30 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Ini Permintaan Siswi SD di Wakatobi pada Jokowi, “Bapak Presiden Tolong Bantu Saya Ikut Ujian”

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh: Khairina


© Disediakan oleh Kompas.com Sherly (kanan) dan kepala sekolah SDN 3 Pongo, Abdul Manaf. Sherly yang merupakan siswi SDN 3 Pongo terancam tidak dapat mengikuti UN karena tidak terdaftar di Dapodik.

WAKATOBI, KOMPAS.com – Sherly, seorang siswi kelas VI Sekolah Dasar Ngeri 3 Pongo, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, meminta bantuan kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo agar dapat mengikuti Ujian Nasional (UN) sekolah dasar di Tahun 2020.

Sherly yang berasal dari Papua terancam tidak dapat mengikuti UN Sekolah Dasar karena tidak terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) akibat tidak mempunyai identitas diri dari sekolah asal di Papua.

Saat ditemui sejumlah media di sekolahnya di SDN 3 Pongo, Sherly terlihat malu-malu dan tidak banyak mengeluarkan kata-kata.

Saat ditanya, ia hanya ingin mengikuti ujian, bersama teman-temannya yang lain.

“Saya mau ingin sekolah. Bapak Presiden tolong bantu saya untuk ikut ujian, saya mau ingin sekolah, tolong saya,” kata Sherly, Kamis (23/1/2020).

Sherly yang punya nama lengkap Sherly Yolanda Since Tamakaimu lahir di Kampung Baru Distrik Obaa, Kabupaten Mappi, Papua, tahun 2007.

Pada tahun 2018 lalu, ia pindah ke Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ikut bersama orangtua angkatnya, La Bae dan Sulistia.

Ia pun melanjutkan sekolahnya di SDN 3 Pongo sebagai siswi titipan karena tidak punya surat perpindahan dari sekolah asal.

Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar tinggal tiga bulan lagi, namun Sherly terancam tidak bisa ikut UN karena tidak terdaftar di Dapodik.

Orangtua angkat Sherly, Sulistia (34), sangat mengharapkan bantuan dari pihak sekolah dan pemda, agar anak angkatnya bisa mengikui UN.

Ia berusaha menghubungi orangtua kandung Sherly di Papua, namun terkendala jaringan telepon.

“Kami kesulitan menghubungi orangtuanya karena jaringan, kecuali mereka yang menelpon menghubungi kami. Kita tanyakan Akte Kelahirannya, Kartu Keluarga, mereka tidak tahu dan juga belum mengerti,” ungkap Sulistia.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 3 Pongo, Abdul Maafi, mengatakan, awalnya pihak sekolah hanya ingin menolong Sherly agar bisa melanjutkan pendidikan walau sepabagai siswa titipan.

“Kendalanya ini, belum terdaftar di peserta UN tahun pelajaran 2019-2020. Solusinya, harus terdaftar sebagai peserta UN,” ujar Abdul Maafi.

Menurut Abdul Maafi, pihak sekolah sedang berupaya untuk membantu Sherly. Demikian juga dengan Dinas Pendidikan Wakatobi.

“Upaya sejauh ini, data-data yang ada ini harus dilengkapi. Kami juga sudah konfirmasikan kepada pihak asal usul sekolah Sherly, kita sudah ambil datanya dan pihak sekolah sudah hubungi kabupaten, kita sedang menunggu,” ucapnya.

Kendala yang dihadapi Sherly ini dituliskan oleh seorang warga di Wakatobi, Saleh Hanan, dengan membuat surat putih kepada Presiden Joko Widodo tentang keinginan Sherly untuk mengikuti ujian dan melanjutkan pendidikannya.

“Tak ada data tentang dirinya dari sekolah asal di Papua. Tak punya akte kelahiran dan kartu keluarga. Sekolah yang sudah 2 tahun mendidik Sherly di Wakatobi sedang kesulitan menolongnya. Guru-guru, kepala sekolah, tak kuasa berhadapan dengan teknologi Dapodik,” tulis Saleh Hanan dalam surat terbukanya.

Dalam surat tersebut tersebut, Saleh juga menuliskan orangtua angkat tidak bisa mengurus administrasi kependudukan untuk Sherly.

Kantor Catatan Sipil juga tidak punya pilihan menghadapai perangkat data kependudukan.

%d blogger menyukai ini: