8 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Terungkap, China Sempat Tutupi Bahaya Virus Corona

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Oleh: Denny Armandhanu


© Disediakan oleh Kumparan Petugas medis membawa seorang pasien yang diduga terkena virus Wuhan ke rumah sakit Jinyintan, China. Foto: AFP/STR

Pemerintah China dianggap telat mendeteksi bahaya virus corona yang saat ini telah menewaskan lebih dari 300 orang. Hal ini terjadi karena China mencoba menutupi wabah virus corona di awal perkembangan wabah di Wuhan, bahkan menindak dokter yang mencoba memperingatkan bahayanya.

Hal ini terungkap dalam hasil penyelidikan media Amerika Serikat, New York Times (NYT), Sabtu (2/1). NYT telah mewawancarai warga, pejabat, dan pekerja medis di Wuhan.

Dari hasil penyelidikan, diketahui Dokter Mata Li Wenliang telah memperingatkan koleganya soal virus misterius melalui grup chat pada 30 Desember 2019. Ketika itu Li mengatakan ada tujuh pasien yang “dikarantina di unit gawat darurat” rumah sakit kota Wuhan karena penyakit pernapasan misterius.


© Disediakan oleh Kumparan Pandangan umum di luar pusat perbelanjaan kota Wuhan, Sabtu (25/1). Foto: Jovis and Marissa/via REUTERS

Peringatan dari Li yang tersebar keluar grup memicu ketakutan di antara pekerja medis. “Menakutkan sekali,” ujar seorang anggota grup. “Apakah SARS datang lagi?” ujar seorang lainnya, merujuk pada wabah yang menewaskan hampir 800 orang pada 2002.

Pada tengah malam setelah percakapan tersebut, Li dicokok oleh pejabat kesehatan Wuhan. Mereka menginterogasi Li, soal mengapa dia menyebarkan berita itu. Tiga hari kemudian, polisi memaksa Li menandatangani surat pengakuan, bahwa kabar yang disebarkannya adalah “tindakan ilegal”.

Pada 10 Januari, Li kembali praktik dan menangani pasien wanita penderita glaukoma. Wanita tersebut ternyata telah terinfeksi virus corona, diduga tertular dari putrinya. Dari wanita ini, Li akhirnya juga menderita virus corona.


© Disediakan oleh Kumparan Foto udara di kawasan perumahan dan komersial Wuhan di provinsi Hubei. Foto: Hector Retamal / AFP

Pada akhir Desember atau awal mula penyebaran virus corona, NYT melaporkan, pemerintah China membungkam para dokter dan pekerja medis agar tidak menyebarkan berita wabah virus corona. Bahkan delapan orang ditangkap di Wuhan karena tuduhan menyebar rumor.

Pemerintah Wuhan baru mengeluarkan pernyataan ketika sudah ada 27 orang yang mengidap pneumonia akibat virus yang kala itu masih misterius. Menurut mereka, masyarakat tidak perlu khawatir.

“Penyakit ini bisa dicegah dan bisa dikendalikan,” ujar pernyataan kota Wuhan.


© Disediakan oleh Kumparan Petugas menggunakan ‘Thermal Scanner’ memeriksa pengemudi di gerbang tol di Wuhan di Provinsi Hubei, China. Foto: Chinatopix via AP

Karena tiada peringatan dari pemerintah, warga Wuhan santai saja. Salah satunya adalah Dong Guanghe yang menderita virus corona pada 8 Januari lalu. Dia sempat diperiksa karena demam, namun dipulangkan dari rumah sakit.

Keluarga Dong tetap tenang dan tidak memakai pelindung diri. Lalu 10 hari kemudian, istri Dong juga tertular virus corona.

“Tidak ada berita soal parahnya wabah ini. Saya mengira ayah saya hanya demam biasa,” kata putri Dong, Mingjing, kepada NYT.

Pemerintah China menganggap enteng virus ini, sehingga tidak memperingatkan bahayanya kepada masyarakat. China memang menutup pasar hewan di Wuhan yang jadi sumber penyebaran virus, namun awalnya mereka mengatakan hal itu untuk renovasi.


© Disediakan oleh Kumparan Tim Tanggap Darurat Hygiene Wuhan melakukan identifikasi di Pasar Makanan Laut Haunan lokasi terdeksi Virus Corona di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/NOEL CELIS

Menurut sumber NYT, upaya China menutupi penyebaran virus karena alasan politis. Pasalnya, pada Januari 2020 Partai Komunis China akan melakukan Kongres tahunan. Kongres ini adalah ajang penting bagi Partai Komunis China untuk menyampaikan program pemerintah ke depan.

Baru pada 20 Januari, pemerintah China serius menangani virus. Mereka mengeluarkan imbauan bagi warga, hingga mengisolasi kota Wuhan dan kota-kota lainnya di provinsi Hubei. Tapi semuanya sudah terlambat, virus terlanjur menyebar.

Para ahli mengatakan, jika saja sejak awal China mengungkapkan bahayanya, maka angka penularan virus bisa ditekan. Seharusnya sejak awal 11 juta warga Wuhan bisa mengantisipasi penularan, dengan memakai pelindung diri atau menghindari keramaian.


© Disediakan oleh Kumparan Pejalan kaki memakai masker saat mereka berjalan di luar hotel New Orient Landmark di Makau, China. Foto: AFP/Anthony WALLACE

“Ini masalahnya adalah tidak adanya tindakan. Tidak ada tindakan di Wuhan dari departemen kesehatan setempat untuk memperingatkan masyarakat,” ujar Yanzhong Huang, peneliti kesehatan global di lembaga think tank Council on Foreign Relations.

Per Minggu (2/2), sudah 305 orang meninggal dunia akibat virus corona di China. Di China dan berbagai negara, penderita telah mencapai lebih dari 14.500 orang.

Berbagai negara, termasuk Indonesia, telah menarik pulang warga negara mereka dari provinsi Hubei. Pusat-pusat karantina didirikan untuk mereka tinggal selama 14 hari setibanya di tanah air.

%d blogger menyukai ini: