24 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Buntut Skandal Jiwasraya, Erick Thohir Ultimatum Perusahaan BUMN

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co

Oleh: Tempo.co

Tempo.Co, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberi dua peringatan kepada semua BUMN. Peringatan ini diberikan setelah adanya dugaan rekayasa akuntansi atau window dressing dalam skandal gagal bayar atau default Rp 12,4 triliun di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

“Saya gak mau revaluasi aset di BUMN langsung perusahaannya jadi untung, padahal nggak ada cash-nya,” kata Erick Thohir saat ditemui usai bertemu pada duta besar di Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020.

Selain itu, Erick Thohir juga tak mau BUMN menerbitkan utang baru, lalu diinvestasikan di proyek yang tidak feasible atau layak. Erick Thohir memerintahkan anak buahnya di Deputi Usaha Jasa Keuangan untuk memantau lebih detail laporan keuangan semua BUMN. “Agar tidak ada lagi laporan keuangan sulap-sulapan,” kata Erick

Sehari sebelumnya, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna mengatakan permasalahan di tubuh perusahaan Jiwasraya terjadi sejak lama. Bahkan Agung menyebut meski perseroan sejak 2006 masih membukukan laba, namun keuntungan tersebut diduga laba semu.

“Sebagai akibat dari rekayasa akuntansi atau window dressing, di mana perusahaan sebenarnya sudah alami kerugian,” ujar Agung di Kantor BPK, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020. Kesimpulan itu adalah salah satu resume hasil pemeriksaan investigasi pendahuluan pada 2018.

Tak hanya laporan keuangan BUMN, pemerintah juga akan mengevaluasi Kantor Akuntan Publik (KAP) yang terlibat dalam window dressing ini. Namun, kata Erick, evaluasi akan dilakukan oleh kementerian lain, bukan Kementerian BUMN.

Di sisi lain, Erick Thohir memastikan bahwa nasabah Jiwasraya akan mendapatkan kepastian mengenai dana mereka. Pemerintah, kata dia, pasti akan mencarikan solusi untuk para nasabah. “Kami sedang kerja sama dengan banyak pihak, jadi bukan lempar masalah,” ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan membentuk holding asuransi. Nantinya, holding ini melahirkan dana cashflow Rp 1,5-2 triliun untuk membantu Jiwasraya. Kemudian, aset-aset saham di Jiwasraya kemungkinan bisa akan dilepas. “Intinya jangan sampai nasabah ini dirugikan,” kata dia.

%d blogger menyukai ini: