29 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Badan Usaha Milik Negara Yang Primitif

Oleh: Eddy Boekoesoe

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menguasai 8.000 triliun uang rakyat. Bila sehat setiap BUMN menghasilkan laba 5% maka akan ada pemasukan buat negara sebanyak 400 triliun, belum terhitung pajak dari hasil kegiatan dan efek ekonomi lainnya.

Kalau pengelolaan BUMN ini baik, segala kesulitan ekonomi negeri beres. Itu berarti BUMN merupakan alat utama dan terutama dalam pencapaian kemakmuran bangsa besar ini.

Mengapa itu belum termanfaatkan?

Jawabannya karena pemegang harta terbesar rakyat ini belum moderen karena kita tidak tahu perbedaan antara cara pengelolaan primitif dan cara pengelolaan moderen.

Revolusi Industri membuat sebuah perbaikan yang sangat berarti bagi perkembangan industri dunia tapi tidak dihitung sebagai tahapan yang konon sudah berada pada tahap 4.0 dan sebentar lagi katanya akan naik kelas ke tahap 5.

Pada akhir abad XIX para aktivis revolusi industri yang dikomandani Amerika Serikat mengalami kerugian besar karena besarnya kegagalan dalam berproduksi akibat afkir yang besar. Ternyata hal itu disebabkan CARA PENGELOLAAN industri yang belum direvolusi atau masih primitif.

Berkat para montir di pabrik raksasa Amerika, ditemukan cara baru dalam pengelolaan industri yang bernama SCIENTIFIC INDUSTRIAL MANAGEMENT pada tahun 1913 yang ternyata berbentuk KETRAMPILAN, dan bisa berkembang didalam pabrik moderen sebagai tool dalam pelaksanaan industri moderen.

Bangsa Indonesia tidak memiliki ketrampilan scientific industrial management karena – belum pernah memiliki pabrik moderen sendiri. Ini juga yang menyebabkan BUMN sebagai pemegang harta rakyat terbesar menjadi tidak efisien bahkan KACAU BALAU.

Itulah sebabnya kepada Presiden disarankan untuk memoderenkan pengelolaan BUMN dengan menggunakan konsultan ahli untuk membuat BUMN bisa berlaku moderen dan insya Allah bisa jadi Rahmat bagi bangsa besar yang akan jadi bangsa maju tahun 2045. Merdekaa…!!!?

%d blogger menyukai ini: