26 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk medcom.id

Oleh: Sunnaholomi Halakrispen

© Sunnaholomi Halakrispen Efek dari teknik penggunaan mengonsumsi vitamin dan suplemen pun berbeda. Apabila kekurangan vitamin, bisa melengkapinya. Akan tetapi, suplemen berkaitan dengan daya tahan tubuh, maka hanya dikonsumsi di saat tertentu.

Jakarta: Suplemen dan vitamin seakan merupakan dua racikan yang dapat menjaga hingga memperkuat daya tahan tubuh. Namun, Prof. dr. Bambang Supriyatno, SpA (K), selaku Konsultan Respirasi Anak di RSCM, menekankan keduanya memiliki perbedaan.

“Bedakan suplemen dan vitamin. Vitamin selama itu B, C, boleh saja. Tapi vitamin A, D, E, dan K mesti berhati-hati, jangan dosis tinggi sebab dikumulasi dalam tubuh. Jika kekurangan akan bahaya, kelebihan juga bahaya,” ujar Prof. Bambang di Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat.

Efek dari teknik penggunaan mengonsumsi vitamin dan suplemen pun berbeda. Apabila kekurangan vitamin, bisa melengkapinya. Akan tetapi, suplemen berkaitan dengan daya tahan tubuh, maka hanya dikonsumsi di saat tertentu.

“Paling bagus ketika kita merasa tidak enak badan atau ketika bepergian jauh. Kelebihan suplemen bisa membuat tubuh menjadi drop,” paparnya.

Lantaran demikian, sebaiknya mengonsumsi suplemen hanya saat tubuh membutuhkan bantuannya. Prof. Bambang menekankan bahwa setiap manusia memiliki daya tahan tubuh sendiri.

“Ketika drop, infeksi masuk penyakit di organ lain masuk. Paling banyak adalah infeksi rentan terhadap virus,” jelasnya.

Sementara itu, dilansir dari WebMD, ada keraguan mengenai efektivitas suplemen maupun vitamin terhadap tubuh. Meskipun banyak menggunakan suplemen, ahli gizi tidak yakin akan membantu meningkatkan kesehatan secara signifikan.

Jennifer Cholewka, spesialis dukungan nutrisi metabolik dan ahli diet terdaftar di Rumah Sakit Mount Sinai, mengatakan bahwa ada sangat sedikit bukti yang menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen oral apa pun secara signifikan meningkatkan kesehatan. Masih belum bisa dipastikan apakah vitamin itu efektif.

“Jika Anda makan makanan seimbang dan menjalani gaya hidup yang relatif sehat, Anda tidak perlu multivitamin. Sebab yang terbaik adalah mendapatkan nutrisi sebanyak mungkin dari makanan. Ini bukan perbaikan yang bisa berlangsung secara instan atau cepat,” paparnya.

Cholewka menjelaskan, akan lebih efektif mengeluarkan uang untuk mendaftarkan diri dalam keanggotaan gym untuk berolahraga atau membeli bahan makanan sehat. Alih-alih mengeluarkan kocek untuk membeli banyak suplemen atau multivitamin.

“Jika seorang pasien datang untuk menemui ahli gizi, pertama-tama kita akan membahas makan lebih banyak makanan utuh, makan lebih sehat, menjalankan lebih banyak kebiasaan pola hidup sehat seumur hidup mereka,” akunya.

%d blogger menyukai ini: