3 Desember 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Garuda Indonesia Cari Pendanaan Rp 12,6 T untuk Bayar Utang

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Oleh: Feby Dwi Sutianto

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA berencana mencari pendanaan senilai USD 900 juta atau setara Rp 12,6 triliun (kurs Rp 14 ribu). Perseroan akan menggunakan dana itu untuk membayar utang jatuh tempo.

Mengutip keterbukaan informasi perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), rincian utang yang jatuh tempo dalam satu tahun senilai USD 1,63 miliar dan utang jatuh tempo di atas satu tahun senilai USD 77 juta. Perusahaan pun menyampaikan ada tiga opsi pendanaan yang akan dilakukan.


© Disediakan oleh Kumparan

Pertama, Garuda Indonesia berencana merilis global sukuk senilai USD 750 juta. Jatuh tempo pembayaran utang dalam opsi ini pada tahun 2024 mendatang.

Jika perusahaan mengambil opsi yang ini, kupon akan dibayarkan kepada investor tiap enam bulan sekali. Hanya saja, tingkat kupon masih dalam proses negosiasi.

“Rencana penggunaan dananya untuk pembiayaan kembali atas Global Sukuk perseroan yang diterbitkan pada tahun 2015 dan akan jatuh tempo pada bulan Juni 2020 atau atas sebagian utang keuangan yang jatuh tempo dalam satu tahun,” demikian ditulis Garuda Indonesia dikutip kumparan, Rabu (18/12).

Kedua, perusahaan berencana mencari pendanaan lewat private placement obligasi senilai USD 750 juta. Instrumen ini akan jatuh tempo selambat-lambatnya pada 2024.


© Disediakan oleh Kumparan Pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-900 Neo. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Untuk tingkat suku bunga, masih sedang dalam proses negosiasi dan akan diumumkan kepada masyarakat paling kurang dalam satu surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional paling lambat 2 hari kerja setelah diterbitkannya pendanaan private placement.

“Rencana penggunaan dana untuk pembiayaan kembali atas sebagian utang keuangan yang jatuh tempo dalam satu tahun. Bunga akan dibayarkan setiap tiga bulan atau enam bulan,” tulis dalam keterangan tersebut.

Ketiga, Garuda Indonesia akan menggunakan skema peer to peer lending dengan nilai USD 500 juta. Perusahaan akan membayar bunga setiap tiga bulan sekali. Adapun rencana penggunaan dana untuk pembiayaan kembali atas sebagian utang yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Masih dalam keterbukaan informasi BEI, perusahaan telah meminta restu pemegang saham dalam merealisasikan rencananya mencari pendanaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rencananya, Garuda Indonesia bakal menggelar RUPSLB pada 22 Januari 2019 mendatang.

Direktur Keuangan yang merangkap Pelaksana Tugas Direktur Utama Garuda Indonesia Fuad Rizal mengaku belum tahu mana opsi yang bakal diambil dari tiga cara yang disodorkan. “Masih proses,” katanya dikonfirmasi kumparan.

%d blogger menyukai ini: