbanyak pahalanya.

Allah memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu dari pada waktu-waktu yang lain, agar supaya jiwa dan hati hamba-hambaNya berlomba-lomba untuk mengejarnya dan menghormatinya.

Ruh-ruh mereka menjadi rindu untuk menghidupkannya dengan amal shaleh yang berupa ibadah dengan janji-janji keutamaan yang digemarinya.

Menurut beliau, pemberian pahala yang berlipat ganda pada bulan-bulan tersebut semata-mata kemurahan Illahi dan anugerah Rabbani. (Tafsir Ruh al-Bayan III/423).

Di antara keistimewaan bulan-bulan haram dari pada bulan-bulan lainnya ialah disunatkannya untuk berpuasa termasuk bulan Rajab yang akan kita hadapi nanti. Berpuasa pada bulan haram pahalanya lebih besar dari pada bulan-bulan selainnya terkecuali bulan Ramadan.

Al-Imam al-Nawawi dalam Raudlah al-Thalibin (II/254) menyatakan, “Bulan-bulan yang paling utama untuk dipuasai setelah bulan Ramadhan ialah bulan-bulan haram; Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab”.

Menurut al-Imam Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani, dalil yang menunjuk pada kesunatan berpuasa Rajab diambil zhahirnya hadits Usamah yang berbunyi;

“Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadlan”.

“Zhahirnya hadits ini menunjukkan bahwa masyarakat (pada waktu itu) lalai untuk menta’zimi Sya’ban dengan berpuasa sebagaimana mereka menta’zimi Rajab dan Ramadlan”. (Nail al-Awthar Syarh Muntaqa al-Akhbar II/316).

Sedangkan dalil secara khusus yang menunjukkan pada keutamaan beribadah pada bulan Rajab secara khusus menurut al-Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani tidak ada dalil yang shahih yang pantas dijadikan hujjah, sebagaimana yang tertera dalam kitab beliau Tabyin al-‘Ajab bima Warada fi Fadll Rajab.

Di sini mungkin ada yang perlu dijelaskan, bahwa meskipun pada bulan-bulan haram disunatkan melakukan amalan-amalan yang shaleh, pada bulan Rajab tidak boleh melakukan shalat sunat yang disebut dengan shalat ragha’ib karena Shalat ini termasuk jenisnya shalat yang bid’ah.

Dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, al-Malaibari berkata, “Termasuk bid’ah yang tercela dan pelakunya akan mendapatkan dosa serta para penguasa harus melarangnya ialah shalat ragha’ib sebanyak dua belas raka’at pada malam jum’at pertama di bulan Rajab yang waktunya antara shalat maghrib dan ‘isya.

Hadits-haditsnya termasuk hadits palsu, maudlu’ dan bathil – dan jangan tertipu dengan orang yang menyebutkannya”. (I’anah al-Thalibin I/270).

Nah, untuk menjiwai dan menyemangati bulan Rajab ini, kalangan nahdiyin di desa-desa ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban membaca doa yang berupa;

Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighnaa ramadlaan.

Doa ini dibaca oleh Nabi saw ketika memasuki bulan Rajab, seperti diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan lain-lain (baca: Kitab Fadlail Syahr Rajab hal: 45).

Wallahu a’lam bish-shawab,-

***

Penulis: Arland

Editor: Taufiqurrahman Nasiru

%d blogger menyukai ini: